Daun Muda
Oleh: Ujang Trisno
Halaman 3
Jalan tengah itu membawa Hujan ke sebuah stasiun kereta api kecil. Bukan stasiun ramai dengan lampu-lampu terang dan papan informasi digital. Hanya bangunan tua berlantai semen retak, satu bangku panjang dari kayu jati yang sudah mengelupas catnya, dan papan nama yang nyaris tak terbaca karena lumut.
Hujan belum pernah naik kereta api. Ia hanya pernah melihatnya di televisi milik Pak RT, itu pun cuma sekilas saat malam tahun baru. Tapi ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Bukan keretanya. Tapi orang-orangnya.
Seorang bapak dengan kardus di punggung. Seorang ibu muda menggendong bayi sambil menarik koper kecil rodanya patah. Tiga anak laki-laki sebaya Hujan yang duduk lesu di lantai, wajah mereka penuh debu dan mata yang terlalu dewasa untuk anak seusia itu.
“Kalian mau ke mana?” tanya Hujan pada salah satu dari mereka.
Anak itu menoleh. Mukanya kusam, bibirnya pecah-pecah. “Ke kota. Cari kerja.”
“Umur berapa?”
“Sepuluh. Sama kayak kamu.”
Hujan terdiam. Di desanya, anak umur sepuluh masih bermain layang-layang dan mencuri jambu tetangga. Tapi di sini, di stasiun reyot ini, anak umur sepuluh sudah bicara soal kerja seperti orang dewasa yang kehabisan pilihan.
“Ayah-ibu kalian tahu?” tanya Hujan lagi.
Anak itu tertawa pahit. “Ayahku pulang enggak tahu kapan. Ibuku meninggal tahun lalu. Jadi ya... aku yang tahu buat diriku sendiri.”
Hujan ingin mengatakan sesuatu. Tapi tenggorokannya terasa tersumbat. Ia ingat neneknya. Ia ingat ibunya yang pergi. Ia ingat bagaimana rasanya bangun pagi tanpa siapa pun yang menyiapkan sarapan kecuali diri sendiri.
“Aku ikut,” kata Hujan tiba-tiba.
Anak itu mengernyit. “Ikut ke kota? Kamu punya uang buat tiket?”
Hujan menggeleng.
“Orang di sana tahu siapa kamu?”
Hujan menggeleng lagi.
“Terus ngapain kamu ikut?”
Hujan menatap rel kereta yang membentang ke timur, menghilang di balik pepohonan. “Karena di desaku, aku hanya menunggu. Di sini, setidaknya aku berjalan.”
Anak itu mengamati Hujan lama. Lalu ia mengangguk pelan. “Nama aku Jaya. Kalau kamu ikut, kamu harus bisa jaga diri sendiri. Kota tidak sebaik yang orang bayangkan.”
“Aku Hujan. Dan aku sudah dijaga oleh nenekku selama sepuluh tahun. Sekarang giliranku yang menjagaku.”
Kereta datang terlambat satu jam. Lokomotif tua itu merangkak masuk ke stasiun seperti kakek-kakek yang kehabisan nafas. Pintu gerbong terbuka dengan bunyi berderit panjang, mengeluarkan bau anyir campur asap rokok dan keringat puluhan orang yang semuanya tampak lelah.
Hujan masuk ke gerbong paling belakang. Ia tidak punya tiket, tapi kondektur hanya meliriknya sekilas lalu pergi. Mungkin karena Hujan kecil dan kurus, mungkin karena kondektur itu sudah terlalu lelah untuk menggusur anak-anak miskin dari kereta yang sama-sama reyot.
Kereta mulai bergerak. Pelan. Terguncang-guncang. Seperti hidup yang tidak pernah mulus.
Hujan duduk di dekat jendela. Kacanya retak di satu sisi, dan angin malam masuk lewat celah itu, membawa bau hutan dan tanah basah. Di luar, pohon-pohon berlarian ke belakang. Sesekali lampu rumah penduduk menyala redup di kejauhan, lalu menghilang digantikan kegelapan.
Jaya duduk di sampingnya. Diam. Matanya menatap langit-langit gerbong yang bolong di beberapa tempat.
“Kamu enggak takut?” tanya Jaya tiba-tiba.
“Takut apa?”
“Enggak tahu. Masa depan. Orang jahat. Kelaparan. Semuanya.”
Hujan memikirkan pertanyaan itu. Ia ingat neneknya yang sedang sakit. Ia ingat ibunya yang entah di mana. Ia ingat ia tidak punya uang, tidak punya rumah di kota, tidak punya rencana.
“Takut,” jawab Hujan jujur. “Tapi kalau aku diam di desa, aku juga takut. Takut nenekku meninggal tanpa aku bisa beli obat. Takut aku jadi lelaki yang hanya bisa menyesal. Jadi lebih baik takut sambil berjalan, daripada takut sambil duduk diam.”
Jaya tidak menjawab. Tapi ia menyandarkan kepalanya di bahu Hujan, dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia merasa tidak sendirian.
Kereta terus melaju. Malam semakin pekat. Di suatu tikungan, sesosok bayangan lewat cepat di luar jendela. Hujan hampir tidak menyadarinya. Tapi sesuatu membuatnya menoleh.
Seorang perempuan. Berdiri di pinggir rel. Sendirian. Wajahnya samar karena tertutup kerudung lusuh, tapi posturnya... ada yang familiar. Cara ia berdiri. Cara tangannya memegang tas kecil di dadanya. Cara kepalanya sedikit menunduk, seperti orang yang sudah lama berhenti berharap.
Hujan menempelkan wajahnya ke kaca retak itu.
“Bu...” bisiknya. Hampir tidak terdengar.
Kereta melaju lebih cepat. Perempuan itu menghilang di balik kegelapan.
Hujan mengetuk kaca. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sampai Jaya menarik tangannya.
“Ada apa?” tanya Jaya.
Hujan tidak menjawab. Matanya masih menatap ke luar, ke arah bayangan yang sudah lenyap ditelan malam.
Mungkin hanya khayalan.
Mungkin hanya lelah.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu bergetar. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh anak laki-laki seusianya.
Bahwa kadang, sebelum menemukan sesuatu, kau harus kehilangan dulu. Berkali-kali. Sampai kau tahu persis seperti apa rupa hal yang kau cari.
Bersambung ke halaman 4...