JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Mohammad Bagher Qalibaf, ketua parlemen Iran dan veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kini memegang kendali strategi perang negara itu. Posisinya menguat setelah pembunuhan mantan ketua parlemen Ali Larijani dalam serangan udara Israel pekan lalu.
Qalibaf secara terbuka menyatakan konfrontasi baru telah dimulai. "Prinsip mata ganti mata berlaku," tulisnya di platform X menyusul serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Profil Qalibaf
Mohammad Bagher Qalibaf bukan politisi biasa. Pria 64 tahun ini memiliki pengalaman tiga dekade dalam pemerintahan Iran. Latar belakangnya mencakup berbagai posisi strategis:
- Komandan korps kedirgantaraan IRGC
- Kepala kepolisian Teheran
- Wali Kota Teheran selama 12 tahun
- Ketua Parlemen sejak 2020
Pilot bersertifikat ini dikenal gemar memamerkan kemampuannya mengemudikan pesawat jumbo jet. Ambisinya menduduki kursi presiden tercatat dalam tiga pemilihan, meski selalu gagal.
Karir Militer
Qalibaf memulai karir militer selama Perang Iran-Irak 1980-1988. Dia naik pangkat dengan cepat dan mencapai puncak hierarki militer akhir 1990-an sebagai komandan pasukan kedirgantaraan IRGC.
Pada 1999, dia ditunjuk menjadi komandan polisi nasional. Penunjukan itu terjadi di tengah gelombang protes mahasiswa tanpa preseden.
Vakum Kepemimpinan
Situasi politik Iran mengalami perubahan drastis setelah serangkaian peristiwa penting:
- Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei (28 Februari 2026)
- Kematian Ali Larijani dalam serangan udara Israel (Senin pekan lalu)
- Mojtaba Khamenei belum muncul di publik
Putra dan penerus Ali Khamenei hanya mengeluarkan tiga pernyataan tertulis. Sebaliknya, Qalibaf aktif memberikan wawancara dan memposting di media sosial.
Farzan Sabet, peneliti di Geneva Graduate Institute, menyebut Qalibaf sebagai "orang yang kemungkinan mengawasi upaya dan strategi perang."
Strategi Perang
Qalibaf menggambarkan konflik saat ini sebagai "perang tidak seimbang dengan pengaturan asimetris." Dalam wawancara dengan televisi Iran Rabu lalu, dia menekankan perlunya menggunakan peralatan dengan budaya dan kreativitas sendiri.
Analis Arash Azizi dari Yale University menyatakan Qalibaf sekarang menjadi "orang terkuat Iran." Menurutnya, Qalibaf memiliki portofolio langka yang mencakup fungsi militer, keamanan, dan politik rezim.
Pernyataan Publik
Ketua parlemen itu memprediksi perang akan membentuk ulang Timur Tengah. "Tata tertib di sini akan berubah," katanya dalam wawancara video yang disiarkan kantor berita semi-resmi Tasnim.
Namun dia menegaskan perubahan itu tidak akan sesuai kehendak Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan sembari mengenakan seragam IRGC lengkap.
Rekam Jejak
Sepanjang karirnya, Qalibaf menghadapi berbagai kontroversi. Kelompok hak asasi manusia menuduhnya terlibat dalam penindasan protes sejak 1999.
Tuduhan itu mencakup periode:
- Protes mahasiswa 1999
- Gerakan Hijau 2009 pasca pemilu
- Protes nasional puncak Januari 2026
Selama menjabat wali kota Teheran, pendukung memuji pendekatan teknokratisnya. Kritikus justru menunjuk dugaan korupsi keuangan.
Ambisi Politik
Qalibaf tiga kali mencalonkan diri sebagai presiden:
- 2005 - kalah dari Mahmoud Ahmadinejad
- 2013 - finis kedua
- 2024 - kembali gagal
Dia sempat masuk bursa calon 2017 sebelum menarik diri mendukung kandidat konservatif lain. Kekalahan 2005 mengantarkannya ke kursi wali kota Teheran.
Sebagai ketua parlemen, Qalibaf kadang mengadvokasi reformasi ekonomi dan pengawasan parlemen yang lebih kuat. Namun dia tetap selaras dengan institusi inti Republik Islam.
Qalibaf kini berada dalam posisi menguntungkan menurut pengamat. Hubungannya dengan Mojtaba Khamenei disebut cukup dekat. Kombinasi pengalaman militer dan politik memberinya legitimasi unik di tengah krisis kepemimpinan Iran.
Perannya dalam menentukan arah perang akan terus dipantau komunitas internasional. Setiap langkah Qalibaf berpotensi mempengaruhi dinamika konflik regional yang sudah memakan banyak korban.