JAVASCORNER.CO.ID, MALANG - Dunia pendidikan tinggi kembali diguncang skandal kekerasan seksual digital yang melibatkan mahasiswa perguruan tinggi ternama. Seorang mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) berinisial G diduga merekam dan menyimpan ratusan foto serta video tak senonoh milik rekan sesama peserta magang. Kasus ini terbongkar setelah utas pengakuan korban di platform X memicu kemarahan publik.
Daftar Isi Berita:
Kronologi Terbongkarnya Skandal Rekaman Tersembunyi
Kasus yang menyeret mahasiswa angkatan 2023 tersebut bermula ketika peserta magang mencurigai gerak-gerik terduga pelaku di lokasi kegiatan. Pelaku diduga secara diam-diam merekam momen pribadi korban, mulai dari aktivitas mandi hingga rekaman video call pribadi (VCS).
Kecurigaan tersebut mendorong para peserta magang menggelar forum internal pada 12 Agustus 2026. Dalam pertemuan tersebut, bukti-bukti awal mulai terkumpul hingga akhirnya terungkap skala pelanggaran yang dilakukan oleh G cukup masif.
Menurut laporan Pers Mahasiswa FBiPK UB (@persmacanopy), pemeriksaan awal terhadap ponsel terduga pelaku mendapati sebuah folder tersembunyi. Folder tersebut berisi dokumentasi tanpa izin yang mengincari banyak korban selama masa magang berlangsung.
Selain pelanggaran privasi digital, G juga dilaporkan melakukan kontak fisik tanpa persetujuan terhadap beberapa korban. Tindakan ini memicu dampak psikologis serius dan trauma mendalam bagi para peserta magang.
Rincian Temuan Berkas dan Sebaran Perguruan Tinggi Korban
Korban dari aksi terduga pelaku tidak hanya berasal dari kampus UB semata. Mahasiswa magang dari universitas lain yang tengah menjalankan program bersama di instansi tersebut turut menjadi korban perekaman ilegal.
| No | Asal Perguruan Tinggi Korban | Est. Jumlah / Jenis Dokumentasi Tersebar |
|---|---|---|
| 1 | Universitas Brawijaya (UB) | Foto & Video Kamar Mandi / Rekaman Digital |
| 2 | Universitas Lampung (UNILA) | Rekaman Panggilan Video & Foto Privasi |
| 3 | Universitas Padjadjaran (UNPAD) | Dokumentasi Tanpa Izin & Kontak Fisik |
Berdasarkan rincian pemeriksaan data digital pada gawai pelaku, total temuan mencapai lebih dari 900 file yang terdiri atas foto, video, dan rekaman percakapan. Jumlah korban tertinggi teridentifikasi berasal dari peserta magang lintas kampus yang berada dalam satu divisi kerja.
Langkah Tegas Pihak Fakultas dan Satgas PPKPT UB
Instansi tempat keberlangsung program magang bergerak cepat dengan menjatuhkan sanksi administratif awal serta mengeluarkan terduga pelaku dari program tersebut. Langkah ini diambil guna menjaga kondusivitas kerja dan melindungi mental korban.
Pihak Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB sendiri menerima laporan resmi pada 23 Agustus 2026 melalui Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan (ULTKSP). Dekanat segera merespons dengan memanggil saudara G untuk dimintai keterangan.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FBiPK UB, Noer Rahmi Ardiarini, mengonfirmasi bahwa penanganan kasus kini telah dilimpahkan ke tingkat universitas.
"Saat ini kami berkoordinasi dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Brawijaya agar pemeriksaan berjalan objektif tanpa kesimpulan sepihak," tegas Noer Rahmi.
Upaya Perlindungan Korban dan Penanganan Hukum
Fakultas memastikan penanganan perkara ini dilakukan secara hati-hati mengingat sensitivitas dampak kekerasan seksual berbasis digital. Identitas para pelapor dan korban dipastikan mendapat perlindungan penuh dari pihak kampus.
Proses investigasi yang dipimpin Satgas PPKPT UB akan menentukan sanksi akademik maupun langkah hukum lanjutan yang perlu ditempuh. Penanganan mengacu pada prinsip keadilan bagi korban serta transparansi prosedur penegakan aturan.
- Pendampingan psikologis berkelanjutan bagi para korban yang mengalami trauma.
- Pembersihan total seluruh salinan data pribadi milik korban dari gawai pelaku.
- Pemberian sanksi akademik tegas sesuai regulasi pencegahan kekerasan seksual di kampus.
Skandal ini menjadi pengingat pentingnya ruang magang yang aman dan bebas dari segala bentuk pelecehan. Publik kini menanti ketegasan Universitas Brawijaya dalam menuntaskan kasus ini hingga tuntas demi memberikan rasa adil bagi seluruh korban.