JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Eskalasi militer di Timur Tengah yang memanas beberapa hari terakhir memicu narasi eskatologis di kalangan umat Islam. Banyak yang menghubungkan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dengan kemunculan Imam Mahdi serta kedatangan hari kiamat. Namun, Muhammadiyah mengingatkan pentingnya pendekatan teologis yang tenang dan berdasar dalil kuat.
Pendekatan Teologis yang Tenang
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menekankan bahwa keyakinan tentang akhir zaman harus berdiri di atas dalil yang pasti. Dalam kolom Tanya Jawab Agama Majalah Suara Muhammadiyah No. 7 Tahun 2009, lembaga ini mengingatkan bahwa persoalan eskatologi sering berada di wilayah antara iman dan spekulasi.
Tanpa metodologi yang jelas, agama mudah berubah menjadi arena tafsir bebas. Setiap gejolak politik tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan tanda-tanda kiamat. Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk menghindari penafsiran yang mengikuti emosi zaman semata.
Imam Mahdi dan Dasar Dalil
Narasi tentang kemunculan Imam Mahdi kerap viral setiap terjadi konflik di Timur Tengah. Majelis Tarjih memberikan catatan penting mengenai konsep ini.
Asal Usul Konsep Mahdi
Konsep Imam Mahdi berkembang kuat dalam tradisi Syiah Imamiyah sebagai harapan politik dan spiritual. Gagasan ini muncul pada masa penindasan terhadap pengikut Ali bin Abi Thalib.
Muhammadiyah menilai gagasan tersebut tidak memiliki dasar dalil mutawatir yang cukup untuk dijadikan akidah. Meskipun terdapat beberapa hadis tentang Mahdi, riwayat-riwayat tersebut mayoritas bersifat ahad.
Hadis-Hadis tentang Mahdi
Di antara hadis yang sering dikutip adalah:
- "Al-Mahdi berasal dari keluargaku, dari keturunan Fatimah."
- "Seandainya dunia tinggal satu hari, Allah akan memanjangkan hari itu hingga Dia mengutus seorang laki-laki dari keluargaku yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku."
Karena status riwayatnya, Muhammadiyah tidak menjadikannya sebagai keyakinan teologis yang pasti. Sejarah menunjukkan konsep Mahdi sering dipakai sebagai alat legitimasi politik.
Politik dan Klaim Mahdi
Penggunaan konsep Mahdi untuk tujuan politik telah terjadi sejak masa Dinasti Abbasiyah. Di era modern, tokoh-tokoh kontroversial juga kerap mengklaim diri sebagai Imam Mahdi yang dinantikan.
Pertanyaan penting bukanlah apakah Mahdi akan muncul dalam konflik hari ini. Melainkan mengapa umat Islam selalu tergoda membaca sejarah sebagai akhir dunia.
Keseimbangan Iman dan Rasionalitas
Muhammadiyah mengajak umat Islam kembali kepada keseimbangan yang sehat. Iman kepada yang gaib tidak boleh mengorbankan rasionalitas. Harapan kepada pertolongan Allah harus disertai dengan kerja nyata.
Kepastian Kiamat
Hari kiamat adalah kepastian dalam akidah Islam. Namun, waktunya sepenuhnya menjadi rahasia Allah. Tidak ada manusia yang mengetahui kapan akhir zaman akan datang.
Wilayah manusia adalah amal, ilmu, dan perbaikan dunia. Ketika perang terjadi dan dunia terasa gelap, tugas umat bukan menebak tanda-tanda kiamat.
Fokus pada Amal dan Ibadah
Muhammadiyah menegaskan bahwa umat Islam harus fokus pada:
- Beramal saleh
- Belajar dan menuntut ilmu
- Beribadah kepada Allah
- Memperbaiki kondisi dunia
Pendekatan teologis yang tenang ini diharapkan dapat meredam narasi-narasi eskatologis yang berkembang tanpa dasar yang kuat. Wallāhu a'lam bi al-shawāb.