JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Idulfitri di Iran, negara dengan mayoritas penganut Syiah, menampilkan tradisi unik yang berbeda dari perayaan di negara-negara mayoritas Sunni. Meski esensi ibadahnya sama—merayakan kemenangan setelah puasa Ramadan—praktik dan tradisinya memiliki kekhasan tersendiri. Artikel ini mengulas tata cara puasa, perayaan Lebaran, serta perbedaan utama dengan tradisi Sunni.
- Penetapan Waktu Puasa dan Lebaran
- Tata Cara Puasa Ramadan
- Tradisi Perayaan Idulfitri
- Perbedaan dengan Tradisi Sunni
- Kondisi Umat Sunni di Iran
Penetapan Waktu Puasa dan Lebaran
Metode menentukan awal Ramadan dan Idulfitri menjadi pembeda mendasar antara komunitas Syiah di Iran dan mayoritas Sunni. Di Iran, penetapan 1 Ramadan dan 1 Syawal didasarkan pada pengamatan hilal (rukyatul hilal) oleh otoritas keagamaan tertinggi.
Otoritas Marja dan Keputusan 2026
Keputusan ini mengikuti fatwa Marja' (ulama besar), yang dalam konteks Syiah Iran adalah Pemimpin Tertinggi (Rahbar). Saat ini, posisi tersebut dipegang oleh Ayatollah Mojtaba Khamenei, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Pada tahun 2026, Iran menetapkan Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Hari terakhir puasa adalah Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah pengamatan hilal menunjukkan bulan sabit tidak terlihat, sehingga Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.
Keputusan Iran juga diikuti oleh Irak, di mana otoritas keagamaan Syiah tertinggi, Ayatollah Ali al-Sistani, mengumumkan penetapan serupa. Tahun ini, Lebaran di Iran bertepatan dengan Nowruz, perayaan Tahun Baru Persia yang jatuh pada ekuinoks musim semi.
Perbandingan Metode Penetapan
Perbedaan penetapan sering mengakibatkan waktu perayaan yang tidak selalu sama. Berikut perbandingan metode utama:
- Iran (Syiah): Rukyatul hilal dengan otoritas Marja', mengikuti fatwa pemimpin tertinggi.
- Arab Saudi (Sunni): Hisab astronomi (Kalender Umm al-Qura), berbasis perhitungan tanpa menunggu pengamatan visual setiap bulan.
- Muhammadiyah (Indonesia): Hisab hakiki kontemporer (KHGT), ditetapkan jauh hari berdasarkan perhitungan astronomi global.
- Pemerintah RI & NU: Rukyatul hilal plus sidang isbat, menggabungkan pengamatan visual dan perhitungan, keputusan diumumkan menjelang hari H.
Pada tahun 2026, perbedaan ini tampak jelas. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, sementara Pemerintah RI dan Iran menetapkan Sabtu, 21 Maret 2026.
Perbedaan ini terjadi dalam ranah ijtihad yang sah, bukan pertentangan akidah. Hal ini muncul dari perbedaan metode dalam memaknai sabda Nabi "Berpuasalah karena melihat hilal dan berhari rayalah karena melihatnya" (HR Bukhari).
Tata Cara Puasa Ramadan
Secara fundamental, rukun puasa Ramadan di Iran sama dengan yang dijalankan umat Islam di seluruh dunia: menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, beberapa perbedaan praktis dapat ditemukan.
Waktu Niat dan Imsak
Di Iran yang mayoritas Syiah, waktu imsak umumnya 15 menit sebelum salat Subuh. Praktik ini mengacu pada pendapat bahwa memasukkan sesuatu ke dalam tenggorokan setelah fajar terbit dapat membatalkan puasa, sehingga diperlukan jeda aman.
Sementara di kalangan Sunni yang mengikuti mazhab Syafi'i (mayoritas Indonesia), waktu imsak biasanya 10 menit sebelum Subuh, dengan patokan azan Subuh.
Terkait niat puasa, mazhab Syiah (Ja'fari) mewajibkan niat dilakukan setiap malam. Pendapat ini sejalan dengan mayoritas ulama Sunni (Hanafi, Syafi'i, Hambali) yang mewajibkan memperbarui niat setiap hari. Sementara mazhab Maliki (Sunni) membolehkan niat sekali di awal bulan.
Doa Buka Puasa
Perbedaan juga terdapat pada doa buka puasa yang umum dibaca. Masyarakat Sunni di Indonesia akrab dengan doa "Allahumma laka shumtu...", sementara di Iran, doa yang lebih populer adalah "Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika aftartu..." yang juga bersumber dari riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
Tradisi Perayaan Idulfitri
Meskipun dikenal kurang semarak dibandingkan dengan Indonesia atau negara-negara Timur Tengah lainnya, perayaan Idulfitri di Iran memiliki kekhasan tersendiri.
Puncak Perayaan
Setelah menjalankan salat Id secara berjamaah di masjid atau lapangan terbuka, perayaan dilanjutkan dengan tiga aktivitas utama:
- Silaturahmi keluarga mengunjungi kerabat dan tetua keluarga.
- Pemberian sedekah (zakat fitrah) dari keluarga mampu kepada masyarakat tidak mampu, baik berupa makanan maupun uang.
- Makan bersama di rumah tetua keluarga dengan hidangan khas.
Keragaman Tradisi Lokal
Sebagai negara dengan beragam etnis, tradisi Idulfitri di setiap provinsi Iran memiliki keunikan:
- Guilan & Mazandaran (Utara Iran): Mengenakan pakaian lokal, makan di alam terbuka, berbuka puasa bersama keluarga besar di malam terakhir Ramadan.
- Hormozgan (Selatan Iran): Saling mengucapkan selamat selama tiga hari, membayar zakat fitrah sebelum dan sesudah salat, serta berziarah ke makam.
- Yazd Timur: Membuat kue-kue lebaran, memenuhi nazar dengan membagikan makanan gratis sebagai amal.
- Lorestan (Barat Iran): Membersihkan rumah sebelum lebaran, berbagi kue ke tetangga dan keluarga. Uniknya, banyak pasangan memilih hari lebaran untuk melangsungkan akad nikah.
Tradisi-tradisi ini menunjukkan bahwa meskipun perayaan Idulfitri di Iran secara umum dianggap kurang semarak, kekayaan budaya lokal justru membuatnya hidup dengan caranya sendiri.
Perbedaan dengan Tradisi Sunni
Beberapa perbedaan mencolok antara perayaan Idulfitri di Iran (Syiah) dan mayoritas negara Sunni antara lain:
- Kesederhanaan Perayaan: Perayaan Idulfitri di Iran dianggap sebagai perayaan personal yang lebih khidmat, tidak semeriah di Indonesia atau negara-negara Timur Tengah lainnya. Hal ini sebagian dipengaruhi oleh pendekatan Syiah yang lebih menekankan aspek spiritual dan kontemplatif.
- Minimnya Takbiran Keliling: Berbeda dengan Indonesia dan Malaysia yang ramai dengan takbiran keliling pada malam takbiran, tradisi ini tidak sepopuler di Iran.
- Nilai Sedekah yang Tinggi: Pemberian makanan dan uang kepada masyarakat tidak memiliki menjadi bagian integral yang sangat ditekankan, sebagai wujud solidaritas sosial.
- Tradisi yang Bertepatan dengan Nowruz: Tahun 2026, Idulfitri bertepatan dengan Nowruz (Tahun Baru Persia), menambah nuansa perayaan yang unik dengan perpaduan tradisi Islam dan budaya Persia.
Kondisi Umat Sunni di Iran
Tidak seluruh penduduk Iran menganut Syiah. Sekitar 10-15 persen penduduk Iran (sekitar 9-13 juta jiwa) adalah penganut Sunni, yang sebagian besar bermazhab Hanafi dan tinggal di wilayah perbatasan seperti Kurdistan, Baluchistan, dan Khuzestan.
Umat Sunni di Iran mengalami berbagai keterbatasan, termasuk:
- Tidak diizinkan membangun masjid di ibu kota Teheran. Mereka hanya memiliki "rumah salat" (namaz khaneh) yang terbatas kapasitasnya.
- Mengantre untuk salat Id, karena terbatasnya fasilitas ibadah. Di Teheran yang memiliki lebih dari 1 juta penduduk Sunni, mereka harus bergantian menggunakan rumah salat yang hanya dapat menampung puluhan orang.
- Keterbatasan dalam pemerintahan, karena konstitusi Iran mewajibkan presiden adalah penganut Syiah.
Dengan demikian, pengalaman berpuasa dan merayakan Lebaran bagi umat Sunni di Iran memiliki tantangan tersendiri yang berbeda dengan saudara-saudara mereka di negara-negara mayoritas Sunni.
Puasa dan Lebaran dalam tradisi Syiah Iran memiliki karakteristik yang khas, terutama dalam metode penetapan waktu, praktik ibadah, serta tradisi perayaan yang lebih sederhana namun kaya akan keragaman lokal. Perbedaan dengan Sunni tidak terletak pada esensi ibadah, melainkan pada pendekatan fikih, tradisi lokal, dan konteks sosial-politik yang melingkupinya. Tahun 2026 menjadi momen istimewa bagi Iran karena Idulfitri bertepatan dengan Nowruz, menambah semarak perayaan di tengah situasi yang kompleks.