Jurnalisme Sastrawi

LORONG ITU TIDAK PERNAH SEPI

Ujang Trisno Ujang Trisno 13 Apr 2026 12:16 95 Views
LORONG ITU TIDAK PERNAH SEPI

LORONG ITU TIDAK PERNAH SEPI

LORONG ITU TIDAK PERNAH SEPI

 

Karya: Seseorang yang Pernah Dinas Malam di UGD

 

---

 

23:47 - Kedatangan

 

Hujan deras mengguyur kota sejak maghrib. Aku baru saja menyeruput kopi sachet ketiga malam itu ketika suara sirene ambulans memecah ritme monoton rintik hujan. Suara itu semakin dekat, semakin melengking, lalu berhenti tepat di depan pintu UGD.

 

"Ayo, cepat! Laki-laki, 40-an, kecelakaan tunggal. Sepeda motor masuk jurang. Tekanan darah turun, 80/50!"

 

Aku dan tim langsung bergerak. Brankar didorong masuk. Pasien berlumuran darah, wajahnya nyaris tak bisa dikenali. Helmnya remuk. Jaketnya sobek di mana-mana. Tapi yang paling aneh: ia terus bergumam. Bibirnya bergerak-gerak, mengucapkan sesuatu yang tak jelas.

 

"Sabar, Pak. Bapak sudah di rumah sakit. Kami akan bantu."

 

Aku mencoba menenangkan sambil memeriksa pupil matanya dengan senter kecil. Pupilnya melebar. Tidak reaktif terhadap cahaya. Pertanda buruk.

 

Lalu ia meraih lenganku. Genggamannya kuat—terlalu kuat untuk orang dengan tekanan darah anjlok.

 

"Nak... tolong... anak saya..."

 

"Anak Bapak di mana?"

 

"Dia... di bawah. Masih di bawah. Tolong... selamatkan dia..."

 

Aku menatap rekan paramedis yang mengantarnya. Mereka menggeleng. "Kami hanya temukan dia sendirian, Dok. Tidak ada penumpang lain."

 

Aku kembali menatap pasien itu. Matanya terbuka lebar, menatapku dengan intensitas yang mengerikan.

 

"Di bawah... di bawah jembatan... dia nangis... tolong selamatkan dia..."

 

Lalu monitor jantung berbunyi panjang. Garis hijau itu mendatar.

 

Tewas.

 

Kami mencoba resusitasi selama 20 menit. Tidak ada respons. Ia dinyatakan meninggal pukul 00:12.

 

Saat aku menarik selimut putih menutupi wajahnya, aku melihat sesuatu yang membuat darahku berdesir. Di lengannya, tercetak jelas bekas genggaman kecil. Bekas tangan anak-anak. Lima jari yang mungil, memerah, seolah baru saja terjadi.

 

Padahal tak ada anak-anak di ruangan ini.

 

---

 

00:37 - Pasien Kedua

 

Aku masih memproses kejadian itu ketika brankar kedua datang. Kali ini seorang perempuan muda, sekitar 25 tahun. Kecelakaan beruntun di jalan layang. Kondisinya kritis. Kepala robek, tulang selangka patah menembus kulit.

 

Yang aneh: ia tertawa.

 

Bukan tawa histeris karena syok. Tapi tawa pelan, seperti orang yang baru mendengar lelucon. Matanya kosong menatap langit-langit.

 

"Mbak, Mbak dengar saya? Mbak di rumah sakit. Kami akan bantu Mbak."

 

Ia menoleh pelan. Matanya bertemu mataku. Senyumnya melebar.

 

"Dokter... dokter lihat nggak?"

 

"Lihat apa, Mbak?"

 

"Yang di pojok itu. Pakai baju putih. Dari tadi senyum-senyum."

 

Aku menoleh ke sudut ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Hanya tirai hijau yang bergerak pelan tertiup angin AC.

 

"Nggak ada siapa-siapa, Mbak."

 

"Ih, Dokter bohong. Itu jelas-jelas ada. Perempuan. Rambutnya panjang. Basah semua. Dia yang suruh saya nabrak tadi."

 

Jantungku berdebar lebih kencang. Aku melirik rekan perawatku, Suster Mia. Wajahnya pucat. Ia juga tidak melihat apa-apa.

 

"Mbak, coba fokus ke saya. Siapa nama Mbak?"

 

"Namanya Ningsih, Dok. Dia korban pembunuhan. Diceburin ke kali sama pacarnya. 10 tahun lalu. Dokter nggak baca koran?"

 

Aku terdiam. Nama Ningsih memang pernah kudengar. Kasus lama. Gadis belia ditemukan tewas di Kali Ciliwung, diperkosa lalu dibuang pacarnya sendiri. Pelaku ditangkap, tapi korban sudah tak bisa kembali.

 

Pasien itu melanjutkan, suaranya makin pelan.

 

"Dia bilang... saya mirip pacarnya. Dia minta saya temani. Dia bilang di sana sepi. Dingin. Terus dia pegang tangan saya..."

 

Monitor jantung mulai tidak stabil.

 

"Saya nggak mau, Dok. Saya nggak mau ikut dia..."

 

"Bertahan, Mbak! Suster, siapkan..."

 

Belum selesai aku bicara, pasien itu tiba-tiba duduk tegak. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka lebar, seolah berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya menunjuk ke sudut ruangan dengan jari gemetar.

 

"JANGAN! JANGAN BAWA AKU!"

 

Lalu tubuhnya ambruk. Monitor jantung berbunyi panjang. Garis hijau itu kembali mendatar.

 

Aku menoleh ke sudut ruangan. Tirai hijau itu masih bergerak pelan.

 

Kali ini, aku melihatnya.

 

Sesosok bayangan. Perempuan. Rambut panjang. Basah.

 

Ia tersenyum padaku. Lalu menghilang.

 

---

 

01:53 - Pasien Ketiga

 

UGD malam itu tidak pernah sepi. Seolah ada yang mengirim mereka bergantian.

 

Pasien ketiga adalah kakek-kakek, 70-an, sesak napas akut. Cucunya yang mengantar—laki-laki 30-an dengan wajah panik.

 

"Dokter, tolong Kakek. Tiba-tiba sesak. Padahal tadi siang masih sehat."

 

Kami memasang oksigen, memeriksa saturasi, memberikan bronkodilator. Kakek itu perlahan stabil. Napasnya mulai teratur. Tapi matanya terus menatap ke arah pintu UGD, seolah menunggu seseorang.

 

"Siapa yang Kakek tunggu?" tanyaku.

 

"Istri saya, Dok."

 

"Oh, Kakek sudah menikah?"

 

"Sudah 50 tahun, Dok. Tapi dia meninggal 10 tahun lalu."

 

Aku menelan ludah. "Lalu kenapa Kakek menunggunya di sini?"

 

Kakek itu tersenyum. Senyum yang damai, tapi entah kenapa membuat bulu kudukku berdiri.

 

"Dia janji, Dok. Dia bilang, 'Aku tunggu kamu di pintu UGD.' Dulu dia meninggal di sini. Kanker. Saya nggak sempat pegang tangannya waktu dia pergi. Jadi dia bilang, nanti kalau saya mau menyusul, dia tunggu di pintu."

 

Cucunya menangis di sudut ruangan. "Kek, jangan ngomong gitu. Kakek masih sehat."

 

Kakek itu menggeleng pelan. "Kakek udah capek, Cu. 10 tahun tanpa dia itu lama. Terlalu lama."

 

Malam itu, pukul 03:27, Kakek itu meninggal. Tenang. Matanya terpejam dengan senyum di bibir.

 

Aku tidak tahu apakah istrinya benar-benar datang. Tapi saat aku mendorong brankarnya ke kamar jenazah, aku melihat pintu UGD terbuka sendiri. Tidak ada angin. Tidak ada orang.

 

Hanya pintu yang terbuka, lalu tertutup lagi perlahan.

 

Seolah seseorang baru saja masuk. Atau keluar.

 

---

 

02:44 - Pasien Keempat (Selingan yang Mengerikan)

 

Di antara semua pasien malam itu, ada satu yang paling kuingat. Bukan karena lukanya parah, tapi karena apa yang ia bawa.

 

Anak kecil. Perempuan. 7 tahun. Dibawa ibunya karena demam tinggi.

 

Awalnya biasa saja. Aku periksa tenggorokannya, aku dengar napasnya, aku ukur suhunya. 39,8 derajat. Cukup tinggi, tapi masih bisa ditangani dengan parasetamol dan kompres.

 

Lalu anak itu berbicara.

 

"Dokter... kenapa di belakang Dokter banyak orang?"

 

Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya dinding putih dan poster anatomi tubuh manusia.

 

"Maksud Adek?"

 

"Iya. Itu lho. Ada Om-om pakai baju bolong-bolong. Sama Tante yang rambutnya panjang basah. Sama Kakek tua yang senyum-senyum. Mereka semua lihatin Adek."

 

Ibunya panik. "Jangan ngomong gitu, Dek! Istighfar!"

 

"Adek nggak bohong, Bu. Itu Om-om yang tadi di brankar juga ada. Yang tangannya berdarah-darah."

 

Aku terdiam. Om-om di brankar. Tangan berdarah. Pasien pertamaku malam ini.

 

Anak itu melanjutkan, suaranya polos tanpa dosa.

 

"Om-om itu bilang, 'Adek, tolong cariin anak Om. Anak Om hilang di bawah jembatan.'"

 

Suster Mia menjatuhkan nampan logam. Bunyinya menggelegar di ruangan.

 

Aku menatap anak itu. Ia menatapku balik dengan mata bulatnya yang jernih.

 

"Dokter, kenapa Om-om itu nangis?"

 

---

 

03:58 - Jam Paling Lengang

 

UGD mulai sepi. Hujan sudah reda. Aku dan Suster Mia duduk di ruang jaga, sama-sama enggan membahas apa yang baru saja terjadi.

 

"Lo percaya hantu, Dok?" tanya Mia tiba-tiba.

 

"Gue nggak mau percaya. Tapi malam ini..."

 

Belum selesai aku bicara, lampu UGD berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu padam total.

 

Gelap.

 

"Ah, sial. Genset-nya kenapa lagi?" Aku meraba-raba mencari ponsel untuk senter.

 

Lalu aku mendengarnya.

 

Suara tangis anak kecil.

 

Bukan dari luar. Tapi dari dalam UGD. Dari arah brankar pertama tadi diletakkan.

 

"Mi... Mia... lo dengar itu?"

 

Mia tidak menjawab. Aku mengulurkan tangan ke samping. Kursinya kosong. Ia tidak ada.

 

"Mia?!"

 

Sentir ponselku menyala. Aku menyorot ke seluruh ruangan. Kosong. Mia tidak ada di mana-mana. Pintu UGD tertutup rapat.

 

Tangis itu semakin jelas. Sekarang disertai suara langkah kaki kecil. Seperti anak-anak berlari tanpa alas kaki di atas lantai keramik.

 

Aku menyorotkan senter ke lantai. Tidak ada siapa-siapa. Tapi aku melihat sesuatu.

 

Jejak kaki basah.

 

Kecil. Seukuran anak 5-6 tahun. Berjalan dari pintu UGD menuju ke brankar tempat pasien pertama tadi meninggal.

 

Aku mengikuti jejak itu dengan senter. Sampai di brankar, jejaknya berhenti. Tapi tangis itu belum berhenti. Sekarang terdengar tepat di bawah brankar.

 

Aku berlutut. Mengarahkan senter ke kolong brankar.

 

Sepasang mata menatapku.

 

Anak kecil. Laki-laki. Basah kuyup. Pucat. Memeluk lututnya sendiri. Menangis.

 

"Om... Om lihat Papa saya nggak? Papa jatuh... Papa nggak bangun-bangun... Saya takut..."

 

Aku ingin berteriak. Tapi suaraku hilang.

 

Lampu UGD kembali menyala. Aku masih berlutut di samping brankar. Suster Mia muncul dari toilet sambil menguap.

 

"Eh, Dok. Ngapain di situ?"

 

Aku menoleh ke kolong brankar. Kosong. Tidak ada anak kecil. Tidak ada jejak basah.

 

Tapi di atas brankar, di atas seprai putih yang baru diganti, ada selembar daun kering. Daun dari pohon yang hanya tumbuh di bawah jembatan.

 

---

 

05:12 - Fajar yang Enggan Terbit

 

Malam itu akhirnya berakhir. Pagi datang dengan enggan, seolah malam tahu ia belum selesai bercerita.

 

Aku duduk di bangku taman belakang rumah sakit, menatap langit yang mulai biru. Kopi sachet keempat sudah dingin di tanganku.

 

Suster Mia datang, duduk di sampingku. Ia diam lama, lalu berkata pelan.

 

"Lo tahu, Dok. Malam pertama gue dinas di sini, senior gue bilang sesuatu. Dia bilang, UGD itu bukan cuma tempat orang datang untuk selamat. Tapi juga tempat orang datang untuk pamit."

 

Aku menatapnya. "Maksud lo?"

 

"Kadang, yang datang ke sini bukan cuma yang masih hidup. Tapi juga yang sudah mati. Mereka cuma mau pamit. Atau mau jemput janji."

 

Aku teringat Kakek tadi. Teringat pasien pertama yang mencari anaknya. Teringat perempuan yang "ditemani" Ningsih.

 

"Lo percaya?"

 

Mia tersenyum tipis. "Gue nggak mau percaya, Dok. Tapi malam ini..."

 

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

 

Dari dalam UGD, samar-samar aku mendengar suara langkah kaki kecil. Berlarian. Lalu suara tawa anak-anak.

 

Aku dan Mia saling menatap. Lalu bersama-sama memutuskan untuk tidak menoleh.

 

Beberapa hal lebih baik tidak dilihat.

 

---

 

Epilog: Catatan Dinas Malam

 

Minggu berikutnya, aku pindah ke poli umum. Shift pagi. Tidak ada lagi malam-malam panjang di UGD.

 

Tapi setiap kali aku lewat lorong itu—lorong yang menghubungkan UGD dengan kamar jenazah—aku selalu merasa ada yang memperhatikan. Ada yang berbisik. Ada yang menangis.

 

Kata orang, rumah sakit adalah tempat paling suci sekaligus paling angker. Tempat nyawa lahir dan mati bergantian. Tempat doa dan kutukan bercampur jadi satu.

 

Aku tidak tahu apakah yang kualami malam itu nyata atau hanya lelah. Tapi satu hal yang kupastikan:

 

Lorong UGD tidak pernah benar-benar sepi.

 

Ia selalu ramai. Oleh mereka yang datang untuk selamat. Dan oleh mereka yang datang untuk pamit.

 

Dan kadang, oleh mereka yang tidak tahu bahwa mereka sudah mati.

 

---

 

TAMAT.

 

---

 

Catatan: Cerita ini adalah fiksi murni. Tidak ada pasien yang disebutkan benar-benar ada. Tapi kalau suatu saat kamu di UGD dan merasa ada yang memperhatikan dari sudut ruangan... mungkin lebih baik tidak usah menoleh.

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner