Teknologi

Mengenal Amanda Askell, Filsuf di Balik Jiwa AI Claude

Redaksi Javas Corner Redaksi Javas Corner 30 May 2026 07:11 66 Views
Mengenal Amanda Askell, Filsuf di Balik Jiwa AI Claude

Mengenal Amanda Askell, Filsuf di Balik Jiwa AI Claude

JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Di tengah hiruk-pikuk perlombaan kecerdasan buatan (AI) yang hanya berfokus pada kecepatan dan kecanggihan, Anthropic, perusahaan di balik chatbot Claude, mengambil langkah berbeda. Mereka mempekerjakan seorang filsuf asal Skotlandia, Amanda Askell, untuk menanamkan jiwa, kepribadian, dan kompas moral ke dalam AI mereka. Askell bukanlah insinyur komputer biasa; latar belakangnya di bidang filsafat dan etika membuat Claude berevolusi dari sekadar mesin penjawab menjadi entitas digital yang memiliki empati.

Latar Belakang Amanda Askell

Amanda Askell tumbuh di kota Prestwick, Skotlandia, dibesarkan oleh ibunya yang seorang guru. Sejak kecil, ia gemar membaca karya J.R.R. Tolkien dan C.S. Lewis, yang memantik ketertarikannya pada pertanyaan eksistensi dan moralitas. Ketertarikan ini membawanya jauh dari dunia pemrograman.

Perjalanan Akademis dan Filsafat

Askell memulai pendidikan tingginya di University of Dundee, mengambil seni rupa dan filsafat secara bersamaan. Ia terbiasa melukis sambil merenungkan makna kehidupan. Selanjutnya, ia melanjutkan ke University of Oxford untuk meraih gelar BPhil, dan akhirnya meraih gelar PhD di New York University (NYU).

Tesis tentang Etika Tak Terbatas

Di NYU, tesis Askell membahas etika tak terbatas (infinite ethics), sebuah cabang filsafat yang rumit tentang bagaimana moralitas bekerja pada populasi berskala tak terhingga. Kemampuan merangkul ambiguitas inilah yang menjadi bekal berharganya di dunia AI.

Karier di Dunia AI

Pada tahun 2020, Askell bergabung dengan OpenAI sebagai ilmuwan riset yang fokus pada keselamatan AI. Ia bahkan menjadi salah satu penulis pendamping makalah penelitian GPT-3. Namun, seiring waktu, ia melihat perubahan arah di perusahaan pembuat ChatGPT tersebut.

Mengapa Meninggalkan OpenAI?

Askell memutuskan mundur dari OpenAI karena khawatir perusahaan mulai menggeser prioritasnya. Ia kemudian bergabung dengan Anthropic, di mana ia diberi tugas unik: menanamkan jiwa dan moral ke dalam Claude. Hasilnya, Claude tidak hanya pintar, tetapi juga etis dan empatik.

Kisah Amanda Askell membuktikan bahwa di era AI, sentuhan manusia—terutama dari sudut pandang filsafat—sangat berharga. Perusahaan teknologi mulai menyadari bahwa kecerdasan tanpa moral hanyalah mesin kosong. Dengan latar belakangnya, Askell menjadi contoh bahwa lulusan filsafat pun bisa berperan penting dalam revolusi AI.

Redaksi Javas Corner

// Verified Author

Redaksi Javas Corner

Penulis Artikel

Profesional penulis artikel

▸ TAG TOPIK

#Amanda Askell #Claude #Anthropic #AI #filsafat

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

Mentan Arman Murka, Petani di Banggai Diduga Diminta Mahar Rp150 Juta demi Bantuan Kementan

Thumbnail

Viral Diduga Aksi Arogan Pria Berbaju Merah Bentak Wisatawan di Stasiun Gambir

Thumbnail

Ruben Onsu Buka Suara soal Betrand Peto yang Diduga Terlibat Kasus TPKS, Minta Publik Tak Berspekulasi

Thumbnail

Curhat Guru di Sleman, Korban Dugaan Keracunan MBG Mengaku Tanggung Pengobatan Sendiri

Thumbnail

Viral YouTuber Inggris Keluhkan Harga Nasi Goreng dan Bir Rp240 Ribu di Indonesia

Thumbnail

Dedi Mulyadi Berduka atas Kepergian Penyanyi Kanaya Whu: Surga Untukmu, Teh

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner