"Bismillah, enter!" Frase singkat itu langsung membawaku terbang ke masa lalu, ke sebuah ruang tamu sederhana di rumah orangtuaku, di mana aku masih berusia sepuluh tahun dengan segelas teh manis dan sepiring gorengan menemani sahur. Lorong Waktu bukan sekadar serial televisi biasa. Ia adalah pintu nostalgia yang menghubungkan masa kanak-kanak dengan Ramadan-ramadan yang kini kujalani sebagai orang dewasa.
Tayang pertama kali di akhir era 90-an, Lorong Waktu hadir dengan perpaduan unik yang sulit ditemukan di tayangan sekarang: fiksi ilmiah ringan, komedi yang tidak menggurui, dan nilai-nilai Islam yang membumi. Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, sekuelnya hadir menyapa penonton setia. Lorong Waktu Jilid 2 tayang setelah jam sahur, menemani mereka yang terbangun dan memilih menonton daripada melawan kantuk sendirian.
Bagi generasi milenial sepertiku, serial ini memang terasa spesial. Sosok Haji Husin yang tegas tapi penyayang, Ustaz Addin yang bijaksana, dan Zidan kecil yang lugu selalu menyajikan dinamika yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aku ingat, masa kecilku banyak kuhabiskan di masjid karena papa juga seorang pengurus masjid yang aktif. Menonton Lorong Waktu Jilid 2, aku seolah ditarik kembali ke masa-masa itu. Suatu masa di mana kebahagiaan diukur dari hal-hal sederhana, dan rasa aman masih terasa utuh karena papa selalu ada.
Namun, di balik kehangatan nostalgia, ada kesadaran pahit yang menyelinap. Umurku semakin berkurang. Papa kini sudah tiada, berpulang menghadap Sang Pencipta beberapa tahun lalu. Menonton Lorong Waktu menjadi cara bagiku untuk kembali merasakan kehangatan itu, meski hanya melalui ingatan.
Lorong Waktu Jilid 2 tetap mempertahankan ciri khas yang membuat seri pertamanya dicintai. Set panggung yang sederhana, efek visual yang sengaja dipertahankan dengan gaya khas zamannya, hingga humor-humor ringan yang justru memperkuat rasa nostalgia. Namun yang menarik, sekuel ini juga berani mengembangkan cerita dengan menyentuh isu-isu sosial terkini tanpa kehilangan jati dirinya.
Masjid Raya Baitussalam masih menjadi pusat cerita. Haji Husin yang diperankan Deddy Mizwar kini hadir dengan perawakan lebih tua, suara yang sedikit parau, tapi tetap berwibawa dengan kegalakannya yang khas. Zidan, yang dulu bocah kecil lugu, kini tumbuh menjadi ustad muda diperankan Lavicky Nicholas. Ia kembali ke masjid itu dan mulai membina anak-anak, termasuk seorang murid perempuan bernama Cantika yang diperankan Inara Ramadhania. Cantika digambarkan cerdas dan menarik perhatian, menjadi karakter baru yang kuat dalam alur cerita.
Yang paling menarik, kekuatan utama serial ini justru terletak pada dinamika Haji Husin dan Cantika. Bersama, mereka menyusuri lorong waktu untuk melihat kisah-kisah di sekeliling dengan tujuan menyampaikan pesan moral tanpa harus terkesan menggurui penonton. Setiap perjalanan lintas waktu menawarkan perspektif segar tentang bagaimana nilai-nilai Islam tetap relevan di berbagai zaman. Dari situlah rasa kagum sekaligus kedekatan emosional muncul. Aku merasa iman ini seperti "ditumbuhkan" kembali lewat cerita-cerita sederhana yang disampaikan.
Lorong Waktu Jilid 2 juga kian seru dengan penekanan pada pentingnya kejujuran. Celotehan anak-anak yang polos sering kali justru menampar keras kehidupan orang dewasa. Humor ringan pun hadir melalui karakter-karakter asisten marbot seperti Arjuna (Ozzol Ramdan) dan Untung (Zulfikar Hasan). Ramadan tahun ini semakin segar dengan kembalinya karakter Havid yang diperankan Opie Kumis. Dari dialog-dialog mereka, kisah-kisah sederhana tentang menghargai waktu, adab terhadap orang tua, dan hormat kepada guru semakin kuat mengemuka.
Saat menonton salah satu episode kemarin, aku mendapat pelajaran berharga tentang bagaimana kesalahpahaman bisa meruncingkan konflik dan membuat orang saling menyalahkan. Skenario yang ditulis dengan apik berhasil mengemas pemaknaan ibadah dan pandangan tentang Islam dalam kehidupan sehari-hari secara alami. Tak melulu dakwah formal, Lorong Waktu Jilid 2 justru memperlihatkan Islam sebagai agama yang memegang teguh kenyamanan bersama. Dari esensi salat berjamaah hingga diskusi ringan tentang akhlak, semua tersaji dengan hangat. Pesan yang muncul terasa dekat: Islam bukan hanya aturan, tetapi agama yang menawarkan jalan hidup menenangkan.
Produksi Demi Gisela Citra Sinema dengan sutradara Tito Kurnianto ini berhasil menggarap adegan-adegan yang mudah dipahami anak-anak, namun tetap relevan bagi penonton dewasa. Hanya saja, ada sedikit catatan. Sutradara perlu lebih jeli dan fokus memilih pesan moral mana yang ingin ditonjolkan secara konsisten di setiap episode agar penonton tidak terlalu berat mencerna. Terkadang, beberapa pesan terasa tumpang tindih sehingga mengurangi kekuatan dampak emosionalnya.
Di tengah gempuran hiburan lain yang kadang justru menyesatkan, Lorong Waktu Jilid 2 hadir sebagai oase. Ia membuktikan bahwa tayangan anak dan keluarga bisa mendidik tanpa kehilangan unsur hiburan. Serial ini menghadirkan nostalgia sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai Islam dapat ditanamkan melalui cerita sederhana, dekat, dan hangat. Tak heran, bagi banyak orang termasuk aku, menonton kembali Lorong Waktu bukan hanya bernostalgia, melainkan cara sederhana untuk kembali merasakan kedekatan dengan ajaran Islam dalam keseharian.