Cerpen

Surat Cinta di Era Sultan: Kisah Tragis Ditolak karena Saldo GOPAY

Ujang Trisno Ujang Trisno 09 Apr 2026 19:20 55 Views
Surat Cinta di Era Sultan: Kisah Tragis Ditolak karena Saldo GOPAY

Surat Cinta di Era Sultan: Kisah Tragis Ditolak karena Saldo GOPAY

 

Surat Cinta di Era Sultan: Kisah Tragis Ditolak karena Saldo GOPAY

 

Kisah kocak seorang pemuda yang nekat menyatakan cinta pada gebetannya, namun ditolak bukan karena kurang ganteng atau kurang romantis, melainkan karena nominal transferan GOPAY yang dianggap tidak sesuai ekspektasi. Sebuah satire manis tentang standar cinta di era dompet digital yang bikin geleng-geleng kepala.

 

 

Namanya Bagas. Umurnya 24 tahun, bekerja sebagai desainer grafis di sebuah startup kecil di bilangan Jakarta Selatan. Gajinya cukup buat hidup sederhana: bayar kos, beli kopi sachet, dan sesekali healing ke kafe estetik demi konten Instagram. Seperti kebanyakan pemuda seusianya, Bagas sedang kasmaran. Objeknya adalah Mbak Sari, seorang customer service di bank swasta yang setiap hari ia lewati saat pulang kerja.

 

Mbak Sari itu cantik. Senyumnya semanis larutan gula aren di es kopi kekinian. Suaranya lembut, apalagi saat bilang, "Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" Setiap mendengar kalimat itu, Bagas rasanya ingin menjawab, "Hati saya yang kosong ini, Mbak. Bisa dibantu enggak?" Tapi tentu saja ia tidak pernah berani.

 

Hingga suatu malam, setelah bergadang menonton drama Korea dan termakan ilusi bahwa cinta itu harus diperjuangkan, Bagas memutuskan untuk menyatakan cinta. Ia tidak mau sekadar chat "Pagi, sudah makan belum?" seperti lelaki insecure pada umumnya. Ia ingin tampil beda. Ia ingin menjadi pahlawan romantis era digital.

 

"Gue harus bikin surat cinta," gumamnya mantap. "Surat cinta jadul itu effort-nya kelihatan. Pasti dia meleleh."

 

Maka, dimulailah proyek besar itu. Bagas membeli kertas linen mahal, pulpen parker warisan bapaknya, dan mencari contekan puisi di internet. Setelah tiga jam berjuang, jadilah sebuah surat cinta sepanjang dua halaman penuh. Isinya puitis, walau banyak salah ketik. Intinya, ia ingin menjadi "mentari di pagi harinya Mbak Sari" dan "rembulan di malam gelapnya".

 

Tapi ada satu hal yang mengganjal. Di zaman sekarang, cinta saja tidak cukup. Harus ada bukti keseriusan. Terinspirasi dari konten-konten TikTok yang ia tonton, Bagas memutuskan untuk melampirkan sesuatu yang real.

 

"Aku akan transfer GOPAY. Itu kan lebih gentleman daripada sekadar kata-kata," pikirnya.

 

Ia membuka aplikasi dompet digitalnya. Saldo GOPAY-nya saat itu Rp47.500. Itu sisa uang jajan setelah ia membeli paket data dan subscription Spotify premium. Setelah berpikir keras, ia memutuskan untuk mentransfer Rp15.000 ke nomor Mbak Sari yang ia dapatkan secara misterius dari temannya yang kenal satpam bank itu.

 

"Rp15.000 itu simbolis. Kan katanya cinta tidak bisa diukur dengan uang. Lagipula, dia kan kerja di bank, pasti paham soal nilai intrinsik," Bagas membela diri di depan cermin.

 

Keesokan harinya, dengan jantung berdebar kencang, Bagas mendatangi bank tempat Mbak Sari bekerja. Ia membawa amplop cokelat berisi surat cinta dua halaman dan bukti transfer GOPAY senilai Rp15.000. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkannya pada satpam untuk diteruskan ke Mbak Sari.

 

"Tolong sampaikan ke Mbak Sari, Pak. Dari Bagas, calon mentarinya," katanya penuh percaya diri.

 

Dua jam kemudian, ponsel Bagas bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor tidak dikenal.

 

"Halo, Mas Bagas ya? Ini Sari."

 

Bagas nyaris pingsan. Jantungnya copot. Ia membaca pesan itu dengan mata berbinar.

 

"Mas, saya sudah baca suratnya. Bagus banget. Puisinya menyentuh. Saya sampai nangis baca bagian 'rembulan di malam gelap'."

 

Bagas tersenyum lebar. Ini pertanda baik. Tapi kemudian, pesan berikutnya masuk.

 

"Tapi Mas, saya mau tanya serius. Ini transferan GOPAY Rp15.000 maksudnya apa ya? Saya bingung."

 

Bagas buru-buru membalas.

 

"Itu simbolis, Mbak. Tanda keseriusan saya. Kan cinta itu tidak ternilai harganya."

 

Pesan balasan datang cukup lama. Sekitar lima menit Bagas menahan napas. Lalu, centang dua muncul.

 

"Begini ya Mas. Saya menghargai effort-nya. Suratnya saya simpan. Tapi untuk transferannya, Mas sadar enggak sih, di kantor saya ini tiap hari ada nasabah yang transfer nyasar atau salah nominal. Kemarin aja ada yang salah transfer Rp500.000. Saya bantu proses pengembaliannya sampai sore."

 

Bagas membaca dengan kening berkerut. Pesan berlanjut.

 

"Terus tadi pagi, ada cowok delivery martabak yang ngasih saya bunga dan THR mobile banking Rp200.000. Saya tolak, karena bukan tipe saya. Tapi nominalnya setidaknya bikin saya mikir, 'Oh, dia effort'. Nah, Mas Bagas ini ngasih Rp15.000. Itu kan nominal untuk beli es kopi susu gula aren di kafe depan, itupun masih kurang seribu."

 

Bagas mulai berkeringat dingin.

 

"Saya bukan materialistis, Mas. Tapi saya juga realistis. Kalau modal cuma Rp15.000, nanti kencan pertama kita mau makan di mana? Di warung soto ayam take away?"

 

Pesan terakhir masuk. Bunyinya singkat, padat, dan menghancurkan.

 

"Saya doakan Mas Bagas dapat jodoh yang sesuai dengan saldo GOPAY-nya ya. Amin. Have a nice day, calon mentari."

 

Bagas menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Surat cinta dua halaman penuh perjuangan, puisi hasil contekan internet, dan kertas linen mahal, kalah telak oleh nominal transferan Rp15.000. Malam itu, ia memutuskan untuk memblokir akun TikTok yang mengajarinya bahwa cinta tidak bisa diukur dengan uang.

 

Pelajaran yang bisa dipetik: Cinta memang tidak bisa diukur dengan uang. Tapi di zaman serba digital ini, setidaknya jangan sampai saldo dompet digitalmu lebih kecil dari harga seporsi nasi goreng spesial. Kasihan masa depanmu.

 

TAMAT

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

▸ TAG TOPIK

#Cerpen

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner