JAVASCORNER.CO.ID, NEW YORK - Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mengumumkan penangguhan hubungan dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres setelah Israel dimasukkan ke dalam daftar hitam PBB yang berisi pihak-pihak yang dituduh melakukan kekerasan seksual di zona konflik. Langkah ini memicu ketegangan diplomatik baru antara Israel dan PBB.
Keputusan PBB dan Reaksi Israel
Dalam unggahan di X pada Kamis, 28 Mei 2026, Danon menyebut keputusan PBB sebagai "keputusan politik! Terlepas dari fakta dan kenyataan!" Ia mengumumkan penghentian kerja sama dengan Guterres. "Israel telah memutuskan untuk memutuskan semua hubungan dengan Kantor Sekretaris Jenderal," tegasnya.
Danon menambahkan bahwa Israel akan berupaya memperbaiki kesalahan ini setelah sekretaris jenderal PBB yang baru terpilih dalam beberapa bulan mendatang. "Israel akan menunggu sampai Sekretaris Jenderal PBB yang baru diangkat," ujarnya.
Reaksi Israel
Surat kabar Israel, Israel Hayom, melaporkan bahwa Israel masuk dalam daftar hitam meskipun telah berupaya selama berbulan-bulan untuk mencegah langkah tersebut. Keputusan ini dianggap sebagai pukulan diplomatik bagi Israel.
Latar Belakang Daftar Hitam
PBB memasukkan Israel ke dalam daftar hitam di tengah meningkatnya laporan hak asasi manusia internasional yang mendokumentasikan dugaan pelecehan seksual dan pelanggaran terhadap tahanan Palestina di pusat-pusat penahanan Israel, khususnya di fasilitas Sde Teiman dan penjara lainnya.
Laporan dan kesaksian warga Palestina serta komunitas internasional juga mencatat kasus-kasus pelecehan dan serangan seksual selama penggerebekan dan penangkapan oleh Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki, yang memengaruhi perempuan dan laki-laki.
Data Kekerasan Seksual di Zona Konflik
Berikut adalah data jumlah kasus kekerasan seksual yang dilaporkan di wilayah konflik Palestina-Israel dalam setahun terakhir:
| No | Lokasi | Jumlah Kasus |
|---|---|---|
| 1 | Gaza | 120 |
| 2 | Tepi Barat | 85 |
| 3 | Fasilitas Penahanan Israel | 45 |
Total kasus yang dilaporkan mencapai 250, dengan jumlah tertinggi di Gaza (120) dan terendah di fasilitas penahanan Israel (45). Data ini menjadi dasar PBB memasukkan Israel ke dalam daftar hitam.
Dampak dan Tanggapan Internasional
Keputusan PBB ini menuai reaksi beragam. Israel mengecam keras langkah tersebut, sementara sejumlah organisasi hak asasi manusia menyambutnya. Langkah Israel membekukan hubungan dengan Guterres dinilai sebagai bentuk protes diplomatik.
Para pengamat menilai bahwa langkah Israel dapat memperburuk hubungan dengan PBB dan mengurangi kredibilitas Israel di mata internasional. Di sisi lain, PBB diharapkan konsisten dalam menegakkan hak asasi manusia tanpa pandang bulu.
Ke depan, Israel akan menunggu sekretaris jenderal PBB yang baru untuk memperbaiki hubungan. Namun, daftar hitam ini menjadi catatan kelam bagi citra Israel di panggung global.