JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan udara AS menewaskan satu keluarga, termasuk anak balita, di Pulau Qeshm, Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain, memicu kekhawatiran global akan meluasnya krisis Timur Tengah dan potensi kelangkaan pasokan energi dunia.
- Serangan Mematikan AS di Pulau Qeshm
- Balasan IRGC: Gempur Pangkalan AS di Tiga Negara
- Dampak Krisis yang Meluas
Serangan Mematikan AS di Pulau Qeshm
Serangan udara AS menghantam sebuah bangunan permukiman di Pulau Qeshm, Iran selatan, pada Rabu (29/7/2026). Insiden itu menewaskan pasangan suami istri Qeysar Jafari, seorang sopir taksi, dan istrinya Zahra Jafari, serta anak mereka yang baru berusia dua tahun.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut juga merusak sejumlah rumah warga. Melalui unggahan di platform X, Baghaei menegaskan ketabahan rakyat Iran.
"Dengan setiap ledakan, dengan setiap kejahatan, dengan setiap sanksi, dengan setiap ancaman, dengan pembunuhan setiap anak, Anda membuat rakyat Iran semakin bertekad dan bersatu dalam membela tanah air mereka," tegas Baghaei, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (30/7/2026).
Reaksi Keras Pejabat Iran
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengecam keras serangan tersebut. Ia menyamakannya dengan tragedi berdarah di Minab dan Lamerd, di mana serangan AS-Israel sebelumnya menewaskan 170 orang di sebuah sekolah dasar dan 24 orang di fasilitas olahraga.
"Mereka telah terbiasa menutupi tamparan yang mereka terima di medan perang dengan menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah. Mereka akan membayar harganya," tulis Ghalibaf di X.
Balasan IRGC: Gempur Pangkalan AS di Tiga Negara
Sebagai bentuk aksi balasan, IRGC menggempur pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania, serta aset militer AS di Pangkalan Sheikh Isa, Bahrain. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Pulau Kish, Bushehr, dan empat titik di Khuzestan.
Tiga anggota IRGC gugur akibat serangan terpisah AS di Provinsi Zanjan. Dampak serangan balasan Iran juga menewaskan seorang pekerja di utara Kuwait akibat rudal Iran yang menghantam gedung milik perusahaan asal China.
Serangan AS-Arab Saudi di Irak
Perdana Menteri Irak menyatakan tidak memiliki pengetahuan awal terkait serangan udara gabungan AS-Arab Saudi yang menargetkan kelompok milisi bersekutu dengan Iran di wilayahnya. Juru Bicara Pemerintah Irak, Haider al-Aboudi, menegaskan bahwa Baghdad tidak memberikan izin atas serangan yang menewaskan sedikitnya 20 anggota Popular Mobilisation Forces (PMF).
Dampak Krisis yang Meluas
Konflik ini memicu kekhawatiran global akan krisis kemanusiaan dan energi. Harga minyak dunia diperkirakan melonjak, mengingat Selat Hormuz, jalur vital pasokan minyak, berada di dekat lokasi pertempuran.
Iran menuding Israel sebagai "dalang utama" di balik serangan AS, sementara Washington terus meningkatkan tekanan militer. Masyarakat internasional mendesak de-eskalasi, namun serangan balasan terus berlanjut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari AS mengenai serangan balasan IRGC. Situasi di Timur Tengah masih terus berkembang.