JAVASCORNER.CO.ID, BANTUL - Kabar duka menyelimuti dunia seni tradisional Yogyakarta. Seniman ketoprak asal Bantul, Sarjiyono alias Mbethut (62), meninggal dunia setelah tiba-tiba jatuh saat pentas di Padukuhan Petung, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa malam (18/8/2026). Peristiwa itu terjadi saat pementasan ketoprak dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Mbethut diduga meninggal akibat henti jantung.
Kronologi Kejadian
Menurut keterangan kepolisian, Mbethut jatuh saat memainkan adegan gandrung bersama lawan mainnya. Awalnya, lawan main sempat mengira kejadian itu bagian dari adegan. Namun, ketika Mbethut tak kunjung bangun, rekan-rekannya segera memberikan pertolongan. Saat ditemukan, korban masih bernapas dan langsung dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Upaya Pertolongan
Tim medis berusaha menyelamatkan nyawa Mbethut, namun nyawanya tak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 00.34 WIB. Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto membenarkan peristiwa tersebut. Dari pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Dugaan Penyebab Meninggal
Pihak kepolisian menyebut Mbethut meninggal akibat henti jantung. Keluarga juga mengungkapkan bahwa almarhum memiliki riwayat penyakit jantung. Ketua Paguyuban Karya Budaya, Tulus Wahono Petung, mengatakan Mbethut sempat menjalani perawatan di rumah sakit sekitar dua bulan sebelum kejadian. Meski begitu, pada malam pementasan, kondisi Mbethut terlihat baik-baik saja dan bahkan sempat bercanda dengan rekan-rekannya.
Riwayat Kesehatan
Menurut Tulus, almarhum memang memiliki riwayat penyakit jantung. Namun, tidak ada yang menyangka kondisinya akan memburuk secara tiba-tiba. "Apalagi dia itu sering wira-wiri sama saya. Sering ngobrol dan guyon-guyon sama saya juga," ujar Tulus.
Kenangan Mendiang Mbethut
Ada kisah yang membuat pementasan malam itu semakin membekas. Sebelum pertunjukan, Mbethut sempat meminta dalang agar diberi kesempatan tampil lebih dari satu kali. Awalnya, ia hanya dijadwalkan tampil dalam satu adegan. Permintaan itu akhirnya dipenuhi, dan ia tampil dalam pementasan yang menjadi penampilan terakhirnya.
Sosok Mbethut
Tulus mengenang Mbethut sebagai sosok yang baik, mudah bergaul, dan gemar bercanda. Ia telah lama berkecimpung di dunia ketoprak dan aktif dalam berbagai pementasan. Mbethut menjadi bagian dari komunitas seni tradisional di wilayah Bantul dan sekitarnya.
Pemakaman dan Duka Cita
Jenazah Mbethut dibawa ke rumah duka di Padukuhan Ngrame, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan. Ia dimakamkan di Makam Donoloyo, Padukuhan Ngrame, pada Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Kepergian Mbethut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan seniman, dan masyarakat yang menikmati pertunjukan ketoprak.
Malam itu, panggung ketoprak di Petung bukan hanya menjadi tempat pertunjukan seni, tetapi juga menjadi panggung terakhir bagi seorang seniman yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan kesenian tradisional. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.