JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Tahun Baru Persia (Nowruz) 2026 yang jatuh pada 20 Maret dirayakan dalam suasana paling sunyi dalam sejarah modern Iran. Warga negara ini untuk pertama kalinya menyambut musim semi di tengah kecamuk perang yang telah berlangsung tiga pekan, mengubah tradisi ribuan tahun menjadi momen penuh ketegangan dan duka.
- Suasana Hening di Teheran
- Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
- Perubahan dalam Tradisi Keagamaan
- Dampak Ekonomi yang Parah
- Keteguhan Warga di Tengah Krisis
Suasana Hening di Teheran
Jalan-jalan Teheran yang biasanya riuh dengan tarian dan nyanyian Nowruz kini sunyi. Pemerintah melarang kerumunan massa, khawatir aksi protes menyusup dalam perayaan. Ritual api unggun Chaharshanbe Suri, tradisi berusia ribuan tahun untuk mengusir penyakit dan kesulitan, nyaris tak terlihat tahun ini.
Amir, warga Teheran, menyatakan kekhawatiran mendalam. "Orang-orang kehilangan pekerjaan karena perang. Infrastruktur negara hancur dengan cepat. Saya takut ini menjadi tahun baru terakhir kami," ujarnya kepada BBC.
Keteguhan di Tengah Ketakutan
Meski ketakutan melanda, semangat bertahan tetap hidup. Parmis, penduduk Teheran lain, bercerita tentang pengalamannya saat ledakan mengguncang kota. "Saya sedang di salon kecantikan ketika ledakan besar terjadi. Tak seorang pun bergeming," katanya.
Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
Nowruz tahun ini datang membawa beban duka yang luar biasa. Data terbaru mencatat lebih dari 3.100 korban tewas sejak perang dimulai 28 Februari. Angka ini mencakup:
- Lebih dari 1.300 warga sipil
- Minimal 200 anak-anak
- 70.000 bangunan sipil rusak
- 251 pusat kesehatan hancur
- 498 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan
Kerusakan infrastruktur mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Banyak warga seperti Amir merasa pesimis dengan masa depan negara.
Perubahan dalam Tradisi Keagamaan
Idul Fitri yang bertepatan dengan Nowruz tahun ini juga mengalami perubahan signifikan. Salat Jumat Id tetap diselenggarakan, namun tanpa kehadiran pemimpin tertinggi untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Iran.
Pemimpin Baru yang Tak Tampil
Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi baru yang menggantikan ayahnya yang gugur di hari pertama perang, belum pernah tampil di depan publik. Ia hanya menyampaikan pesan tertulis yang dibacakan di televisi, menegaskan bahwa "musuh telah dikalahkan."
Ketiadaan sosok pemimpin dalam salat Id membuat warga merasakan situasi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tradisi keagamaan harus beradaptasi dengan realitas perang.
Dampak Ekonomi yang Parah
Sektor ekonomi menerima pukulan berat akibat perang. Pasar tradisional Grand Bazaar Teheran yang biasanya ramai menjelang Nowruz kini sepi. Banyak toko terpaksa tutup karena berbagai alasan:
- Kekurangan pasokan barang
- Kesulitan transportasi
- Menurunnya daya beli masyarakat
- Kekhawatiran keamanan
Harga melonjak di atas inflasi yang sudah mencapai 36 persen. Keluarga-keluarga terpaksa melewatkan tradisi belanja Tahun Baru dan Lebaran. Ekonomi rumah tangga terjepit antara kebutuhan hidup dan tradisi budaya.
Keteguhan Warga di Tengah Krisis
Nowruz telah dirayakan lebih dari 3.000 tahun, melambangkan identitas dan harapan bangsa Persia. Di tengah krisis, tradisi tetap dipertahankan dengan penyesuaian.
Haft Sin yang Sederhana
Tradisi "Haft Sin"—meja berisi tujuh benda dengan huruf awal 'S' yang melambangkan kesehatan dan kemakmuran—tetap disiapkan banyak keluarga. Namun penyajiannya menjadi lebih sederhana, menyesuaikan dengan kondisi ekonomi yang sulit.
Makna Baru dalam Tradisi
Setiap simbol dalam Haft Sin kini mengandung makna tambahan. Sabzeh (kecambah) tidak hanya melambangkan kelahiran kembali, tetapi juga harapan untuk bangkit dari kehancuran perang. Samanu (puding manis) menjadi pengingat akan manisnya perdamaian yang hilang.
Rentetan serangan Israel terus mengguncang Teheran hingga hari perayaan. Serangan balasan Iran ke fasilitas energi di Teluk menambah ketegangan regional. Di tengah semua ini, warga Iran menjalani Nowruz dengan tekad bertahan yang terukir dalam diam.
Nowruz tahun ini mungkin paling sunyi dalam catatan sejarah. Bagi warga Iran yang terus bertahan di bawah bayang-bayang perang, perayaan ini menjadi bukti ketangguhan. Tradisi ribuan tahun tetap hidup meski ledakan menggema. Harapan untuk perdamaian dan musim semi baru tetap menyala, seperti api kecil di tengah kegelapan malam perang.