JAVASCORNER.CO.ID, WASHINGTON - Rusia diduga memberikan data intelijen rahasia tentang lokasi kapal perang dan pesawat militer Amerika Serikat kepada Iran. Laporan eksklusif Washington Post mengungkap hal ini berdasarkan informasi dari tiga pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Bantuan tersebut disebut meningkatkan presisi serangan Iran di kawasan Timur Tengah yang sedang memanas.
Laporan Washington Post
Menurut Washington Post, Moskow menyuplai data lokasi akurat aset militer AS ke Teheran. Informasi ini mencakup koordinat presisi kapal perang dan pesawat yang sebelumnya tidak terungkap.
Dara Massicot, ahli militer Carnegie Endowment for International Peace, menjelaskan bahwa Iran kini mampu menyerang target spesifik seperti radar dan infrastruktur komando. Bantuan citra satelit dari Rusia, yang teruji di perang Ukraina, menjadi kunci kemampuan baru Iran.
Dampak Serangan
Dukungan inteljen ini telah membuahkan hasil nyata. Serangan presisi menghancurkan stasiun CIA di Kedutaan AS di Riyadh beberapa hari lalu.
Enam personel militer AS juga dilaporkan gugur dalam serangan di Kuwait. Targetnya adalah struktur komando dan kendali pasukan Amerika.
Motivasi Rusia
Keterlibatan Rusia dianggap sebagai balas budi atas pasokan drone Iran untuk perang Ukraina. Sumber pejabat AS menyatakan, "Rusia sangat menyadari bantuan AS kepada Ukraina. Mereka senang membalas budi."
Analis menilai Kremlin ingin Amerika Serikat terseret konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Dengan demikian, perhatian dan bantuan militer Washington untuk Kyiv bisa terpecah.
Respons Lain
China dan Diplomasi
Berbeda dengan Rusia, China belum memberikan bantuan militer atau intelijen kepada Iran. Beijing memilih jalur diplomatik dan mendesak penghentian konflik segera.
Tawaran Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dikabarkan menawarkan bantuan tenaga ahli kepada pemerintahan Trump. Tujuannya menangkal drone Iran sebagai bentuk solidaritas terhadap tekanan yang dihadapi AS.
Eskalasi di Timur Tengah terus berkembang dengan melibatkan kekuatan global. Masyarakat internasional memantau apakah situasi ini akan memicu konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Rusia.