Presiden Prabowo Subianto mengirimkan ucapan belasungkawa atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, pada Rabu (4/3/2026). Langkah ini langsung mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh Islam Indonesia, yang menilai sikap presiden mencerminkan kepedulian terhadap situasi geopolitik global dan negara sesama muslim.
Dalam acara buka puasa bersama di Istana Negara, Kamis (5/3/2026), para ulama yang hadir kompak menyebut sikap presiden sudah tepat dan manusiawi. Mereka menekankan bahwa sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia harus bersuara dalam isu-isu global yang menyentuh nilai kemanusiaan.
Apresiasi Tokoh Islam
Ketua Dewan Penasihat ICMI, Jimly Asshiddiqie, menegaskan bahwa pengiriman belasungkawa oleh Presiden Prabowo menunjukkan Indonesia tidak hanya sekadar omong kosong. Ia menjelaskan bahwa nilai Pancasila, khususnya ketuhanan dan kemanusiaan, harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk merespons peristiwa di Iran.
Peran Strategis Indonesia
Jimly menambahkan bahwa sudah saatnya Indonesia memainkan peran lebih strategis di kancah global. Bukan hanya menjadi penonton, Indonesia diharapkan bisa menjadi jembatan perdamaian di tengah konflik yang melibatkan negara-negara Islam, memanfaatkan pengaruhnya untuk meredakan ketegangan.
Dorongan untuk Perdamaian
Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menilai ucapan duka tersebut sebagai hal yang wajar, namun menekankan bahwa aksi nyata lebih penting. Ia mendesak agar kekerasan yang terjadi segera dihentikan, karena perdamaian adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Manfaatkan Forum Internasional
Gus Yahya juga mendorong Indonesia untuk memanfaatkan semua forum internasional yang ada, termasuk keanggotaan di Board of Peace (BoP). Ia menegaskan bahwa segala upaya harus dilakukan untuk mendorong perdamaian, bahkan dengan cara-cara yang sederhana sekalipun, demi mencegah dampak yang lebih luas.
Komitmen Indonesia
Surat belasungkawa dari Presiden Prabowo diserahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri kepada Dubes Iran di Jakarta, sebagai bentuk hormat dan empati. Langkah ini menegaskan komitmen Indonesia untuk menjaga hubungan baik dengan Iran, sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap perdamaian dunia di tengah situasi yang memprihatinkan.
Dengan sikap ini, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya sebagai negara muslim terbesar, tetapi juga mengirim pesan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian harus dijunjung tinggi dalam hubungan internasional, terlepas dari perbedaan politik atau konflik yang terjadi.