JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Prediksi El Nino di Indonesia kerap berubah-ubah, memicu kebingungan publik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) buka suara, menjelaskan bahwa kondisi laut dan atmosfer di Indonesia terus berdinamika, sehingga prediksi pun diperbarui secara berkala.
- Penyebab Prediksi Sering Fluktuatif
- Indeks Tinggi Bukan Berarti Dampak Parah
- Dinamika Atmosfer Pekan Depan
Penyebab Prediksi Sering Fluktuatif
BMKG melalui akun Instagram resminya, Kamis (20/8/2026), menjelaskan bahwa pada periode Maret hingga Mei terdapat istilah spring predictability barrier. Fenomena ini menandakan titik paling labil dalam prediksi El Nino.
Pada fase tersebut, akurasi model iklim sangat rendah, bahkan berisiko salah total. Memasuki pertengahan tahun, akurasi meningkat, sehingga BMKG rutin memantau indeks setiap 10 hari. Data baru yang masuk otomatis menghasilkan prediksi baru.
Pembaruan ini bukan berarti BMKG salah sebelumnya. Contohnya, awal tahun BMKG memprediksi El Nino moderat hingga kuat, karena 70 persen model iklim dunia mengarah ke skala itu, sementara 30 persen lainnya menunjukkan di atas kuat.
Perbedaan prediksi juga terjadi karena tiap lembaga punya metode berbeda. Grafik ECMWF, misalnya, menggunakan pembanding kondisi iklim normal 1981-2010. Karena suhu bumi makin hangat, acuan lama membuat angka prediksi lebih tinggi. BMKG menggabungkan banyak model dunia dengan modelnya sendiri untuk mengantisipasi hal ini.
Indeks Tinggi Bukan Berarti Dampak Parah
Masyarakat perlu memahami bahwa indeks El Nino yang tinggi tidak selalu berdampak lebih parah. Dampak sangat dipengaruhi kondisi lautan Indonesia. Jika lautan tidak terlalu dingin, dampaknya tidak terlalu parah.
Contohnya, El Nino 2015 memiliki indeks lebih tinggi daripada 1997, tetapi dampaknya justru lebih ringan. Keragaman geografis Indonesia juga membuat dampak antarwilayah berbeda. BMKG menegaskan telah memberikan peringatan dini potensi kekeringan sejak awal tahun dan memperbaruinya tiap bulan.
Dinamika Atmosfer Pekan Depan
BMKG merilis prakiraan dinamika atmosfer untuk periode Dasarian II Agustus hingga Dasarian I September 2026. Curah hujan di Indonesia diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah (0-150 mm per dasarian).
| No | Kategori | Rentang Curah Hujan |
|---|---|---|
| 1 | Rendah | 0 - 50 mm/dasarian |
| 2 | Menengah | 51 - 150 mm/dasarian |
Mayoritas wilayah diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah. BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi terkini dan mempersiapkan diri menghadapi potensi kekeringan.
Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan publik tidak mudah bingung dengan perubahan prediksi. Tetap pantau informasi resmi dari BMKG untuk langkah antisipasi yang tepat.