Javas Corner - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang kembali meningkat sejak Jumat (4/9/2026) memicu kekhawatiran banyak pihak. Rentetan erupsi yang berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari mengingatkan publik pada sejarah kelam letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang dampaknya dirasakan hampir seluruh dunia.
Meski aktivitas vulkanik kembali meningkat, Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan potensi ancaman tsunami sejauh ini masih dalam batas aman. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilowati, menyatakan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi besar Desember 2018 masih relatif kecil.
"Pertumbuhan tubuh gunung api saat ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ungkap Rita dalam konferensi pers online, Sabtu (5/9/2026).
Sebagai pengingat, tsunami pada 22 Desember 2018 terjadi akibat longsoran besar sebagian tubuh gunung api ke laut yang dipicu rangkaian erupsi. Longsoran tersebut memindahkan massa air secara masif dan menerjang pesisir Banten serta Lampung. Setelah bencana itu, Anak Krakatau mengalami erupsi berskala rendah secara berkepanjangan hingga 16 Desember 2023 sebagai bagian dari proses pertumbuhan kembali tubuh gunung api.
Aktivitas erupsi kembali mengalami eskalasi pada 2 Juli 2026, yang membuat statusnya dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga.
Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, turut menyoroti insiden erupsi ini. Dalam unggahan di akun X pribadinya, Erma mengingatkan bahwa letusan Krakatau pada 1883 pernah menjadi mimpi buruk bagi seluruh dunia.
"Krakatau itu pernah jadi mimpi buruk dunia. Ketika Krakatau meletus tahun 1883, hampir seluruh dunia merasakan imbasnya. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin. Itulah mengapa letusan Anak Krakatau atau Krakatoa ini sudah pasti jadi perhatian dunia," tulis Erma.
Berdasarkan pengamatan satelit hingga Sabtu malam pukul 18.12 WIB, Erma menjelaskan bahwa letusan piroklastik masih terjadi dan bergerak ke arah barat sepanjang 851 kilometer. Letusan tersebut membentuk awan pirocumulus, yaitu awan debu panas yang mengandung sulfur oksida. Pulau Enggano termasuk wilayah yang dilingkupi awan tersebut.
"Berdasarkan simulasi, letusan membentuk kolom yang tinggi, dengan estimasi tinggi 13-14 km, menyentuh ketinggian tropopause. Pada waktu-waktu tertentu, ketika terbentuk angin laut yang kuat dan tekanan rendah di Banten, awan piro bisa saja menuju ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya," lanjut Erma.
Letusan Krakatau 1883 memang tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik paling dahsyat dalam sejarah manusia. Suara letusannya terdengar hingga radius 4.500 kilometer dan abu vulkaniknya mengelilingi bumi selama bertahun-tahun, menyebabkan perubahan iklim global serta fenomena langit senja berwarna merah darah di berbagai belahan dunia.
Sejarah tersebut menjadi alasan mengapa setiap aktivitas Anak Krakatau selalu mendapat perhatian dunia internasional. Meski saat ini potensi tsunami dinilai kecil, kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi dinamika gunung api yang tidak pernah benar-benar tidur.
#Krakatau #Erupsi #BencanaAlam #Tsunami #AktivitasVulkanik #SejarahLetusan #GunungAnakKrakatau #MitigasiBencana #BRIN #PerubahanIklim