JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA SELATAN - Seorang pedagang kopi keliling mengamuk dan mengancam petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat proses penertiban di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (10/4/2026). Insiden yang terekam video itu viral di media sosial dalam hitungan jam.
Kronologi Insiden
Video berdurasi 47 detik menunjukkan ketegangan antara pedagang berusia sekitar 40 tahun dengan enam petugas Satpol PP. Rekaman dimulai saat petugas mendatangi gerobak kopi keliling yang berjualan di trotoar Jalan Setiabudi.
Petugas meminta pedagang menyingkir karena melanggar peraturan daerah tentang ketertiban umum. Pedagang awalnya tampak kooperatif, namun tiba-tiba berubah sikap ketika petugas mulai mengamankan gerobaknya.
Eskalasi Ketegangan
Dalam rekaman terlihat pedagang mengeluarkan benda tajam dari saku celananya. Ia mengacungkan benda tersebut sambil berteriak, "Saya cari makan saja susah, masih diganggu!"
Petugas langsung mengambil jarak aman. Salah satu anggota Satpol PP berteriak memperingatkan rekan-rekannya, "Hati-hati, dia bawa senjata!"
Reaksi Petugas
Tim Satpol PP dengan cepat melakukan prosedur standar penanganan konflik. Mereka membentuk formasi dan berusaha menenangkan pedagang sambil mengamankan warga sekitar.
"Kami tidak berniat menyakiti bapak. Silakan kooperatif, nanti kita bicara baik-baik," ujar salah satu petugas dalam video.
Pengamanan Pelaku
Setelah sekitar 15 menit negosiasi, pedagang akhirnya menyerahkan senjata tajam tersebut. Petugas kemudian membawanya ke Kantor Satpol PP Jakarta Selatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Gerobak kopi keliling diamankan sebagai barang bukti. Tidak ada korban luka dalam insiden ini meskipun sempat terjadi kepanikan di lokasi.
Latar Belakang
Camat Setiabudi Iswahyudi mengungkapkan, pedagang tersebut sudah beberapa kali mendapat peringatan. "Ini bukan pertama kalinya beliau berjualan di tempat terlarang. Sudah tiga kali kami beri surat peringatan," jelas Iswahyudi saat dikonfirmasi.
Menurut data Satpol PP Jakarta Selatan, kawasan Setiabudi termasuk titik rawan pelanggaran ketertiban:
- 15 pedagang kaki lima beroperasi ilegal
- 7 pengaduan warga per bulan
- 3 kali operasi penertiban bulan April 2026
Pernyataan Pedagang
Pedagang yang hanya dikenali sebagai Bambang membantah berniat menyerang petugas. "Saya cuma takut gerobak saya diambil. Itu satu-satunya alat mencari nafkah," katanya di Kantor Satpol PP.
Ia mengaku sudah berjualan kopi keliling selama lima tahun. Penghasilannya sekitar Rp 150.000 per hari untuk menghidupi istri dan dua anak.
Respons Pemerintah
Kepala Satpol PP Jakarta Selatan, Ahmad Yani, menegaskan penertiban akan terus dilakukan secara profesional. "Kami punya tugas menjaga ketertiban. Tapi kami juga memahami kesulitan ekonomi masyarakat," ujarnya.
Pemerintah Kota Jakarta Selatan berencana melakukan pendekatan berbeda untuk pedagang seperti Bambang:
- Pemetaan ulang lokasi berjualan yang diizinkan
- Pendampingan perizinan berusaha
- Pelatihan kewirausahaan dasar
- Koordinasi dengan dinas sosial untuk bantuan tepat sasaran
Reaksi Media Sosial
Video insiden ini telah dibagikan lebih dari 10.000 kali di berbagai platform. Tanggapan netizen terbelah antara mendukung penertiban dan menyayangkan nasib pedagang kecil.
Akun Twitter @JakartaUpdate menulis, "Penertiban perlu, tapi empati juga penting. Banyak pedagang seperti ini korban sistem, bukan pelaku kriminal."
Di sisi lain, akun @DisiplinJakarta berkomentar, "Aturan dibuat untuk dipatuhi semua orang. Kalau semua pedagang berjualan sembarangan, lalu kemana tertib kotanya?"
Insiden ini mengingatkan pentingnya keseimbangan antara penegakan peraturan dan pendekatan humanis terhadap pedagang kecil. Pemerintah daerah ditantang mencari solusi berkelanjutan yang mempertimbangkan aspek sosial ekonomi tanpa mengabaikan ketertiban umum.