JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Serangan rudal dan drone yang mengguncang Timur Tengah sejak 28 Februari 2026 memiliki medan pertempuran paralel yang tak kalah panas: platform media sosial X. Platform yang dulu bernama Twitter ini menjadi ajang perang informasi antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, dengan hashtag #WorldWar3 trending global dan banjir konten AI yang mengaburkan fakta.
- Trending Global dan Reaksi Netizen
- Strategi Propaganda Iran yang Berubah Cepat
- Komunikasi Gedung Putih Bergaya Video Game
- AI sebagai Senjata Disinformasi Baru
- Kebijakan Baru X untuk Konten AI
- Respons Publik: Antara Humor dan Ketakutan
Trending Global dan Reaksi Netizen
Begitu kabar serangan pertama AS-Israel terhadap Iran beredar, reaksi di X langsung meledak. Hashtag #WorldWar3 menduduki puncak trending dalam hitungan jam.
Pengguna dari berbagai negara menuangkan emosi mereka. Seorang netizen menulis, "And then suddenly you realise you aren't reading about history anymore when the topic is World War." Ungkapan ini menangkap kecemasan yang menyebar luas.
Doa dan kekhawatiran berbaur dalam cuitan lain: "O Allah, safeguard Saudi Arabia and every Muslim land. Grant protection to all Muslims and to every innocent soul."
Kritik tajam terhadap Presiden AS Donald Trump juga mengemuka. "High time people of USA remove trump from the highest position. No peace after his return," tulis seorang warganet. Satir politik pun muncul: "Now, it's not just the America-Israel and Iran war, it's the world war. Welcome to the #WorldWar3 and thank you Mr. Donald Trump."
Dari lapangan, seorang pengguna di Yordania melaporkan, "This is Jordan. Everything looks terrible right now." Sementara itu, serangan Iran dikritik keras: "Iran's missile strikes that endangered civilians in Kuwait and Dubai were a reckless and cowardly escalation."
Strategi Propaganda Iran yang Berubah Cepat
Studi dari Clemson University mengungkap perubahan dramatis dalam operasi media sosial Iran. Setidaknya 61 akun terkait Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengubah total konten mereka dalam 24 jam setelah perang dimulai.
Dua Kelompok Utama Sebelum Perang
Sebelum 28 Februari 2026, akun-akun ini terbagi dalam dua kelompok:
- Kelompok "Latina": Mengaku berasal dari Texas, California, Venezuela, dan Chile. Konten mereka bernuansa progresif, anti-Trump, dan anti-imperialis.
- Kelompok "British Isles": Mengaku berasal dari Skotlandia, Inggris, atau Irlandia. Fokus pada isu kemerdekaan Skotlandia, anti-Kerajaan Inggris, dan kritik terhadap Perdana Menteri Keir Starmer.
Perubahan Drastis Pasca-Perang
Setelah konflik meletus, semua akun tersebut beralih ke propaganda pro-Iran. Mereka memuji Ayatollah Ali Khamenei sebagai "martir yang berkorban" dan menyebarkan klaim palsu termasuk gambar buatan AI yang menunjukkan kehancuran pangkalan militer AS.
Darren Linvill, co-director Media Forensics Hub Clemson University, mengomentari perubahan ini kepada The Guardian: "To use those same assets to suddenly talk about how the supreme leader is a martyr seems a little inauthentic from a voice that's supposedly a 20-year-old girl in county Cork."
Bersama-sama, akun-akun ini menghasilkan 59.403 postingan orisinal yang dikutip ribuan kali, berpotensi menjangkau jutaan pengguna.
Komunikasi Gedung Putih Bergaya Video Game
Pemerintahan Trump juga menggunakan X secara masif. Analisis The Wall Street Journal terhadap lebih dari 100 video dari akun resmi Gedung Putih mengungkap pendekatan yang mengkhawatirkan.
Gaya Media Sosial yang Menarik
Video-video tersebut tidak disajikan sebagai informasi kebijakan serius. Mereka dibungkus dengan elemen yang akrab bagi pengguna media sosial:
- Elemen game dan meme viral
- Adegan dari film aksi Hollywood
- Potongan video game dengan musik dramatis
- Suntingan cepat dan efek visual menarik
Konten yang Mengundang Kontroversi
Lebih dari sepertiga video menggunakan rekaman serangan udara sebagai inti konten. Beberapa klip dipakai berulang kali, termasuk materi dari Israel Defense Forces (IDF). Setidaknya satu video IDF muncul di delapan unggahan berbeda.
Yang lebih kontroversial, Gedung Putih menggunakan cuplikan dari:
- 11 film berbeda
- 5 serial televisi
- 4 video game populer
Penggunaan materi ini tanpa izin memicu kritik dari pembuat film dan aktor yang karyanya dipakai untuk mempercantik narasi perang.
AI sebagai Senjata Disinformasi Baru
Iran dengan cepat mengadopsi teknologi AI untuk memperkuat narasi mereka. Video-video buatan AI beredar luas di X dan platform lain, menunjukkan:
- USS Abraham Lincoln tenggelam
- Bangunan di Tel Aviv hancur total
- Tentara Israel menangis ketakutan
Presiden Trump sendiri mengeluhkan penggunaan AI oleh Iran sebagai "senjata disinformasi". Keluhan ini muncul setelah klaim palsu menyebar luas, termasuk:
- 560 tentara Amerika tewas (jauh melebihi laporan Pentagon)
- Israel kehilangan ratusan prajurit
- Infrastruktur vital Teluk hancur total
Klaim Paling Berbahaya
Salah satu klaim paling berisiko adalah tentang pengeboman sekolah anak perempuan di Minab, Iran. Akun pro-Iran menyebarkan informasi bahwa 175 orang tewas dalam insiden tersebut, memanfaatkannya untuk membangkitkan kemarahan internasional meski belum ada verifikasi independen.
Kebijakan Baru X untuk Konten AI
Menghadapi banjir konten sintetis, X mengambil langkah tegas. Pada 3 Maret 2026, platform mengumumkan kebijakan baru: kreator yang memposting video AI tentang konflik bersenjata tanpa label peringatan akan diskors dari program berbagi pendapatan selama 90 hari.
Nikita Bier, kepala produk X, menjelaskan: "During times of war, it is critical that people have access to authentic information on the ground." Ia menambahkan bahwa teknologi AI saat ini membuat "trivial to create content that can mislead people".
Kebijakan ini menandai perubahan signifikan bagi X, yang sejak diakuisisi Elon Musk pada 2022 sering dikritik karena pendekatan moderasi kontennya yang longgar.
Respons Publik: Antara Humor dan Ketakutan
Di balik perang informasi yang intens, publik global merespons dengan cara kompleks. Psikolog sosial mencatat bahwa meme dan humor gelap yang membanjiri X mencerminkan ketakutan kolektif yang mendalam.
Mekanisme Koping Digital
Pengguna menyuntikkan humor ke dalam situasi menegangkan sebagai cara mengatasi kecemasan. Banyak yang membagikan:
- Meme "persiapan perang"
- Suntingan lucu dengan musik pop
- Lelucon tentang wajib militer
Hashtag seperti #WW3, #IranWar, dan #NuclearStrike terus mendominasi trending global, menunjukkan ketertarikan dan kekhawatiran yang berlangsung simultan.
Perang antara Iran dan koalisi AS-Israel tidak hanya ditentukan di medan tempur konvensional. Pertempuran untuk memenangkan opini publik, membentuk narasi, dan mengendalikan informasi telah menjadi sama pentingnya. Seperti diungkapkan Ari Abelson dari OpenOrigins, "The fog of war is quickly becoming the slop of war as AI synthetic content creates infinite noise in information ecosystems." Dalam konflik digital ini, musuh bukan hanya rudal dan drone, tetapi juga algoritma, kecepatan penyebaran informasi, dan kemampuan membedakan fakta dari fiksi. Bagi pengguna X di seluruh dunia, medan pertempuran ini muncul di setiap linimasa, tautan yang diklik, dan unggahan yang dibagikan.