JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung yang baru pada Senin (12/3/2026). Putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei ini naik takhta setelah ayahnya tewas dalam serangan udara Amerika Serikat. Langkah ini langsung mengguncang pasar global dengan harga minyak mentah melonjak di atas US$120 per barel.
Dampak Global Instan
Pasar minyak dunia bereaksi cepat terhadap perubahan kepemimpinan di Teheran. Harga minyak mentah Brent mencapai US$120,15 per barel dalam perdagangan Senin pagi. Angka ini menjadi level tertinggi sejak November 2022.
Lonjakan harga diperparah dengan keputusan Iran menutup Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi arteri utama distribusi minyak global. Penutupan menyebabkan kekhawatiran pasokan di pasar internasional.
Analis pasar energi memprediksi volatilitas akan berlanjut. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda. Investor mengamati perkembangan kebijakan energi Iran di bawah kepemimpinan baru.
Profil Pemimpin Baru
Mojtaba Khamenei, 56 tahun, dikenal sebagai figur garis keras. Ia memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sejak akhir 1980-an. Latar belakang militernya membentuk pandangan politik yang konservatif.
Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan publik. Ia lebih banyak beroperasi di balik layar sebagai koordinator antara kepemimpinan dan militer. Tuduhan manipulasi pemilu pernah dialamatkan kepadanya pada 2005 dan 2009.
Laporan investigasi mengungkap kekayaan pribadi yang signifikan. Mojtaba diduga memiliki properti mewah di London, Dubai, dan Eropa melalui perusahaan cangkang. Nilai investasinya mencapai ratusan juta dolar AS.
Reaksi Internasional
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kekecewaan terbuka. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump meragukan komitmen perdamaian pemimpin baru Iran. Pernyataan ini memperburuk hubungan kedua negara yang sudah tegang.
Mantan Duta Besar Israel untuk AS, Michael Herzog, memberikan penilaian keras. Ia menyebut penunjukan Mojtaba sebagai bentuk "perlawanan terbuka" terhadap tekanan Barat. Herzog memprediksi kebijakan luar negeri Iran akan lebih agresif.
Pemerintah Iran membalas melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri. Esmail Baghaei menegaskan seluruh bangsa akan bersatu di bawah kepemimpinan baru. Pernyataan ini dimaksudkan untuk menunjukkan soliditas internal.
Masa Depan Kawasan
Tragedi pribadi membayangi kepemimpinan Mojtaba Khamenei. Selain ayahnya, istri, anak, dan ibunya juga tewas dalam serangan udara 28 Februari. Latar belakang ini diyakini akan mempengaruhi keputusan politiknya.
Mantan Penasihat Departemen Pertahan AS, Jasmine El-Gamal, memprediksi eskalasi militer. "Ini bukan seseorang yang akan berada dalam suasana hati untuk berdamai," katanya. Kedua belah pihak diperkirakan akan terus menjauh dari meja perundingan.
Penutupan Selat Hormuz menjadi ujian pertama kepemimpinan baru. Dunia internasional mengawasi langkah Iran dalam mengelola krisis energi global. Stabilitas kawasan Timur Tengah kembali dipertaruhkan dalam perubahan kekuasaan ini.