JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai belum cukup menjamin stabilitas di Timur Tengah selama agresi Israel di Lebanon masih berlangsung. Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut memang membuka harapan baru, namun prospeknya masih menghadapi tantangan besar.
Kesepakatan AS-Iran Buka Ruang Diplomasi
Darmansjah menilai kesepakatan damai AS-Iran merupakan perkembangan penting setelah kedua negara bertahun-tahun terjebak dalam siklus konfrontasi, sanksi, dan ancaman militer. Mantan Duta Besar RI untuk Austria dan PBB itu mengatakan, Washington dan Teheran akhirnya menunjukkan kesediaan menempuh jalur diplomasi sebagai instrumen penyelesaian konflik.
Menurut dia, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) memiliki arti strategis dalam menurunkan ketegangan antara AS dan Iran. Ketegangan kedua negara selama ini menjadi salah satu sumber utama instabilitas di kawasan Timur Tengah.
Darmansjah mengatakan, implementasi MoU tersebut dapat memperkuat kembali diplomasi dan negosiasi sebagai mekanisme utama dalam menyelesaikan sengketa internasional. Hubungan yang lebih konstruktif antara AS dan Iran juga berpotensi mendorong stabilitas politik dan keamanan di kawasan Teluk serta Timur Tengah secara lebih luas.
Namun, optimisme itu belum sepenuhnya dapat dijadikan jaminan bahwa perdamaian akan segera terwujud. Dinamika kawasan masih sangat dipengaruhi oleh tindakan Israel.
Agresi Israel Jadi Ujian Serius
Darmansjah mengatakan, serangan Israel di Lebanon selatan menjadi ujian serius bagi kelanjutan proses damai AS-Iran. Bagi Iran, agresi Israel tidak hanya dipandang sebagai ancaman terhadap sekutunya di kawasan, tetapi juga sebagai upaya mempertahankan politik konfrontasi.
Menurut Darmansjah, tindakan Israel juga dapat dilihat sebagai hambatan terhadap proses normalisasi hubungan antara AS dan Iran. Serangan militer Israel di Lebanon selatan terjadi hanya dua hari setelah kesepakatan AS-Iran disetujui.
"Meskipun AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, prospeknya di Timur Tengah masih diragukan," kata Darmansjah dikutip dari Antara, Senin (22/6/2026).
Agresi Israel di Lebanon selatan dinilai sebagai ujian serius bagi kelanjutan proses damai. Iran melihat serangan tersebut sebagai upaya mempertahankan politik konfrontasi dan ancaman terhadap sekutunya di kawasan.
Dengan demikian, perdamaian AS-Iran belum dapat diwujudkan secara penuh selama Israel terus melanjutkan agresinya di Lebanon. Situasi ini membutuhkan perhatian internasional untuk mendorong penghentian kekerasan dan kembali ke meja perundingan.