Javascorner.co.id – Persaingan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) antara Amerika Serikat dan China semakin memanas. Di tengah rivalitas tersebut, CEO OpenAI, Sam Altman, justru melontarkan pujian terhadap kemajuan teknologi Negeri Tirai Bambu.
Dalam wawancara eksklusif dengan CNBC Internasional, Altman mengakui bahwa laju perkembangan teknologi di China sangat mengesankan. Menurutnya, kemajuan tersebut tidak hanya terjadi di sektor AI, tetapi juga merambah ke seluruh ekosistem industri pendukungnya.
"Laju kemajuan teknologi di banyak bidang, termasuk AI, sangat cepat," ungkap Altman.
Ia menambahkan bahwa di sejumlah sektor, perusahaan-perusahaan China sudah berada sangat dekat dengan garis terdepan inovasi global. Meski demikian, Altman juga mencatat bahwa di beberapa bidang lain, mereka masih tertinggal.
Pernyataan ini menjadi pengakuan jujur dari petinggi perusahaan teknologi AS di tengah persaingan sengit mengembangkan artificial general intelligence (AGI). AGI sendiri merupakan teknologi AI yang mampu menyamai kecerdasan manusia dan dapat diterapkan secara luas dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
China tidak tinggal diam. Selain fokus pada pengembangan aplikasi AI, pemerintah China juga gencar memperkuat industri semikonduktor domestik. Produsen chip dalam negeri terus didorong agar suatu saat mampu menyaingi dominasi raksasa seperti Nvidia dari AS.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Presiden Microsoft, Brad Smith. Ia mengingatkan bahwa perusahaan-perusahaan AS patut waspada terhadap subsidi besar-besaran yang diberikan pemerintah China kepada perusahaan AI domestik. Subsidi tersebut menjadi amunisi kuat dalam perlombaan teknologi antarnegara.
Di tengah rivalitas global ini, OpenAI sendiri tengah fokus memperkuat model bisnisnya. Perusahaan yang telah menghimpun dana sekitar US$70 miliar dari investor ini dikabarkan sedang merampungkan putaran pendanaan jumbo senilai US$100 miliar.
Untuk mengejar profitabilitas, OpenAI mulai menjajaki kemungkinan memasang iklan di ChatGPT. Altman mengakui bahwa pihaknya masih perlu bekerja untuk menemukan format iklan yang paling tepat. Rencana ini masih berada pada tahap awal.
Ia mengisyaratkan ketertarikan pada model iklan bergaya media sosial Instagram yang memungkinkan pengguna menemukan produk baru secara organik. Model ini dinilai tidak terlalu mengganggu pengalaman pengguna.
Meski pembicaraan soal monetisasi semakin ramai, Altman menegaskan bahwa fokus utama perusahaannya saat ini tetap pada ekspansi. Ia optimis dengan pertumbuhan OpenAI yang sangat tinggi saat ini.
"Selama unit economics kami masuk akal, kami harus terus tumbuh lebih cepat, dan kami akan menjadi menguntungkan ketika waktunya tepat," tegas Altman.
Pengakuan terbuka dari bos OpenAI ini semakin menegaskan bahwa China telah menjelma menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan dalam peta persaingan teknologi global. Dengan dukungan penuh pemerintah dan ekosistem industri yang kokoh, Negeri Tirai Bambu diprediksi akan semakin menjadi pemain kunci dalam perlombaan AI masa depan.