JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Badan intelijen Israel, Mossad, keliru memperkirakan serangan militer Amerika Serikat dan Israel akan memicu pemberontakan besar-besaran di Iran. Tiga minggu setelah perang pecah, pemerintahan teokratis Teheran justru menguat dan melancarkan serangan balasan.
Prediksi yang Meleset
Kepala Mossad David Barnea sebelumnya meyakinkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump bahwa oposisi Iran akan bergerak segera setelah perang dimulai. Skenario perubahan rezim ini dianggap sebagai jalan pintas mengakhiri konflik dengan cepat.
"Ambil alih pemerintahan Anda, itu akan menjadi milik Anda," ujar Trump dalam pidato di awal konflik. Namun harapan itu tak kunjung terwujud.
Kenyataan di Lapangan
Penilaian intelijen AS dan Israel terbaru menyimpulkan pemerintah Iran melemah tetapi tetap utuh. Ketakutan terhadap militer dan kepolisian Iran meredam prospek pemberontakan.
Milisi etnis di luar Iran pun enggan melancarkan serangan lintas batas. Keyakinan bahwa Israel dan AS bisa memicu pemberontakan luas ternyata kesalahan mendasar dalam persiapan perang.
Dampak Konflik yang Berkembang
Alih-alih runtuh dari dalam, pemerintah Iran memperkuat posisi dan meningkatkan konflik. Serangan balasan dilancarkan terhadap berbagai target strategis.
Target Serangan Iran
- Pangkalan militer AS dan Israel
- Kota-kota di sekitar Teluk Persia
- Kapal-kapal komersial dan militer
- Instalasi minyak dan gas yang rentan
Konflik kini menyebar ke seluruh Timur Tengah. Negara-negara Teluk dilaporkan semakin dekat bergabung dalam perang melawan Iran.
Analisis Intelijen yang Dipertanyakan
Laporan New York Times berdasarkan wawancara dengan lebih dari selusin pejabat AS, Israel, dan pejabat asing lainnya mengungkap kegagalan analisis intelijen. Sebagian besar sumber berbicara dengan syarat anonim.
Perubahan Sikap Pejabat
Sejak pidato pertama Trump, para pejabat AS sebagian besar berhenti berbicara terbuka tentang prospek pemberontakan di Iran. Meski demikian, beberapa masih berharap pemberontakan bisa terwujud.
Netanyahu meski retorikanya melunak masih mengatakan kampanye udara AS-Israel akan dibantu pasukan darat. Sikap ini menunjukkan ketidakpastian strategi koalisi.
Faktor Penghambat Pemberontakan
- Kontrol ketat aparat keamanan Iran
- Ketakutan masyarakat terhadap represi
- Nasionalisme yang menguat akibat serangan asing
- Kurangnya koordinasi kelompok oposisi
- Dukungan militer yang tetap solid
Perang AS-Iran kini memasuki fase baru yang tak terprediksi. Kegagalan prediksi Mossad menjadi pelajaran berharga tentang kompleksitas dinamika politik Iran. Konflik ini kemungkinan akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal, dengan konsekuensi yang makin luas bagi stabilitas regional.