JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran telah gagal mencapai tujuan. Pernyataan tegas itu disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Selasa (10/3/2026).
Pernyataan Tegas Menlu Iran
Abbas Araghchi tidak ragu menyebut rencana militer AS-Israel mengalami kegagalan. "Rencana A gagal, dan sekarang mereka mencoba rencana lain, tetapi semuanya juga gagal," ujarnya.
Menurut diplomat senior Iran itu, kedua negara tersebut tidak memiliki tujuan akhir yang jelas. Serangan mereka berlangsung tanpa pandang bulu terhadap kawasan permukiman sipil.
Setelah sepuluh hari konflik berlangsung, Araghchi menilai AS dan Israel kehilangan arah. "Mereka gagal mencapai tujuan mereka di awal, dan sekarang, setelah 10 hari, saya pikir mereka tidak memiliki tujuan," tegasnya.
Dampak Ekonomi Global
Serangan terhadap infrastruktur energi Iran telah memicu gejolak pasar minyak dunia. Araghchi mengungkapkan, aksi militer itu menyebabkan harga minyak internasional meroket.
Lonjakan harga energi ini berdampak luas terhadap perekonomian global. Beberapa negara, termasuk Mesir, terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak hingga 30 persen.
Krisis energi semakin memperumit situasi di kawasan Timur Tengah yang sudah memanas. Masyarakat internasional mulai merasakan efek domino dari konflik ini.
Masa Depan Diplomasi
Iran menutup pintu negosiasi dengan Amerika Serikat. Araghchi menyatakan dialog dengan Washington tidak lagi menjadi agenda pemerintah Teheran.
Keputusan ini diambil setelah "pengalaman yang sangat pahit" selama pembicaraan nuklir sebelumnya. AS dianggap melanggar janji untuk menyelesaikan masalah secara damai.
"Mereka berjanji kepada kami bahwa mereka tidak memiliki niat untuk menyerang kami, dan mereka ingin menyelesaikan masalah nuklir Iran secara damai dan menemukan solusi yang dinegosiasikan," kenang Araghchi. "Namun, mereka tetap memutuskan untuk menyerang kami."
Pertanyaan tentang kemungkinan berdialog dengan Amerika tidak akan dipertimbangkan lagi. Pernyataan ini menandai titik terendah dalam hubungan kedua negara selama beberapa tahun terakhir.
Komunitas internasional terus memantau perkembangan konflik yang semakin kompleks ini. Banyak pihak berharap dapat ditemukan jalan keluar diplomatik sebelum krisis meluas lebih jauh.