Daun Muda
Oleh: Ujang Trisno
Halaman 1
Anak laki-laki itu lahir di antara dua musim yang tak pernah bisa memutuskan kapan harus berganti. Hujan masih setia mengguyur atap seng rumahnya yang bocor di tujuh tempat, tapi di ujung timur langit, matahari sudah menyingsing seperti orang yang terlalu percaya diri. Orang-orang menyebutnya musim pancaroba. Tapi neneknya, perempuan tua dengan lipatan waktu di sekujur wajah, menyebutnya sebagai waktu yang bingung.
“Kamu lahir di waktu yang bingung, Nak,” kata neneknya sambil menggendongnya erat, seolah takut bayi mungil itu akan terbawa angin yang tak menentu arahnya. “Tapi jangan takut. Daun yang tumbuh di musim bingung biasanya paling kuat. Karena dia belajar berakar sementara langit tak menentu.”
Anak itu diberi nama Hujan. Bukan karena ia lahir saat hujan, tapi karena ibunya—perempuan yang melahirkannya sendirian di atas dipan bambu—berbisik pada bidan, “Anak ini akan turun membasahi banyak hal. Seperti hujan. Kadang disambut, kadang dibenci. Tapi tak ada yang bisa menghentikannya.”
Setelah melahirkan, ibunya pergi.
Bukan minggir ke dapur atau ke belakang rumah untuk mencuci kain. Tapi benar-benar pergi. Pagi-pagi buta ketika ayam belum berbunyi dan embun masih setengah hati membasahi rumput, ibunya mengambil tas kecil berisi dua helai baju dan sisir rambut, lalu menghilang ke arah timur. Kabarnya, ia naik truk pasir menuju kota yang bahkan namanya tak pernah disebutkan siapa pun dengan jelas.
Hujan kecil tidak menangis.
Atau mungkin ia menangis, tapi karena bayi belum punya bahasa untuk kesedihan, air matanya hanya dianggap sebagai kencing atau rewel biasa. Neneknyalah yang paling keras menangis malam itu. Tapi paginya, neneknya sudah bangun lebih awal dari biasanya. Ia menumbuk beras untuk bubur, lalu menyuapi Hujan dengan sendok kayu yang sudah aus karena umur.
“Kita berdua saja, Nak,” kata neneknya sambil mengusap dagu Hujan yang belepotan. “Tapi dua orang sudah cukup untuk memulai sesuatu.”
---
Hujan tumbuh seperti ilalang di pinggir sawah—tak dirawat khusus, tapi entah mengapa selalu tegak. Ia belajar merangkak di lantai tanah yang lembap. Belajar berjalan sambil berpegangan pada kaki kursi bambu yang sudah reyot. Belajar bicara bukan dari ibunya, tapi dari siaran radio transistor tua yang hanya bisa menangkap satu stasiun dengan suara serak-serak basah.
Ketika Hujan berusia lima tahun, ia mulai bertanya tentang ibunya.
Neneknya sedang menjemur pakaian di belakang rumah ketika Hujan menarik ujung sarungnya.
“Nek, ibu ke mana?”
Neneknya berhenti. Tangannya yang memegang jepitan kain menggantung di udara. Ia menatap langit timur—arah yang sama yang dulu diambil ibunya—lalu menarik napas panjang.
“Ibu pergi mencari uang, Nak.”
“Kapan pulang?”
“Saat daun-daun muda sudah cukup tua untuk mengerti.”
Hujan tidak mengerti maksudnya. Tapi anak laki-laki seusianya punya kemampuan ajaib untuk menerima jawaban yang tidak masuk akal, lalu menyimpannya di dalam hati seperti orang menyimpan rahasia. Ia hanya mengangguk, lalu lari ke belakang rumah untuk mengejar capung yang hinggap di daun pepaya.
Tapi malam itu, saat neneknya sudah mendengkur pelan, Hujan terbangun. Ia merangkak ke jendela kayu yang tidak pernah benar-benar tertutup rapat. Bulan sedang setengah sabit, menggantung rendah seperti anting yang jatuh dari telinga langit.
“Ibu,” bisiknya pelan, “aku di sini. Di rumah yang atapnya bocor. Di samping nenek yang kadang menangis kalau kupikir aku tidur.”
Angin malam membawa bau tanah basah dan dedaunan yang mulai membusuk. Tidak ada jawaban.
Tapi Hujan merasa ada sesuatu yang mendengarnya. Entah itu bulan, atau angin, atau pohon jambu di halaman yang sudah berusia puluhan tahun. Ia tidak tahu. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan ada yang bernama rindu—meskipun ia belum tahu kata itu.
Usia tujuh tahun, Hujan masuk sekolah dasar. Bukan karena ada yang mendaftarkannya, tapi karena neneknya berjalan kaki tiga kilometer ke kantor desa untuk mengurus surat, lalu menjual seekor ayam petelur kesayangannya demi uang seragam dan buku.
Hari pertama sekolah, Hujan datang dengan sandal jepit yang sudah sobek di bagian kiri. Teman-temannya menertawakannya. Tapi Hujan hanya tersenyum. Senyum yang diajarkan neneknya secara diam-diam: kalau kau tidak bisa mengubah apa yang orang katakan, ubahlah cara kau mendengarkannya.
Gurunya, Bu Lastri, perempuan muda lulusan sekolah guru yang baru setahun mengabdi di desa, melihat sesuatu di mata Hujan yang tidak biasa. Bukan kecerdasan—karena banyak anak pintar di kelas itu. Tapi semacam kerinduan yang tidak rewel. Seperti anak yang sudah menerima bahwa dunia tidak berhutang kebahagiaan padanya, tapi tetap berusaha menjadi baik.
“Hujan,” panggil Bu Lastri suatu sore sepulang sekolah, “kamu mau ikut lomba baca puisi? Nanti hadiahnya uang. Bisa buat beli sepatu baru.”
“Sepatu?” Hujan mengerjap. “Bu, saya belum pernah pakai sepatu.”
Bu Lastri terdiam. Lalu ia menangis. Tapi ia membalikkan tubuhnya agar Hujan tidak melihat.
“Besok kamu latihan dengan saya,” kata Bu Lastri sambil berpura-pura bersin. “Kamu akan menang. Saya yakin.”
Hujan tidak tahu apa itu puisi. Tapi malamnya, neneknya mengajarinya satu hal yang kelak akan menjadi bekal paling berharga dalam perjalanan hidupnya:
“Nak, puisi itu bukan soal kata-kata indah. Puisi adalah keberanian untuk berkata jujur ketika seluruh dunia memintamu diam.”
Di sinilah perjalanan sesungguhnya dimulai. Bukan dengan tangisan, bukan dengan keputusasaan, tapi dengan seorang anak laki-laki yang memutuskan untuk menjadi daun muda di tengah musim yang bingung.
Hujan akan belajar bahwa hidup tidak selalu berpihak. Bahwa orang yang ia cintai akan terus pergi. Bahwa kadang, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menjadi kecil—tapi kuat seperti akar yang merayap di sela-sela batu.
Tapi semua itu nanti.
Untuk sekarang, cukup tahu bahwa di sebuah desa kecil yang bahkan tidak punya nama di peta, seorang anak laki-laki sedang berlatih puisi di bawah lampu minyak tanah. Neneknya mendengarkan sambil menjahit celana pendek yang sobek. Angin malam masih bau tanah basah. Dan bulan, bulan yang sama yang dulu ia ajak bicara saat berumur lima tahun, masih setia menggantung rendah di timur.
Menunggu.
Seperti ibunya yang tak kunjung pulang.
Tapi Hujan tidak lagi menunggu.
Ia berjalan.
Bersambung...