Kesehatan

Psikologi Anak 98 Tahun: Mengapa Lansia Bersikap Kekanak-kanakan?

Elvan Rizki Elvan Rizki 30 Mar 2026 22:24 57 Views
Ilustrasi lansia usia 98 tahun dengan perilaku kekanak-kanakan dan penjelasan psikologisnya

Ilustrasi lansia usia 98 tahun dengan perilaku kekanak-kanakan dan penjelasan psikologisnya

JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Istilah "psikologi anak 98 tahun" mengacu pada fenomena perilaku lansia usia sangat lanjut yang menunjukkan karakteristik mirip anak-anak. Perubahan ini bukan sekadar keinginan, melainkan hasil kompleks dari penurunan fungsi kognitif, kebutuhan psikologis, dan proses penuaan alami.

Penyebab Perilaku Kekanak-kanakan

Lansia berusia 90-an kerap menunjukkan sikap yang mengingatkan pada masa kanak-kanak. Tiga faktor utama mendorong perubahan perilaku ini.

Penurunan Fungsi Kognitif

Kondisi seperti demensia atau Alzheimer secara signifikan memengaruhi kemampuan berpikir. Lansia mengalami kesulitan mengontrol emosi, menjadi lebih keras kepala, atau mudah menangis tanpa alasan jelas.

Perubahan neurologis ini mengurangi kemampuan regulasi emosional. Hasilnya, respons mereka seringkali spontan dan tidak terfilter seperti pada masa kanak-kanak.

Kebutuhan akan Perhatian

Rasa kesepian menjadi tantangan besar bagi lansia. Mereka membutuhkan pengakuan dan kasih sayang lebih intens dari keluarga maupun lingkungan sekitar.

Kebutuhan ini mirip dengan anak kecil yang mencari validasi melalui perilaku tertentu. Perhatian menjadi kebutuhan psikologis mendasar yang harus terpenuhi.

Kehilangan Kemandirian

Penurunan fisik membuat lansia bergantung pada bantuan orang lain untuk aktivitas dasar. Mereka memerlukan dukungan dalam makan, mandi, hingga berpakaian.

Ketergantungan ini memicu frustrasi yang diekspresikan melalui sikap manja atau rewel. Perasaan tidak berdaya memperkuat pola perilaku kekanak-kanakan.

Teori Psikososial Erikson

Erik Erikson mengembangkan teori perkembangan psikososial yang relevan dengan kondisi lansia. Tahap integritas versus keputusasaan terjadi pada usia di atas 65 tahun.

Tahap Integritas vs Keputusasaan

Lansia merefleksikan perjalanan hidup mereka selama puluhan tahun. Pencapaian makna hidup menghasilkan perasaan integritas dan penerimaan.

Sebaliknya, kegagalan yang dirasakan memicu keputusasaan mendalam. Kondisi ini seringkali berujung pada depresi atau kecemasan berkepanjangan.

Implikasi pada Perilaku

Perilaku kekanak-kanakan bisa menjadi mekanisme koping terhadap ketidakmampuan mencapai integritas. Lansia mencari kenyamanan melalui pola perilaku yang familiar dari masa lalu.

Refleksi hidup yang tidak memuaskan memperburuk kondisi psikologis. Dukungan lingkungan menjadi krusial dalam membantu mereka menemukan makna.

Masalah Psikologis Umum

Usia 98 tahun membawa tantangan psikologis spesifik yang perlu dipahami. Beberapa gangguan sering muncul pada fase kehidupan ini.

Depresi dan Kecemasan

Perasaan sedih berkepanjangan menjadi masalah serius. Lansia juga menghadapi ketakutan akan masa depan dan proses menua yang tidak terhindarkan.

Kecemasan tentang kematian memperburuk kondisi mental. Dukungan profesional diperlukan untuk mengelola gejala ini.

Gangguan Tidur

Perubahan pola tidur drastis memengaruhi suasana hati secara signifikan. Insomnia atau tidur berlebihan sama-sama bermasalah.

Kualitas tidur yang buruk memperparah gejala psikologis lainnya. Pola tidur perlu menjadi perhatian khusus dalam perawatan.

Penarikan Diri

Kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai merupakan tanda peringatan. Lansia mulai mengisolasi diri dari interaksi sosial.

Penarikan diri memperburuk kondisi kesepian dan depresi. Intervensi dini diperlukan untuk mencegah deteriorasi lebih lanjut.

Tips Menghadapi Lansia

Menghadapi lansia dengan perilaku kekanak-kanakan memerlukan pendekatan khusus. Tiga strategi berikut terbukti efektif dalam memberikan dukungan.

  1. Sabar dan Empati: Pahami bahwa perubahan perilaku berasal dari faktor biologis, bukan kesengajaan. Pendekatan dengan kesabaran mengurangi konflik dan meningkatkan kualitas hubungan.
  2. Jaga Komunikasi: Terus ajak berinteraksi meskipun respons terbatas. Berikan aktivitas sederhana yang membuat mereka merasa berguna dan dihargai sebagai individu.
  3. Dukungan Spiritual: Bagi banyak lansia, aspek spiritual memberikan ketenangan batin yang signifikan. Pendekatan agama atau meditasi membantu mengurangi kecemasan.

Perubahan perilaku lansia usia sangat lanjut merupakan fenomena kompleks yang membutuhkan pemahaman mendalam. Pendekatan holistik yang menggabungkan aspek medis, psikologis, dan sosial memberikan hasil terbaik dalam perawatan. Keluarga dan caregiver memegang peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikologis lansia.

Elvan Rizki

// Verified Author

Elvan Rizki

Staff Redaksi

Spesialis konten media siber dan publikasi Google News.

▸ TAG TOPIK

#psikologi lansia #kesehatan mental #usia lanjut #demensia #perawatan lansia

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner