Perpecahan antara Sunni dan Syiah adalah salah satu dinamika tertua dalam sejarah Islam, yang bermula bukan dari perbedaan doktrin teologis, melainkan dari konflik politik pasca wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M. Inti perselisihannya adalah soal suksesi kepemimpinan umat, dengan Sunni mendukung musyawarah dan Syiah meyakini penunjukan langsung Ali bin Abi Thalib. Perbedaan ini kemudian berkembang ke ranah doktrin, membentuk identitas yang kompleks hingga hari ini.
Akar Perpecahan Sunni-Syiah
Perpecahan Sunni-Syiah berawal dari perselisihan politik setelah Nabi Muhammad wafat pada 632 M. Kelompok Sunni, yang kini menjadi mayoritas muslim dunia, sepakat dengan sistem musyawarah yang memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Sementara itu, kelompok Syiah meyakini bahwa Nabi secara eksplisit menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penerusnya.
Perbedaan Doktrin yang Berkembang
Dari akar politik, perbedaan merembet ke ranah teologi. Syiah meyakini adanya 12 imam maksum sebagai penerus otoritas spiritual, sedangkan Sunni menolak konsep ini. Sunni lebih mengandalkan Al-Quran, Hadits, Ijma, dan Qiyas sebagai sumber hukum, menciptakan perbedaan praktik keagamaan yang masih terasa hingga kini.
Iran dan AS dalam Geopolitik Modern
Dalam konteks geopolitik modern, Iran dan Amerika Serikat hadir sebagai dua kutub yang mewakili jawaban berbeda atas keraguan identitas muslim. Iran, sebagai satu-satunya negara dengan Syiah sebagai agama negara, memposisikan diri sebagai pemimpin "Poros Perlawanan". Kebijakan luar negeri Iran seringkali tampak sektarian dengan dukungan kepada kelompok Syiah di kawasan.
Diplomasi Pragmatis Iran
Meski bernuansa sektarian, diplomasi Iran juga pragmatis. Teheran menjalin hubungan dengan negara-negara non-Muslim seperti China dan India, serta memanfaatkan isu Palestina untuk meraih simpati dunia Sunni. Slogan anti-Amerika dan anti-Israel sengaja digaungkan untuk mempersatukan umat Islam di luar sekat mazhab.
Dampak Kebijakan AS di Dunia Islam
Amerika Serikat memicu keraguan mendalam di dunia muslim, terutama di Iran. Sejarah mencatat bahwa AS dan Inggris menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh pada 1953 karena nasionalisasi industri minyak. Peristiwa ini menjadi trauma kolektif dan "dosa asal" yang membuat AS dicap sebagai "Setan Besar".
Dukungan AS kepada Irak
Kecurigaan terhadap AS diperkuat oleh dukungannya kepada Irak saat Perang Iran-Irak (1980-1988). Saddam Hussein bahkan menggunakan senjata kimia terhadap tentara Iran dengan dukungan diam-diam dari Barat, memperdalam sentimen anti-AS di Iran dan dunia Syiah.
Dilema Muslim di Persimpangan
Diplomasi muslim saat ini berada di persimpangan yang kompleks. Di satu sisi, kebijakan Iran yang kerap bernuansa sektarian membuat negara-negara Sunni Teluk seperti Arab Saudi waspada dan membangun aliansi tandingan. Di sisi lain, dukungan AS yang tanpa syarat kepada Israel menciptakan narasi bahwa Barat hendak melemahkan dunia Islam.
Penolakan Iran terhadap Perundingan dengan AS
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan tegas menolak perundingan dengan AS, dengan argumen bahwa negoisasi hanya akan melemahkan posisi Iran. Sikap ini menguat setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir (JCPOA), memperlihatkan ketidakpercayaan yang mendalam.
Akibatnya, banyak muslim di dunia menghadapi dilema yang pelik: mendukung Iran yang lantang melawan Israel namun terbelenggu sektarianisme, atau melihat AS sebagai kekuatan yang secara historis tidak pernah berpihak pada kemerdekaan penuh bangsa-bangsa muslim. Pilihan ini mencerminkan kompleksitas identitas dan geopolitik yang terus berlanjut hingga era modern.