Kultum Ramadan 1447H di Kanwil Kementerian Agama DIY mengangkat tema "Refleksi Nuzulul Quran" yang disampaikan oleh Dr. H. Nur Ahmad Ghojali. Acara ini berlangsung di Musholla Al-Ikhlas pada Kamis, 5 Maret 2026, sebagai bagian dari siraman rohani bulan suci. Kultum Ramadan Nuzulul Quran ini mengajak jamaah memahami makna turunnya Al-Quran sebagai pedoman hidup yang relevan hingga kini.
Dalam tausiyahnya, Ghojali menjelaskan bahwa peristiwa Nuzulul Quran tidak terlepas dari kondisi spiritual Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi rasul. Nabi sering menyendiri di Gua Hira untuk bertafakkur, merenungi keadaan masyarakat Makkah yang saat itu berada dalam masa jahiliyah. Masyarakat kala itu ditandai dengan penyembahan berhala, ketimpangan sosial, dan kerusakan moral yang mendalam.
Daftar Isi
Wahyu Pertama dan Revolusi Spiritual
Pada suatu malam di Gua Hira, Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW dengan perintah "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq". Peristiwa ini terjadi saat Nabi berusia 40 tahun, usia yang dianggap matang secara spiritual dan psikologis. Wahyu pertama tersebut menjadi titik awal revolusi spiritual dan intelektual yang mengubah masyarakat Arab bahkan dunia.
Ghojali menekankan bahwa turunnya wahyu pertama membuat Nabi merasa terkejut dan cemas. Setelah peristiwa itu, Nabi pulang dan meminta diselimuti oleh istrinya, Khadijah, yang memberikan dukungan moral. Khadijah kemudian membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal yang membenarkan bahwa peristiwa tersebut adalah wahyu dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.
Peran Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Wahyu pertama menunjukkan bahwa Islam menempatkan ilmu pengetahuan dan literasi sebagai fondasi utama peradaban. Perintah "Iqra" atau "bacalah" mengajarkan pentingnya membaca dan belajar dalam membangun peradaban yang maju. Kultum Ramadan Nuzulul Quran ini mengingatkan bahwa Al-Quran diturunkan secara bertahap selama sekitar 23 tahun sebagai pedoman hidup yang komprehensif.
Makna Nuzulul Quran bagi Kehidupan
Ghojali menjelaskan bahwa Al-Quran tidak hanya untuk dibaca, tetapi harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengutip sebuah hadis Nabi yang menggambarkan empat perumpamaan manusia dalam hubungannya dengan Al-Quran. Pertama, orang yang membaca dan mengamalkan Al-Quran diibaratkan seperti buah utrujjah yang harum dan manis.
Kedua, orang yang tidak membaca Al-Quran tetapi berperilaku baik diibaratkan seperti kurma yang manis tanpa aroma. Ketiga, orang yang membaca tetapi tidak mengamalkannya diibaratkan seperti buah harum namun pahit. Keempat, orang yang tidak membaca dan tidak mengamalkan diibaratkan seperti buah pahit tanpa aroma.
Refleksi Diri di Bulan Ramadan
Momentum Nuzulul Quran di bulan Ramadan menjadi sarana refleksi diri untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Quran. Jamaah diajak untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupan. Refleksi ini penting untuk membentuk karakter manusia yang berakhlak mulia dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Relevansi di Era Digital
Di era digital seperti sekarang, tantangan umat dalam berinteraksi dengan Al-Quran semakin besar. Ghojali menekankan bahwa Al-Quran harus terus ditransformasikan nilainya dalam kehidupan modern. Nilai-nilai Al-Quran perlu dijadikan pedoman dalam bersikap dan bermasyarakat, tidak hanya sekadar dibaca tanpa pemahaman mendalam.
Kultum Ramadan 1447H ini ditutup dengan pembagian doorprize kepada jamaah yang beruntung. Acara yang diselenggarakan Kemenag DIY ini menunjukkan komitmen dalam memberikan layanan spiritual yang optimal, termasuk kepada kelompok rentan. Prinsip "leave no one behind" diusung untuk mewujudkan pembangunan zona integritas menuju WBK/WBBM.
Dengan memahami refleksi Nuzulul Quran, umat Islam dapat mengambil hikmah dari turunnya wahyu pertama sebagai momentum perubahan peradaban. Al-Quran tetap relevan sebagai pedoman hidup yang membawa kedamaian dan kemajuan, baik di masa lalu maupun di era digital saat ini.