JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Konflik militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mengubah Selat Hormuz dari jalur perdagangan minyak tersibuk dunia menjadi rute yang nyaris kosong. Data terbaru menunjukkan hanya lima kapal tanker yang berani melintas setiap hari di bawah ancaman rudal, ranjau laut, dan drone, memicu guncangan energi global yang langsung terasa di pasar.
Situasi Krisis di Jalur Vital
Sebelum konflik pecah pada 28 Februari 2026, rata-rata 46 tanker melintasi Selat Hormuz setiap hari. Data perusahaan intelijen pasar Vortexa mencatat angka itu jatuh drastis menjadi hanya lima kapal atau bahkan lebih sedikit setelah operasi militer dimulai. Kapal-kapal yang nekat melintas menghadapi risiko serangan tinggi, namun potensi keuntungan tetap menarik bagi beberapa pelaut.
Selat ini merupakan jalur tunggal bagi kapal pengangkut energi dari Teluk Persia. Tidak seperti Terusan Suez yang memiliki rute alternatif, kapal tanker dari kawasan ini praktis tidak punya pilihan lain. Akibatnya, tanker bermuatan penuh kini menumpuk di sisi barat selat, sementara kapal kosong menunggu di sisi timur.
Ancaman Militer dan Respons AS
Iran disebut menyiapkan berbagai ancaman laut di sepanjang pesisirnya yang tandus. Sistem pertahanan mencakup ranjau laut, kapal serang cepat, drone, serta rudal balistik dan jelajah yang dapat menargetkan kapal di jalur pelayaran. Pegunungan di pesisir memberikan posisi strategis bagi pertahanan Teheran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi peringatan keras kepada Iran. Ia menyatakan konsekuensi militer akan sangat berat jika ranjau benar-benar dipasang di selat tersebut. Pentagon mengklaim telah menghancurkan 16 kapal kecil yang diduga digunakan untuk menebar ranjau.
Washington berencana memberikan pengawalan militer untuk konvoi tanker dan membantu menekan premi asuransi pelayaran yang melonjak. Langkah ini mengingatkan pada operasi era 1980-an saat perang Iran-Irak, meski situasi saat ini dinilai jauh lebih kompleks.
Dampak pada Ekonomi Global
Lebih dari seperempat ekspor minyak laut dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga minyak dan premi asuransi kapal. Jika ketegangan berlarut, pasar energi berisiko menghadapi guncangan besar karena pasokan dari Teluk Persia menjadi sulit keluar ke pasar internasional.
Para analis militer menilai pembukaan kembali jalur ini tidak akan sederhana. Jika Iran benar-benar menebar ranjau, operasi pembersihan harus dilakukan setelah ancaman rudal, drone, dan kapal cepat dilumpuhkan. Kapal penyapu ranjau sendiri rentan terhadap serangan, sementara teknologi baru menggunakan drone laut masih jarang diuji dalam situasi perang terbuka.
Ancaman di Selat Hormuz tidak berdiri sendiri. Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran sebelumnya sudah menekan jalur pelayaran global di sekitar Bab al-Mandab dan Laut Merah. Serangan drone dan rudal murah dari kelompok tersebut sempat menurunkan arus kapal di jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Terusan Suez.
Beberapa negara Eropa dan Pakistan mulai mempertimbangkan mengirim kapal pengawal sendiri, meski rencana konvoi militer belum benar-benar terbentuk. Geografi wilayah sempit seperti Strait of Hormuz memberi keuntungan bagi pihak yang bertahan di daratan, membuat kapal musuh lebih mudah menjadi target.
Pasar energi global kini menanti perkembangan lebih lanjut dari kawasan yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Stabilitas Selat Hormuz akan menentukan arah harga energi dan keamanan pasokan dalam beberapa bulan mendatang.