Daun Muda
Oleh: Ujang Trisno
Halaman 2
Tiga tahun kemudian, Hujan sudah kelas empat SD. Sepatu yang dulu ia beli dari hasil lomba baca puisi kini sudah kekecilan. Tapi ia tidak membuangnya. Ia simpan di bawah tempat tidur, di dalam kantong plastik bekas beras, sebagai semacam bukti bahwa ia pernah menang atas sesuatu.
Neneknya mulai sering sakit-sakitan. Awalnya hanya batuk-batuk kecil di pagi hari. Tapi lama-lama batuk itu menjadi basah, berat, seperti ada sesuatu yang mengendap di dadanya dan tidak mau pergi. Hujan sering terbangun tengah malam mendengar neneknya terbatuk-batuk di kamar sebelah. Kadang ia berlari kecil membawakan segelas air hangat. Kadang ia hanya duduk di depan pintu kamar neneknya, mendengarkan, berdoa pada Tuhan yang belum benar-benar ia kenal.
“Nek, berobat ke puskesmas yuk,” kata Hujan suatu hari.
“Tidak usah, Nak. Ini hanya masuk angin. Nenek sudah tua. Orang tua itu seperti pohon pisang. Setelah berbuah, pasti mati.”
“Nenek belum mati,” potong Hujan cepat. Matanya merah. “Nenek belum lihat saya besar.”
Neneknya tertawa pelan. Tertawa yang terdengar seperti dedaunan kering yang digesekkan satu sama lain.
“Kamu sudah besar, Nak. Kamu tidak sadar? Dulu kamu hanya segulung kain di pangkuanku. Sekarang kamu sudah bisa menimba air, memasak nasi, dan membacakan puisi di depan orang banyak. Itu sudah besar.”
“Tapi saya belum punya pekerjaan. Belum punya rumah sendiri. Belum—belum ketemu ibu.”
Nama ibu terakhir kali disebutkan Hujan dua tahun lalu, dan saat itu neneknya menjawab dengan diam yang panjang. Tapi sekarang, malam itu, neneknya tidak diam.
“Ibu kamu…” neneknya berhenti. Menarik napas yang terasa seperti mengangkat batu. “Ibu kamu bukan perempuan jahat, Nak. Ia hanya perempuan yang takut. Takut miskin. Takut melihat anaknya lapar. Jadi ia pergi, karena di kepalanya yang masih muda dulu, pergi adalah satu-satunya cara untuk mencintai.”
Hujan menggigit bibir bawahnya.
“Tapi saya tidak minta ia pergi. Saya hanya minta ia ada.”
Neneknya mengulurkan tangan yang keriput dan penuh urat, lalu mengusap kepala Hujan perlahan. Sama persis seperti saat Hujan masih bayi, ketika ibunya baru saja pergi dan neneknya harus menjadi ayah, ibu, dan rumah sekaligus.
“Daun muda, Nak, tidak bisa memilih pohon tempat ia tumbuh. Tapi ia bisa memilih akan jadi apa setelah jatuh ke tanah. Apakah ia akan membusuk diam-diam, atau menjadi pupuk bagi yang baru tumbuh.”
Hujan tidak menangis malam itu. Tapi ia memeluk neneknya sangat lama. Hingga batuk-batuk neneknya reda. Hingga lampu minyak tanah kehabisan sumbu. Hingga ayam jantan tetangga mulai berbunyi, menandakan malam hampir usai.
Keesokan harinya, Hujan tidak pergi ke sekolah.
Ini pertama kalinya ia bolos. Bukan karena malas, tapi karena ia punya rencana yang bahkan tidak ia sadari sebagai rencana. Ia berjalan ke arah timur. Arah yang dulu diambil ibunya. Arah yang selama ini ia hindari karena terlalu sakit untuk diingat.
Desanya tertinggal di belakang. Sawah-sawah berganti dengan kebun karet, lalu hutan kecil, lalu jalanan berbatu yang tidak pernah dilewati mobil. Hujan berjalan tanpa bekal, tanpa uang, tanpa apa pun selain tekad yang menggebu-gebu di dadanya—padahal ia sendiri tidak tahu apa yang ingin ia buktikan.
Setelah sekitar dua jam berjalan, ia sampai di sebuah pertigaan. Tidak ada rambu. Tidak ada tanda. Hanya tiga jalan yang membentang ke arah berbeda, semuanya tampak sama-sama sunyi.
Hujan berdiri di tengah pertigaan itu. Angin bertiup dari utara, membawa bau asap dan tanah kering. Ia memejamkan mata.
“Ibu,” bisiknya, “aku di sini. Di pertigaan yang tidak ada namanya. Aku tidak tahu harus ke mana. Tapi aku janji, aku tidak akan berhenti sampai aku menemukanmu. Bukan karena aku marah. Bukan karena aku butuh uang. Tapi karena aku ingin bilang: aku baik-baik saja. Nenek baik-baik saja. Dan aku memaafkanmu.”
Dia membuka mata.
Lalu ia mengambil jalan tengah. Bukan karena ada firasat atau petunjuk gaib. Tapi karena jalan tengah adalah jalan yang paling sedikit ditumbuhi rumput. Artinya, paling sering dilewati orang. Artinya, paling mungkin membawanya ke sesuatu.
Hujan terus berjalan. Matanya lurus ke depan. Pundaknya tidak membungkuk meskipun kakinya sudah melepuh karena sandal jepit yang semakin tipis.
Ia tidak tahu bahwa di ujung jalan itu, bukan ibunya yang menunggu.
Tapi awal dari segalanya yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Bersambung ke halaman 3...