Javas Corner - Dua kerentanan kritis pada bahasa pemrograman PHP membuka risiko serangan jarak jauh terhadap website yang masih menggunakan versi rentan. Pengelola situs pun diminta segera memperbarui perangkat lunak dan memeriksa kemungkinan penyusupan.
Kedua celah yang dikenal sebagai PHP2Shell tersebut memiliki kode identifikasi CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619. Kerentanan ini berpotensi dimanfaatkan untuk menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh tanpa mengharuskan penyerang masuk ke sistem terlebih dahulu. Tingkat keparahannya mencapai 9,2 dari skala 10.
Risiko tersebut perlu diperhatikan karena PHP menjadi teknologi sisi server yang digunakan untuk menjalankan berbagai website dinamis. Bahasa pemrograman ini juga mendukung sistem pengelolaan konten populer, termasuk WordPress, Drupal, Joomla, dan MediaWiki yang digunakan Wikipedia. Data W3Techs menunjukkan PHP digunakan oleh sekitar 70 persen situs web yang teknologi sisi servernya dapat diidentifikasi.
Di Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN turut mengimbau pengelola website agar mengambil tindakan untuk mengurangi risiko eksploitasi kedua kerentanan tersebut. Langkah awal yang disarankan adalah memastikan versi PHP yang benar-benar berjalan pada server hosting.
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Prof Ahmad M Ramli, mengingatkan bahwa versi pada komputer pengembang belum tentu sama dengan versi di server produksi. Perbedaan tersebut dapat membuat website tetap rentan meskipun pengembang merasa telah menggunakan perangkat lunak terbaru.
"Saran saya periksa versi PHP di server. Misalnya, laptop kita memakai PHP terbaru padahal server hosting masih versi lama. Maka pasang pembaruan resmi," kata Ramli, seperti dikutip dari Limapagi.
Pembaruan untuk mengatasi PHP2Shell tersedia pada PHP versi 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan 8.2.35. Pengelola perlu memastikan pembaruan yang sesuai telah diterapkan pada lingkungan server yang digunakan. Apabila pembaruan belum dapat dilakukan, akses terhadap layanan yang rentan sebaiknya dibatasi atau layanan tersebut dinonaktifkan sementara.
Memasang perbaikan keamanan saja belum tentu cukup untuk memulihkan sistem yang sudah ditembus. Ketua dan Pendiri Indonesia Cyber Security Forum atau ICSF, Ardi Sutedja, menilai pengelola harus memeriksa kemungkinan adanya akses tidak sah yang tertinggal setelah serangan.
"Langkah mitigasi darurat tentu mendesak dilakukan: pengelola situs harus segera mengaudit direktori unggahan, mencabut izin eksekusi skrip di folder publik, mengganti seluruh kredensial akses basis data, serta mengisolasi peladen yang menunjukkan anomali," tulis Ardi.
Menurut Ardi, penambalan celah tidak otomatis menghilangkan seluruh ancaman. Penyerang yang sebelumnya berhasil masuk mungkin telah meninggalkan backdoor atau jalur tersembunyi untuk memperoleh akses kembali.
"Pendekatan tambalsulam reaktif tidak lagi memadai. Menghapus satu berkas tanpa pembersihan akar hanya memberi rasa aman semu," kata Ardi.
Untuk pengamanan jangka panjang, Ardi mendorong penerapan prinsip Zero Trust dan Security by Design. Kedua pendekatan tersebut menempatkan keamanan sebagai bagian dari perancangan serta pengelolaan sistem, bukan hanya tindakan setelah kerentanan ditemukan.
Pengelola juga dapat memulai pemeriksaan dengan menelusuri berkas yang mengalami perubahan tidak wajar, akun administrator yang tidak dikenal, tugas terjadwal mencurigakan, serta catatan akses dan kesalahan sistem. Pemeriksaan perlu mencakup komponen lain di luar PHP, seperti CMS, plugin, tema, framework, dan dependensi.
Jika ditemukan indikasi kompromi, seluruh kredensial penting yang mungkin terpapar perlu diganti. Hal ini mencakup kata sandi panel hosting, administrator website, FTP atau SFTP, SSH, dan basis data. Penerapan hak akses minimum, penonaktifan layanan yang tidak dibutuhkan, serta pemeriksaan cadangan data juga disarankan.
Kerentanan PHP2Shell turut menjadi perhatian pengelola media digital di Indonesia. Editor-in-Chief media teknologi Gadgetren, Firman Nugraha, mengatakan bahwa situs yang dikelolanya telah menggunakan PHP versi paling baru dan layanan web application firewall atau WAF yang otomatis memblokir kerentanan ini. Sementara itu, pendiri Hybrid.co.id, Wiku Baskoro, menekankan pentingnya memperbarui PHP ke versi yang telah memperoleh perbaikan keamanan.
Pemeriksaan versi, penambalan, audit sistem, dan pengamanan akses menjadi bagian penting dari upaya menghadapi risiko PHP2Shell. Mari kita dukung upaya pengamanan ini dengan selalu memperbarui sistem dan tidak mengabaikan imbauan dari pihak berwenang.
#PHP2Shell #KeamananSiber #CelahKeamanan #BSSN #PatchPHP #WordPress #CyberSecurity #BeritaTeknologi #KeamananWebsite #JavasCorner