JAVASCORNER.CO.ID, DEPOK - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok, sebuah lapak buku sederhana bertahan sebagai ruang literasi tradisional bagi mahasiswa. Kios berukuran 4x2 meter ini menjadi oasis di tengah dominasi e-book dan budaya membaca digital, menyimpan ribuan buku dari berbagai disiplin ilmu.
- Sejarah dan Perjalanan Lapak
- Koleksi dan Sistem Penjualan
- Perubahan Pasar Buku
- Makna di Balik Tumpukan Buku
Sejarah dan Perjalanan Lapak
Lapak yang dikenal sebagai Toko Buku Mail Pocin bukan usaha baru. Marita (46), pemilik lapak, memulai usahanya sejak 2006 di kawasan Stasiun UI. Saat itu, lapak-lapak buku tumbuh subur di pinggiran rel kereta.
Mahasiswa Universitas Indonesia ramai berdatangan dengan daftar bacaan semesteran. Mereka menawar harga dan pulang membawa buku tebal untuk bekal kuliah. Suasana itu berubah ketika penertiban dilakukan di kawasan pinggiran rel.
Relokasi ke Pondok Cina
Marita pindah ke Pondok Cina pada 2011. Lapaknya mulai ramai sekitar tahun berikutnya. Saat itu, budaya membeli buku fisik masih kuat di kalangan mahasiswa.
"Kalau di sini dari 2011. Dulu saya jualan di Stasiun UI," kenang Marita saat ditemui Rabu (15/4/2026).
Kawasan Pondok Cina dulu memiliki beberapa pedagang buku dalam radius dekat stasiun. Namun satu per satu mereka menghilang. Ada yang kembali ke UI, ada pula yang tutup permanen.
Koleksi dan Sistem Penjualan
Meski ukurannya kecil, lapak Marita menyimpan ribuan eksemplar buku. Tumpukan buku memenuhi hampir seluruh ruang berukuran 4x2 meter itu.
Variasi Koleksi
Koleksi buku di lapak ini sangat beragam:
- Buku hukum, teknik, psikologi, dan komunikasi
- Ilmu sosial dan ekonomi
- Novel dan kamus
- Buku pengembangan diri
- Terbitan lama yang jarang ditemui di toko modern
"Ribuan. Yang paling lama itu dari awal saya buka, 2006," ujar Marita tentang koleksi tertuanya.
Sistem Penyimpanan
Kios kecil itu bukan satu-satunya tempat penyimpanan. Marita mengaku jumlah buku di rumahnya jauh lebih banyak karena kios tak lagi mampu menampung.
"Di rumah lebih banyak. Bisa tiga ruko kalau ditumpuk," katanya. Sistem jualannya mencampur buku baru dan bekas untuk memenuhi berbagai kebutuhan mahasiswa.
Perubahan Pasar Buku
Jenis buku yang dijual Marita mengalami transformasi mengikuti perubahan zaman dan kurikulum pendidikan.
Buku Sekolah yang Menghilang
Dulu, buku SMP dan SMA mendominasi lapak. Kini, stok buku sekolah lebih jarang terlihat. Penyebab utamanya adalah perubahan kurikulum yang terlalu cepat.
"Sekarang buku SMP-SMA udah enggak saya taruh di sini karena tempatnya enggak memadai. Saya simpan di rumah," jelas Marita.
Ia menilai buku sekolah tidak lagi menjanjikan karena cepat tidak relevan. "Karena program pemerintah, kurikulum sering ganti. Jadi bukunya cepat enggak kepakai."
Buku Kuliah yang Tetap Dicari
Sebaliknya, buku kuliah masih memiliki pasar stabil. Beberapa bidang ilmu seperti hukum, teknik, dan psikologi tidak banyak berubah. Buku edisi lama masih relevan dipakai lintas angkatan.
Bidang yang sering berganti edisi adalah ekonomi dan akuntansi. Mahasiswa jurusan ini kerap mencari versi terbaru karena materi terus diperbarui.
"Ekonomi sama akuntansi. Mereka sering ganti edisi," kata Marita.
Makna di Balik Tumpukan Buku
Lapak buku Pondok Cina bukan sekadar tempat jual-beli. Tempat ini telah menjadi ruang nostalgia dan pengalaman berburu yang unik bagi mahasiswa Depok.
Pengalaman Berburu Buku
Di tengah kawasan yang kini dipenuhi apartemen, kafe, dan toko buku modern, lapak Marita menawarkan pengalaman berbeda. Tidak ada pendingin ruangan atau rak tertata rapi.
Yang ditawarkan adalah sensasi berburu di antara tumpukan buku acak, harga terjangkau, dan kemungkinan menemukan judul tak terduga. Mahasiswa sering datang dengan catatan di ponsel, lalu jongkok berlama-lama di lorong sempit.
Ruang Interaksi Sosial
Suara halaman dibalik, bunyi plastik pembungkus, atau percakapan kecil antarteman menjadi pemandangan biasa. Lapak ini berfungsi sebagai ruang interaksi sosial informal di luar kampus.
Bagi Marita, buku-buku itu bukan sekadar barang dagangan. Ia merawatnya seperti menyimpan arsip, meski sebagian sudah rapuh dimakan usia. Setiap buku yang terjual bukan hanya transaksi ekonomi, tetapi juga transfer pengetahuan antar generasi mahasiswa.
Lapak buku Pondok Cina terus bertahan sebagai bukti bahwa kebutuhan akan buku fisik dan pengalaman membaca tradisional belum sepenuhnya tergantikan. Di era serba digital, tempat seperti ini mengingatkan pentingnya menjaga ruang literasi yang manusiawi dan mudah diakses semua kalangan.