JAVASCORNER.CO.ID, BANGKOK - Dunia keagamaan Thailand diguncang skandal besar setelah aparat kepolisian menangkap Phra Wachirayan (66), mantan kepala biara kuil bersejarah Wat Phutthaisawan di Ayutthaya. Tokoh agama senior tersebut diduga kuat terlibat penggelapan dana kuil mencapai 100 juta baht atau sekitar Rp53 miliar, sekaligus terjerat skandal asusila yang meruntuhkan citra institusi kebiaraan.
- Modus Penggelapan Dana dan Pencucian Uang
- Penggerebekan dan Temuan Rekaman CCTV
- Rincian Aset Fantastis yang Disita Polisi
- Pencopotan Status Kebiksuan dan Dampak Publik
Modus Penggelapan Dana dan Pencucian Uang
Penyelidikan mendalam yang dilakukan kepolisian Thailand mengungkap skema sistematis dalam penyelewengan keuangan kuil. Phra Wachirayan memanfaatkan posisinya sebagai penguasa tertinggi di Kuil Wat Phutthaisawan untuk mengendalikan arus kas masuk secara mandiri tanpa pengawasan komite.
Sumber dana utama yang digelapkan berasal dari hasil penjualan jimat keagamaan populer, termasuk koin edisi khusus "Nuea Duang", serta uang donasi masyarakat untuk renovasi bangunan bersejarah kuil. Alih-alih menyetorkan uang tersebut ke rekening resmi institusi, ia mengalirkannya ke rekening pribadi.
Proses penyamaran uang haram ini melibatkan seorang asisten perempuan terdekatnya. Dana hasil penyelewengan ditransfer secara bertahap untuk membeli berbagai aset bernilai tinggi guna mengaburkan asal-usul uang hasil kejahatan tersebut.
Penggerebekan dan Temuan Rekaman CCTV
Kasus ini mencuri perhatian luas setelah tim penyidik melakukan penggerebekan mendadak di area kediaman pribadi sang mantan kepala biara. Dalam penggeledahan tersebut, polisi menyita perangkat penyimpanan rekaman kamera pengawas (CCTV) internal yang terpasang di dalam area tertutup.
Hasil analisis laboratorium forensik terhadap rekaman CCTV menunjukkan bukti mengejutkan. Phra Wachirayan tertangkap kamera sedang melakukan hubungan seksual dengan asisten perempuannya tepat di atas meja makan pribadi tempat tinggalnya.
Tindakan tersebut mencederai sumpah kelajangan atau selibat yang menjadi fondasi utama kehidupan seorang biksu Theravada. Skandal ganda ini memicu kemarahan publik luas di Thailand, mengingat kuil Ayutthaya merupakan salah satu situs keagamaan paling dihormati di negara tersebut.
Rincian Aset Fantastis yang Disita Polisi
Dari serangkaian penggeledahan di beberapa lokasi terkait, penyidik berhasil mengamankan aset dalam jumlah yang sangat fantastis. Aset-aset ini diduga kuat dibeli menggunakan dana hasil penggelapan sumbangan umat dan penjualan benda keagamaan.
| No | Kategori Aset / Kasus | Nilai / Rincian |
|---|---|---|
| 1 | Estimasi Dana Penggelapan Kuil | Rp 53.000.000.000 (100 Juta Baht) |
| 2 | Total Aset Disita Kepolisian | Rp 93.000.000.000 (215 Juta Baht) |
| 3 | Logam Mulia (Emas Batangan) | 16 Kilogram |
| 4 | Sertifikat Tanah & Hak Milik | Puluhan Dokumen |
| 5 | Perhiasan & Dokumen Investasi | Berbagai Jenis Aset Finansial |
Berdasarkan data penyitaan di atas, total nilai barang bukti yang diamankan mencapai Rp93 miliar (215 juta baht). Nilai aset yang disita ini bahkan melebihi estimasi awal penggelapan dana sebesar Rp53 miliar (100 juta baht), yang mengindikasikan kemungkinan adanya aliran dana ilegal lain yang masih terus didalami pihak berwajib.
Pencopotan Status Kebiksuan dan Dampak Publik
Prosedur hukum dan keagamaan bergerak cepat setelah penangkapan berlangsung. Berdasarkan aturan hukum Sangha di Thailand, seorang biksu yang melanggar aturan berat secara otomatis kehilangan hak ke-kebiksuannya.
Phra Wachirayan secara resmi telah dilepas jubah kebesarannya dalam upacara pencopotan status keagamaan. Langkah ini memastikan bahwa proses peradilan selanjutnya berlangsung murni sebagai hukum pidana terhadap warga sipil biasa.
Pemerintah Thailand dan Dewan Sangha Agung kini menghadapi desakan kuat dari masyarakat untuk memperketat transparansi keuangan di seluruh kuil. Reformasi tata kelola dana hibah serta akuntabilitas penjualan jimat keagamaan menjadi fokus utama demi mengembalikan kepercayaan umat Buddha di Negeri Gajah Putih tersebut.