Nasional

Reformulasi MBG: Selamat Datang Kantin Sekolah

Ujang Trisno Ujang Trisno 08 Jun 2026 06:49 18 Views
Reformulasi MBG: Selamat Datang Kantin Sekolah

Reformulasi MBG: Selamat Datang Kantin Sekolah

JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang sebagai solusi stunting dan gizi buruk akan mengalami reformulasi besar-besaran. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Ninik S. Deyang, menyatakan bahwa ke depan MBG akan dijalankan oleh kantin sekolah. Pernyataan ini memicu diskusi tentang efektivitas program yang sebelumnya sentralistik dan rawan korupsi.

Latar Belakang

Program MBG merupakan andalan Presiden Prabowo Subianto yang selalu disebut dalam pidatonya, baik di dalam maupun luar negeri. Harapannya besar: perbaikan gizi anak sekolah, penurunan stunting, dan penguatan SDM Indonesia Emas 2045. Namun, niat baik itu terbentur persoalan klasik tata kelola kita: tarik-menarik antara sentralisasi kebijakan dan realitas lapangan yang sangat beragam.

Sejumlah kasus keracunan makanan, distribusi berantakan, inefisiensi, pembentukan ribuan SPPG, hingga dugaan korupsi menunjukkan desain MBG masih problematik. Program ini terlalu sentralistik, padahal yang paling memahami kondisi riil anak-anak justru pemerintah daerah.

Permasalahan MBG

Korupsi dan Tata Kelola

Program MBG mendapat momentum baru pascadiciduknya Kepala BGN beserta dua wakilnya oleh Kejaksaan Agung. Kasus korupsi ini membuat Presiden Prabowo sedih. Rantai birokrasi panjang: pusat → vendor → dapur produksi → distribusi → sekolah, menambah biaya logistik dan memperbesar risiko keterlambatan serta penurunan kualitas makanan.

Keterlibatan Daerah Minim

Pemerintah daerah justru punya semua instrumen yang dibutuhkan: data jumlah siswa, peta gizi, peta kemiskinan, jaringan UMKM pangan lokal. Namun, kapasitas itu belum dimanfaatkan optimal. Di sinilah paradoksnya: yang paling tahu kondisi lapangan, tidak diperankan.

Solusi Kantin Sekolah

Pernyataan Ninik S. Deyang membuka ruang diskusi besar tentang arah kebijakan. Selama ini MBG dilaksanakan oleh SPPG—Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Dengan melibatkan kantin sekolah, rantai birokrasi bisa dipotong, biaya logistik berkurang, dan pengawasan lebih mudah karena melibatkan pihak sekolah dan orang tua.

Solusi ini sejalan dengan prinsip desentralisasi yang tertuang dalam Pasal 18, 18A, dan 18B konstitusi: "the closer the governance to the people the better their services". Daerah yang lebih dekat dengan rakyat harus diberi peran bermakna.

Harapan ke Depan

Reformulasi MBG dengan mengaktifkan kantin sekolah diharapkan mampu mengatasi berbagai persoalan yang ada. Program ini akan lebih efektif jika melibatkan UMKM lokal dan disesuaikan dengan kondisi sosial-kultural masing-masing daerah. Dengan demikian, MBG benar-benar dinikmati anak-anak sekolah untuk memperbaiki gizi, bukan sekadar seremonial belaka.

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

▸ TAG TOPIK

#MBG #Kantin Sekolah #Desentralisasi #Gizi #Tata Kelola

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner