JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Nickolay Mladenov, diplomat senior yang memimpin implementasi rencana pascaperang Gaza, mengumumkan negara-negara mediator gencatan senjata telah menyepakati "kerangka" rekonstruksi Jalur Gaza. Namun, mantan utusan PBB itu menegaskan Hamas harus melepaskan seluruh persenjataan sebagai syarat mutlak.
Dalam pernyataan melalui platform X, Mladenov menyebut Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir telah mencapai kesepakatan yang dapat "membuka kunci rekonstruksi, menghidupkan kembali komunitas, dan mendekatkan pada penyelesaian damai konflik Palestina."
- Kerangka Rekonstruksi Gaza
- Syarat Keras untuk Hamas
- Respons dan Kondisi Terkini
- Implementasi Rencana Pasca Perang
Kerangka Rekonstruksi Gaza
Mladenov, yang menjabat sebagai Perwakilan Tinggi untuk Gaza di Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump, menyampaikan pengumuman ini pada Kamis (20/3/2026). Kerangka kerja tersebut dirancang untuk membangun kembali Gaza setelah dua tahun konflik yang dipicu serangan Hamas 7 Oktober 2023.
"Kerangka ini sekarang ada di meja," tulis Mladenov. "Ini bisa menjadi dasar untuk membangun kembali Gaza yang hancur."
Peran Negara Mediator
Tiga negara mediator - AS, Qatar, dan Egypt - telah berperan kunci dalam negosiasi gencatan senjata. Mereka kini mengoordinasikan tahap rekonstruksi.
Seorang pejabat senior AS mengonfirmasi kepada NPR bahwa proposal formal telah disampaikan kepada Hamas di Kairo pekan lalu. Kelompok itu diminta memberikan respons dalam waktu sekitar satu minggu.
Syarat Keras untuk Hamas
Mladenov menegaskan eksekusi kerangka rekonstruksi membutuhkan "satu pilihan jelas: dekomisioning penuh oleh Hamas dan setiap kelompok bersenjata, tanpa pengecualian."
Persyaratan ini menjadi titik kritis dalam proses perdamaian. Hamas masih menguasai separuh wilayah Gaza meski perang telah berlangsung dua tahun.
Dekomisioning Senjata
Proses dekomisioning mencakup:
- Penyerahan seluruh persenjataan berat dan ringan
- Pembubaran struktur militer Hamas
- Integrasi mantan pejuang ke masyarakat sipil
- Pemantauan internasional terhadap proses pelucutan senjata
Respons dan Kondisi Terkini
Sejauh ini, Hamas belum memberikan respons resmi terhadap proposal mediator. Seorang pejabat Hamas menyatakan kelompok itu akan menunggu hasil perang AS-Israel melawan rezim Iran sebelum merespons.
Iran selama ini menjadi pendukung utama Hamas dan sekutunya di wilayah tersebut.
Penguatan Kontrol Hamas
Optimisme Mladenov muncul di tengah penguatan kontrol Hamas di Gaza. Pasukan keamanan Hamas meningkatkan pengawasan mereka dalam beberapa pekan terakhir.
Warga Gaza yang diwawancarai The Times of Israel melaporkan Hamas kini:
- Menegakkan kontrol harga pasar
- Mengelola distribusi barang dari luar Gaza
- Mengintimidasi warga yang sebelumnya berani berbicara ke media internasional
Banyak warga yang kini meminta anonimitas karena takut terhadap represi.
Implementasi Rencana Pasca Perang
Gencatan senjata Oktober 2025 sebagian besar mengakhiri pertempuran dua tahun. Fase pertama berhasil membebaskan seluruh sandera yang masih ditahan Hamas, sebagai pertukaran dengan ribuan tahanan keamanan Palestina yang dibebaskan Israel.
Komite Teknokrat Palestina
Menurut kesepakatan gencatan, pemerintahan sipil Hamas di Gaza seharusnya digantikan oleh komite teknokrat Palestina. Komite ini akan beroperasi di bawah Dewan Perdamaian Trump.
Namun, anggota Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) belum memasuki wilayah tersebut. Mereka masih berada di Kairo sejak dibentuk, menunggu kondisi yang lebih aman untuk memerintah.
Pasukan Stabilisasi Internasional
Rencana Trump mencakup dukungan Pasukan Stabilisasi Internasional sementara. Pasukan ini akan bekerja bersama "kepolisian Palestina yang baru dilatih dan diverifikasi."
Badan teknokratik mengumumkan bulan lalu bahwa mereka membuka pendaftaran untuk "kandidat berkualitas" yang ingin bergabung dengan "pasukan polisi transisional." Namun, hingga kini pasukan tersebut belum terbentuk.
Proses rekonstruksi Gaza tetap bergantung pada keputusan politik Hamas. Mladenov menekankan bahwa masa depan Gaza terletak pada pilihan antara rekonstruksi atau pertahanan persenjataan. Dunia internasional kini menunggu respons resmi dari kelompok yang menguasai separuh wilayah tersebut, sementara warga Gaza terus hidup di antara puing-puing yang membutuhkan pembangunan segera.