JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, meminta masyarakat untuk tidak terjebak pada satu kalimat dalam pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung soal 'Indonesia gelap' dan 'kabur ke Yaman'. Ia menekankan pentingnya melihat substansi pidato secara utuh, terutama terkait program kemandirian bangsa dan hilirisasi.
Latar Belakang
Dalam pidato di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026), Presiden Prabowo Subianto membantah keras anggapan bahwa Indonesia dalam keadaan 'gelap'. Ia justru menyebut Indonesia sebagai negara yang cerah dan paling aman di dunia.
Pernyataan itu sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet yang mengkritik, namun ada pula yang membela.
Pernyataan Qodari
Dalam acara Satu Meja The Forum Kompas TV, Rabu malam, Qodari dengan tegas meminta publik tidak melakukan 'cherry picking' atau memetik satu kalimat saja dari pidato presiden.
"Jangan cherry picking satu kalimat beliau soal tadi jangan dibilang Indonesia gelap, kalau enggak suka Anda ke Yaman saja. Jangan itunya yang di-highlight, tetapi poin-poin substansi tadi itu harus dilihat," kata Qodari.
Fokus pada Hilirisasi
Qodari menjelaskan, pidato Prabowo banyak membahas program kemandirian bangsa dan hilirisasi. Menurutnya, banyak pihak luar negeri yang tidak senang dengan program hilirisasi di Indonesia.
"Karena selama ini mereka mengambil manfaat dengan kita kirim bahan mentah. Nah sekarang Presiden tidak mau, mau membangun nilai tambah lewat apa? Hilirisasi," ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak naif terhadap upaya subversi dan infiltrasi asing yang mungkin terjadi. "Jadi kalau di luar itu ada yang tidak senang kemudian ya dia subversi dia infiltrasi dan seterusnya kita enggak boleh naif juga begitu," ucapnya.
Pidato Prabowo
Presiden Prabowo Subianto membantah pihak yang menyebut 'Indonesia gelap'. Menurut dia, orang yang berkoar-koar Indonesia gelap memiliki mata yang buram.
"Terus kita dibikin apalagi, Indonesia gelap. Matanya buram, Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur, kabur saja," ujar Prabowo dalam groundbreaking 13 proyek hilirisasi nasional di Cilacap, Jawa Tengah.
Prabowo bahkan mempersilakan orang-orang pintar yang merasa tidak cocok untuk kabur ke Yaman. Ia menyarankan mereka membaca berita bahwa Indonesia adalah negara teraman di dunia.
"Kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman. Silakan. Mau kabur ke mana. Hei orang-orang pintar, bukalah berita, lihatlah kita ditempatkan sebagai tempat yang paling aman di dunia sekarang. Kabur saja deh. Iya, kabur saja, biar kita enggak gaduh," ujar dia.
Reaksi Publik
Pernyataan Prabowo menuai beragam reaksi. Sebagian masyarakat mengkritik keras, menganggap presiden antikritik dan merasa paling benar. Seorang warganet bernama Yustinus berkomentar, "Wong cuma dikritik kok malahan suruh kabur ke yaman. pemerintahan macam apa ini? antikritik? merasa paling benar sendiri?"
Namun, Qodari berharap publik tidak terjebak pada satu kalimat kontroversial, melainkan melihat keseluruhan pidato yang sarat dengan program pembangunan nasional.
Polemik ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi publik yang jernih di tengah derasnya informasi. Masyarakat diharapkan mampu memilah dan memilih substansi dari setiap pernyataan pemimpin, tanpa terprovokasi oleh potongan kalimat yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.