JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak fluktuatif dengan risiko pelemahan hingga Rp17.050 pada Selasa, 17 Maret 2026. Gejolak ini dipicu tensi geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah yang mempengaruhi sentimen pasar.
- Proyeksi Pergerakan Rupiah
- Faktor Geopolitik Pengaruhi Kurs
- Dampak Inflasi dan Kebijakan The Fed
- Risiko Defisit Anggaran Indonesia
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Rupiah ditutup melemah 0,23% ke level Rp16.997 per dolar AS pada Senin, 16 Maret 2026. Data Bloomberg menunjukkan indeks dolar AS terkoreksi 0,11% ke posisi 100,25.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif hari ini. Potensi pelemahan diperkirakan mencapai kisaran Rp16.990 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Perdagangan hari ini menjadi sesi terakhir sebelum libur panjang. Pasar memperhatikan perkembangan terkini dari berbagai faktor eksternal.
Faktor Geopolitik Pengaruhi Kurs
Tensi di Selat Hormuz menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas dalam beberapa hari terakhir.
Ibrahim Assuaibi mengungkapkan pasukan marinir AS sudah mendekati Selat Hormuz. Iran diketahui melakukan serangan balasan sebagai bentuk perlawanan.
"Ini mengindikasikan bahwa Iran masih sanggup untuk melakukan perlawanan," jelas Ibrahim pada Senin kemarin. Situasi ini menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Dampak Inflasi dan Kebijakan The Fed
Harga minyak mentah yang melampaui US$100 per barel berpotensi memicu inflasi. The Fed akan mengadakan pertemuan minggu depan untuk membahas respons kebijakan.
Assuaibi memperkirakan The Fed akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Keputusan ini didasarkan pada tekanan inflasi yang muncul dari kenaikan harga komoditas energi.
Kebijakan moneter AS selalu berdampak signifikan terhadap mata uang negara berkembang. Investor biasanya berpindah ke aset safe haven saat ketidakpastian meningkat.
Risiko Defisit Anggaran Indonesia
Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada defisit anggaran Indonesia. Harga minyak di atas US$92 per barel membuat tekanan fiskal semakin berat.
Beberapa pengamat menyarankan defisit anggaran tetap dijaga di angka 3%. Salah satu cara yang diusulkan adalah mengurangi anggaran untuk program tertentu.
Assuaibi menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dikaji ulang. Defisit yang tidak terkontrol berisiko menurunkan peringkat utang Indonesia di mata lembaga pemeringkat internasional.
Pergerakan rupiah hari ini menjadi indikator penting ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan dapat mengambil langkah tepat menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.