JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Media Iran mulai membangun citra Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin masa perang setelah pesan publik pertamanya disampaikan Kamis lalu. Pesan yang dibacakan pembawa acara televisi pemerintah itu menyerukan perlawanan militer berkelanjutan dan penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan.
- Pergeseran Narasi Media
- Reaksi Regional dan Internasional
- Kerusakan Warisan Budaya
- Eskalasi Konflik Terkini
Pergeseran Narasi Media
Surat kabar dan situs web Iran mengalihkan fokus dari mekanisme suksesi ke proyeksi otoritas selama konflik aktif. Pergeseran ini terjadi meski ada pemadaman informasi dan kebungkaman Mojtaba yang terus berlanjut.
Dua hari pertama setelah kematian Ali Khamenei pada 28 Februari, pemberitaan menekankan kredibilitas keagamaan dan garis keturunan Mojtaba. Menjelang pertengahan minggu, media mulai menggambarkannya terutama sebagai komandan perang.
Kayhan, media dengan hubungan dekat kantor mantan pemimpin, menyebutnya "jenderal revolusi". Media konservatif meninggalkan gelar 'Agha' yang tradisional digunakan untuk putra ayatollah. Beberapa mengadopsi 'Imam' atau 'Ayatollah'.
Kesatuan yang Direkayasa
Media garis keras menggambarkan suksesi sebagai kekalahan strategis bagi Amerika Serikat dan Israel. Mereka berargumen pembunuhan Ali Khamenei dimaksudkan memicu keruntuhan sistemik.
Pengangkatan Mojtaba yang cepat menunjukkan ketahanan sistem. Situs web resmi dan saluran Telegram yang berafiliasi dengan IRGC memperkuat pesan dengan janji kesetiaan dari para jenderal dan ulama.
Reaksi Regional dan Internasional
Reaksi regional terhadap pengangkatan Mojtaba Khamenei mengungkap kecemasan tentang stabilitas. Sekutu Teheran mengutuk pembunuhan ayahnya sementara lawan mengeraskan postur militer mereka.
Di seluruh Teluk Persia, pengangkatan Mojtaba disambut dengan campuran postur militer defensif, kritik, dan seruan untuk koordinasi keamanan yang lebih erat. Ketegangan dengan Arab Saudi meningkat tajam setelah pengangkatannya.
Turki menyuarakan nada mendukung. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyebut pejabat Iran "saudara" dan berharap mereka "melewati periode penuh jebakan ini".
Respons Kekuatan Global
Presiden Rusia Vladimir Putin termasuk yang pertama merespons. Dia menyebut kematian Ali Khamenei sebagai "pembunuhan sinis" dan menggambarkannya sebagai "negarawan luar biasa".
China mengadopsi nada lebih hati-hati. Pejabat China menekankan penghormatan terhadap kedaulatan Iran dan menentang perubahan rezim. Uni Eropa bereaksi lebih terfragmentasi.
Israel secara eksplisit mempertanyakan legitimasi pengangkatan Mojtaba. Mereka menggambarkannya sebagai kelanjutan dari apa yang disebut "rezim teror" IRGC.
Kerusakan Warisan Budaya
Serangan udara di Iran telah merusak beberapa bangunan bersejarah termasuk situs-situs yang terdaftar UNESCO. Pusat Warisan Dunia UNESCO mengkonfirmasi kerusakan pada beberapa situs dalam daftar warisan globalnya.
Tingkat kerusakan masih belum jelas. Beberapa bangunan yang terdampak membawa lambang Blue Shield, simbol internasional untuk mengidentifikasi situs warisan budaya yang dilindungi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkritik tanggapan UNESCO. "Keheningan mereka tidak dapat diterima," tulisnya di platform media sosial.
Situs Bersejarah Terdampak
Istana Golestan yang bersejarah mengalami kerusakan signifikan. Gelombang ledakan dari serangan udara menghancurkan jendela dan merusak hiasan cermin halus di beberapa aula.
Pasar Besar Teheran di dekatnya juga mengalami kerusakan. Bangunan lain yang terkena dampak di Teheran termasuk bekas Istana Senat dan bekas Markas Besar Kepolisian yang bersejarah.
Di Isfahan, gelombang ledakan menyebabkan kerusakan di berbagai lokasi. Termasuk Istana Chehel Sotoun peninggalan era Safavid dan Istana Ali Qapu di daerah Naqsh-e Jahan.
Eskalasi Konflik Terkini
Perang Iran memasuki fase baru dengan serangan yang semakin menargetkan pos pemeriksaan dan unit keamanan tingkat jalanan. Laporan saksi mata menunjukkan banyak posisi dipindahkan atau dibongkar setelah lokasinya terbuka.
Konflik sebelumnya berfokus pada pangkalan militer, situs rudal, dan fasilitas komando. Khususnya di Iran selatan sebagai bagian kampanye AS-Israel yang lebih luas.
Sejak Rabu malam, serangan drone yang dilaporkan pada pos pemeriksaan di Teheran mengarah pada tekanan paralel. Targetnya adalah pos keamanan lokal, unit patroli, dan penempatan sementara yang digunakan untuk menegakkan kontrol di jalanan.
Media yang terkait negara Iran mengatakan beberapa pos pemeriksaan di Teheran terkena. Serangan menewaskan anggota pasukan keamanan dan milisi Basij. Perkembangan ini menunjukkan konflik semakin berpotongan dengan struktur yang diandalkan negara untuk mengontrol lingkungan.
Pergeseran narasi media Iran mencerminkan upaya konsolidasi kekuasaan di tengah konflik yang terus bereskalasi. Respons regional yang beragam menunjukkan kompleksitas dinamika keamanan di Timur Tengah pasca transisi kepemimpinan Iran.