Hampir 900 karyawan dari perusahaan teknologi terkemuka seperti Google dan OpenAI telah menandatangani surat terbuka yang menolak keterlibatan perusahaan mereka dengan militer Amerika Serikat. Surat berjudul "Kami Tidak akan Terpecah Belah" ini muncul menyusul serangan AS dan Israel ke Iran serta dimasukkannya model AI Anthropic dalam daftar hitam Pentagon.
Surat tersebut secara tegas menentang penggunaan teknologi perusahaan untuk pengawasan massal atau senjata otonom. Para karyawan menyatakan solidaritas dengan Anthropic yang sebelumnya telah menolak permintaan Pentagon untuk menggunakan tool AI-nya dalam aplikasi militer.
Reaksi Karyawan Teknologi
Surat terbuka ini ditandatangani oleh sekitar 100 karyawan OpenAI dan hampir 800 karyawan Google. Dokumen tersebut secara resmi diserahkan kepada Departemen Pertahanan Amerika Serikat sebagai bentuk protes kolektif.
Para penandatangan menyatakan kekhawatiran mendalam tentang potensi penyalahgunaan teknologi AI dalam konteks militer. Mereka menekankan pentingnya etika dalam pengembangan dan penerapan kecerdasan buatan.
Strategi Pentagon yang Dipertanyakan
Dalam surat tersebut, karyawan mengungkapkan bahwa Pentagon mencoba memecah belah perusahaan-perusahaan teknologi dengan pendekatan terpisah. Strategi ini dinilai berpotensi melemahkan posisi tawar perusahaan dalam menolak permintaan militer.
"Mereka mencoba memecah belah tiap perusahaan karena takut perusahaan lain menyerah," tulis surat itu. Dengan surat terbuka ini, para karyawan berharap menciptakan pemahaman bersama dan solidaritas antar perusahaan teknologi.
Konteks Politik dan Keamanan
Reaksi karyawan ini muncul dalam konteks ketegangan sektor teknologi selama beberapa bulan terakhir. Insiden termasuk peningkatan agresivitas agen imigrasi federal dan pembunuhan dua warga negara AS di Minnesota awal tahun 2026.
Google mengakui bahwa reaksi negatif juga muncul menyusul laporan tentang negosiasi dengan Pentagon. Pembicaraan tersebut terkait dengan kemungkinan memasukkan AI Gemini ke dalam sistem rahasia militer.
Dukungan dari Koalisi Aktivis
Koalisi No Tech for Apartheid telah merilis pernyataan bersamaan yang mendukung posisi karyawan. Kelompok ini menyerukan Amazon, Google, dan Microsoft untuk menolak tuntutan Pentagon terkait pengawasan massal.
Koalisi tersebut menekankan pentingnya transparansi dalam kontrak militer dan lembaga pemerintah lainnya. Mereka juga meminta kejelasan mengenai keterlibatan dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri serta Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai.
Implikasi Masa Depan
Perdebatan etika teknologi ini terjadi saat ketegangan geopolitik meningkat secara global. Kasus ini mengangkat pertanyaan mendasar tentang tanggung jawab perusahaan teknologi dalam konflik bersenjata.
Para karyawan mengingatkan bahwa perjanjian dengan pemerintah tanpa pengamanan yang memadai dapat berisiko tinggi. Mereka merujuk pada contoh Grok milik xAI yang beroperasi di lingkungan rahasia tanpa proteksi yang jelas.
Surat terbuka ini menandai momen penting dalam hubungan antara industri teknologi dan lembaga pertahanan. Keputusan yang diambil sekarang dapat membentuk masa depan etika AI dan regulasi teknologi militer untuk tahun-tahun mendatang.