Jurnalisme Sastrawi

SURAT DARI JOKI JALANAN: Catatan di Balik Layar Aplikasi Hijau, Oranye, dan Sejuta Warna

Ujang Trisno Ujang Trisno 12 Apr 2026 11:41 105 Views
SURAT DARI JOKI JALANAN: Catatan di Balik Layar Aplikasi Hijau, Oranye, dan Sejuta Warna

SURAT DARI JOKI JALANAN: Catatan di Balik Layar Aplikasi Hijau, Oranye, dan Sejuta Warna

SURAT DARI JOKI JALANAN: Catatan di Balik Layar Aplikasi Hijau, Oranye, dan Sejuta Warna

 

Oleh: Seorang Mitra yang Katanya "Fleksibel"

 

---

 

Prolog: Aku, Mitra yang Katanya Bos Sendiri

 

Aku tidak minta dilahirkan di aspal Jakarta yang panas. Tapi begitulah takdir. Dulu, sebelum 2015, aku hanyalah tukang ojek pangkalan biasa. Nongkrong di ujung gang, nunggu penumpang berjam-jam, sambil main catur sama Mang Udin. Hidupku sederhana. Pendapatanku kecil. Tapi setidaknya aku tidak dikejar-kejar bonus harian yang mustahil dan rating bintang lima.

 

Lalu datanglah mereka. Gojek. Grab. Shopee Food. Maxim. inDrive. Aplikasi-aplikasi itu datang seperti pahlawan berkuda putih. Katanya, mereka akan "memberdayakan mitra", "membuka lapangan kerja fleksibel", dan "meningkatkan kesejahteraan" .

 

Aku percaya. Jutaan orang seperti aku juga percaya.

 

Kini, hampir satu dekade kemudian, aku duduk di atas motor bututku—si BeAt hitam bernomor polisi B 1234 XYZ—menatap layar ponsel yang tak kunjung berdering. Orderan sepi. Padahal jam pulang kantor. Padahal Jakarta macet. Padahal hujan baru saja reda.

 

"Krisis ojol," kata warganet di Threads . "Driver pada ke mana?"

 

Aku tersenyum getir. Aku di sini. Selalu di sini. Tapi algoritma tidak memilihku.

 

Inilah kisahku. Kisah tentang bagaimana aku, dan jutaan mitra lainnya, perlahan berubah dari "bos sendiri" menjadi budak algoritma bertopeng kemitraan.

 

---

 

Babak I: Lahirnya Sang Penyelamat—Era 2015-2019

 

Mari mundur sejenak. Era 2015-2017 adalah masa keemasanku.

 

Gojek datang lebih dulu. Si hijau. Waktu itu, bonus melimpah. Satu hari narik bisa dapat Rp300-400 ribu. Bahkan lebih. Aku ingat betul, dulu ada bonus harian: 10 trip dapat Rp50 ribu, 20 trip dapat Rp150 ribu. Setiap Senin, ada bonus jam sibuk: narik jam 7-9 pagi, 5-7 malam, dapat tambahan Rp10 ribu per trip.

 

Aku bisa beli motor baru. Bisa bayar sekolah anak. Bisa nabung buat nikah.

 

Lalu Grab datang. Si oranye. Perang harga dimulai. Promo gila-gilaan. Konsumen senang. Driver makin senang. Trip melimpah. Orderan nggak ada habisnya.

 

"Wah, ini rezeki," pikirku waktu itu. "Ternyata jadi mitra itu enak. Kerja kapan aja, penghasilan lumayan."

 

Pemerintah pun ikut senang. Transportasi online disebut sebagai sharing economy—ekonomi berbagi. Masyarakat yang punya aset (motor) bisa memanfaatkannya untuk mendapat penghasilan tambahan . Konsepnya mulia: berbagi keuntungan.

 

Tapi aku tidak tahu. Di balik senyum manis itu, ada algoritma yang diam-diam sedang belajar. Belajar tentang kebiasaanku. Tentang titik lemahku. Tentang seberapa rendah aku mau dibayar.

 

---

 

Babak II: Pandemi—Sang Penyelamat Berubah Wajah

 

1. Pandemi datang.

 

Kantor-kantor tutup. Orang-orang di rumah saja. Aku ketar-ketir. "Mati kita," pikirku. Tapi ternyata tidak. Justru di sinilah wajah asli sistem ini mulai terlihat.

 

Orderan transportasi penumpang anjlok. Tapi orderan makanan melonjak gila-gilaan. GoFood, GrabFood, Shopee Food. Semua orang pesan dari rumah. Aku berubah dari sopir menjadi kurir makanan. Jasaku tetap dibutuhkan. Bahkan lebih.

 

Tapi ada yang berubah. Tarif mulai turun. Bonus mulai hilang. Promo mulai gila-gilaan.

 

Aku ingat pertama kali melihat notifikasi: "Argo Goceng" —tarif Rp5.000. Jarak berapa pun. Lima ribu perak.

 

"Lima ribu?!" batinku. "Bensin aja habis. Pulsa abis. Kuota abis. Ini mah bukan kerja, tapi amal."

 

Tapi aku tetap ambil. Karena kalau nggak ambil, rating-ku turun. Kalau rating turun, orderan makin sepi. Kalau orderan sepi, aku nggak bisa bayar cicilan motor.

 

Ini jerat yang sempurna. Aku terjebak dalam lingkaran setan: tarif murah, orderan banyak, tapi pendapatan sebenarnya tidak naik. Bahkan turun.

 

Dan tahukah kamu? Promo-promo murah itu bukan ditanggung perusahaan. Bukan. Biaya promosi itu ditanggung oleh aku, si mitra. Perusahaan dapat jumlah order yang fantastis. Konsumen dapat harga murah. Aku? Aku dapat kelelahan dan motor yang makin ringkih .

 

---

 

Babak III: Program Dajjal Bernama "Layanan Hemat"

 

Lalu tibalah era paling gelap dalam sejarah ojol: Program Layanan Hemat.

 

Seorang driver buka suara di Threads—unggahannya viral, dibagikan ribuan kali. Ia menyebutnya "Program Dajjal" .

 

Begini cara kerjanya:

 

Setiap hari, aku disodori pilihan: bayar Rp20.000, atau jadi driver kelas dua. Kalau aku bayar, aku dapat jaminan 10 orderan minimum per hari. Algoritma akan memprioritaskan aku. Orderan-orderan bagus—jarak pendek, tarif tinggi—akan jatuh ke aku.

 

Kalau aku nggak bayar? Aku cuma dapat sisaan. Orderan yang ditolak driver prioritas. Orderan yang jarak jemputnya 5-8 kilometer. Orderan yang tarifnya cuma Rp8.000-10.000 .

 

Bayangkan. Dua puluh ribu per hari. Sebulan Rp600.000. Itu biaya langganan agar aku bisa bekerja. Bukan biaya langganan Netflix atau Spotify. Bukan. Ini biaya agar aku diizinkan mencari nafkah.

 

"Loh, kan bisa milih nggak bayar?" tanyamu.

 

Iya. Aku bisa. Tapi konsekuensinya: pendapatanku turun 80% . Bahkan Garda Indonesia—asosiasi pengemudi—mencatat akumulasi penurunan pendapatan driver yang tidak ikut skema berbayar bisa mencapai 50% sampai 100%. Artinya, bisa nol orderan sama sekali .

 

Ini bukan pilihan. Ini pemaksaan terselubung.

 

Para peneliti menyebut fenomena ini "disguised employment" —hubungan kerja terselubung . Secara hukum, aku mitra. Tapi secara praktik, aku karyawan yang membayar untuk bisa bekerja. Aku tidak punya daya tawar. Aku tidak bisa negosiasi tarif. Aku tidak tahu bagaimana algoritma bekerja. Aku hanya bisa menerima apa pun yang diberikan.

 

Kapitalisme tingkat dewa, kata driver itu. Dan aku setuju.

 

---

 

Babak IV: BHR—Bantuan yang Bikin Geleng-Geleng

 

Maret 2026. Menjelang Lebaran.

 

Pemerintah dengan gagah mengumumkan Bantuan Hari Raya (BHR) untuk pengemudi ojol. Totalnya Rp220 miliar, untuk 850.000 mitra . Beritanya ramai di mana-mana. Menteri Airlangga tersenyum. Menteri Yassierli berpidato. Media memberitakan sebagai "kepedulian pemerintah" .

 

Aku hanya bisa tertawa miris.

 

Mari kita hitung sederhana. Rp220 miliar dibagi 850.000 mitra. Rata-rata Rp258.000 per orang. Itu setahun sekali. Itu pun hanya untuk mitra yang memenuhi syarat performa. Ada yang dapat Rp150.000. Ada yang Rp900.000. Ada yang tidak dapat sama sekali .

 

Sementara itu, setiap hari aku harus membayar Rp20.000 hanya agar algoritma tidak mengabaikanku. Sebulan Rp600.000. Setahun Rp7,2 juta.

 

Jadi, pemerintah memberi aku Rp258.000 setahun sekali, sementara perusahaan mengambil Rp7,2 juta setahun dariku dalam bentuk biaya langganan terselubung. Dan mereka menyebutnya kepedulian?

 

Ini seperti merampok dompetku setiap hari, lalu saat Lebaran datang sambil tersenyum: "Ini THR buatmu, nak."

 

CIPS—lembaga riset kebijakan—menyebut BHR ini belum menyentuh masalah mendasar . Masalah mendasarnya bukan soal THR. Masalah mendasarnya adalah: daya tawar yang rendah, ketimpangan informasi algoritma, tarif yang ditentukan sepihak, dan tidak adanya ruang negosiasi .

 

IDEAS, lembaga riset lain, bahkan menyebut 2026 harus jadi titik balik pembenahan ekosistem ojol. Setelah hampir satu dekade dibiarkan tumbuh tanpa fondasi perlindungan yang memadai .

 

Tapi siapa yang dengar? Menteri sibuk foto bareng CEO aplikator. Aku sibuk antre bensin malam-malam.

 

---

 

Babak V: WFH, BBM, dan Pukulan Beruntun

 

Belum selesai dengan masalah algoritma, datang pukulan baru.

 

Pemerintah mengumumkan WFH satu hari seminggu untuk ASN dan pegawai swasta. Tujuannya mulia: menghemat BBM di tengah krisis energi global .

 

Tapi dampaknya bagiku? Pendapatan turun 30%.

 

Ketua Garda Indonesia, Igun Wicaksono, menjelaskan: mayoritas pengguna ojol adalah karyawan swasta dan ASN. Kalau mereka WFH, aku kehilangan sepertiga pelangganku . Belum lagi potongan aplikasi, biaya akses algoritma, dan tarif promo. Total penurunan pendapatan bisa mencapai 80% .

 

Bersamaan dengan itu, pemerintah juga membatasi pembelian BBM subsidi: maksimal 50 liter per hari . Kelihatannya banyak. Tapi untuk driver yang narik 12 jam sehari? Itu pas-pasan. Belum lagi aku harus antre berjam-jam di SPBU, kehilangan waktu narik, kehilangan orderan.

 

Dan tahu apa yang paling lucu? Ojol masih berpelat hitam. Artinya di mata hukum, aku kendaraan pribadi. Bukan angkutan umum. Jadi aku tidak dapat subsidi BBM seperti bus atau angkutan umum lainnya .

 

Aku angkut penumpang. Aku angkut makanan. Aku angkut barang. Tapi aku bukan angkutan umum.

 

Ini paradoks yang sempurna. Aku cukup penting untuk menyumbang Rp220 miliar ke GDP digital. Tapi aku tidak cukup penting untuk dilindungi undang-undang.

 

---

 

Babak VI: Kisah-Kisah Kecil di Balik Kemudi

 

Tapi jangan kira hidupku cuma soal angka dan statistik. Ada cerita-cerita kecil yang membuatku tetap bertahan. Atau setidaknya, membuatku masih merasa manusia.

 

Seperti sore itu. Hujan deras mengguyur Bandung. Aku dapat orderan aneh: pizza. Tujuan: rumah seorang pemain bola asing. Namanya Layvin Kurzawa, bek Persib, eks PSG .

 

Aku antar pizza itu dengan motor bututku, jas hujan bolong, badan menggigil. Sampai di depan gerbang, aku sudah siap dengan senyum profesional: "Selamat sore, Pak. Pesanan pizza-nya."

 

Tapi yang terjadi di luar dugaan. Kurzawa keluar sendiri. Tidak pakai asisten. Ia tersenyum, menerima pizza, lalu memelukku.

 

Aku terdiam. Lalu tanpa sadar, aku sujud. Di depan pemain bola Eropa. Di depan gerbang rumahnya yang megah. Aku sujud syukur. Bukan karena bertemu artis. Tapi karena hari itu, untuk pertama kalinya dalam minggu-minggu yang berat, seseorang memperlakukanku seperti manusia, bukan mitra .

 

Video itu viral. Warganet terharu. Kurzawa kasih love biru di kolom komentar.

 

Tapi aku bertanya-tanya: kenapa aku harus menunggu pemain bola asing untuk merasa dihargai? Kenapa perusahaan yang setiap hari mengambil 20% komisi dariku tidak pernah memberiku pelukan?

 

Ah, sudahlah. Mungkin pelukan tidak masuk dalam KPI.

 

---

 

Babak VII: Krisis Ojol—Ke Mana Kami Pergi?

 

Belakangan, warganet ramai mengeluh: "Sulit dapat ojol!" .

 

Di Threads, akun @trynnaheal menulis: "Jakarta sedang krisis ojol kah? Susah sekali mendapatkan driver." Diunggah, disukai 1.500 orang, dikomentari ratusan akun .

 

Mau tahu jawabannya?

 

Kami tidak ke mana-mana. Kami tetap di sini. Tapi kami memilih.

 

Karena tarif terlalu rendah, kami memilih orderan yang jarak jemputnya pendek. Karena macet Ramadan, kami memilih orderan jarak jauh dengan tarif tinggi. Karena sistem prioritas, kami yang tidak bayar Rp20.000 hanya dapat sisaan .

 

Jadi ketika kamu menunggu 30 menit untuk driver yang lokasinya cuma 500 meter darimu, itu bukan karena kami malas. Itu karena algoritma memberikan orderanmu ke driver prioritas yang jaraknya 5 kilometer, sementara kami—yang di dekatmu—hanya bisa menatap layar kosong.

 

Ini bukan krisis driver. Ini krisis sistem.

 

---

 

Babak VIII: Perjuangan yang Tak Kunjung Usai

 

Tapi kami tidak diam.

 

Di seluruh Indonesia, serikat-serikat pengemudi mulai bermunculan. Garda Indonesia. Asosiasi Driver Online (ADO). Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI). Mereka mendesak pemerintah untuk mengakui hak kolektif kami .

 

Saat ini, DPR sedang membahas beberapa RUU yang berpotensi menjadi payung hukum: RUU Transportasi Online, RUU Pekerja Lepas, dan revisi RUU Ketenagakerjaan . Ada juga wacana Perpres tentang ojol.

 

Tapi perjuangan ini tidak mudah. Perusahaan aplikator punya pengacara segudang. Pemerintah takut dianggap anti-inovasi. Konsumen maunya murah terus. Dan kami? Kami hanya bisa berharap, berdoa, dan terus narik.

 

IDEAS mengusulkan lima agenda pembenahan strategis :

 

1. Pembenahan data pengemudi yang otoritatif—selama ini jumlah kami pun tidak jelas: ada yang bilang 2,4 juta, ada yang bilang 4,2 juta.

2. Penghentian praktik potongan berlebih dan skema promosi yang merugikan pengemudi.

3. Regulasi kuat yang melindungi pengemudi secara komprehensif.

4. Adopsi prinsip kerja layak (decent work) —pendapatan yang adil, kondisi kerja yang aman, kontrak yang adil.

5. Pengakuan dan perlindungan serikat pekerja.

 

CIPS menambahkan dua rekomendasi mendesak: transparansi algoritma dan mekanisme penyelesaian sengketa .

 

Kedengarannya bagus. Tapi aku sudah terlalu sering mendengar janji. Aku butuh aksi. Bukan sekadar sidang. Bukan sekadar rapat koordinasi. Bukan sekadar foto bareng menteri.

 

---

 

Epilog: Surat untuk Kamu yang Menunggu Orderan

 

Malam ini, aku parkir di bahu jalan Sudirman. Hujan rintik-rintik. Layar ponselku masih kosong. Sudah 45 menit tidak ada orderan.

 

Di kejauhan, kulihat seorang wanita muda mondar-mandir sambil menatap ponselnya. Mungkin dia salah satu dari ribuan warganet yang mengeluh sulit dapat ojol. Mungkin dia menyumpah-nyumpah dalam hati: "Driver pada ke mana, sih?!"

 

Aku ingin teriak padanya: "Aku di sini, Mbak! Tapi aplikasiku tidak berdering!"

 

Tapi aku tidak teriak. Aku hanya diam. Menatap lampu-lampu kota yang gemerlap. Lampu-lampu yang sama yang dulu menyambutku saat pertama kali jadi driver ojol. Kala itu, aku penuh harapan. Kini, aku penuh tanya.

 

Kapan aku akan dianggap manusia, bukan mitra?

 

Kapan sharing economy benar-benar berbagi keuntungan, bukan cuma berbagi risiko?

 

Kapan pemerintah hadir bukan cuma dengan BHR Lebaran, tapi dengan regulasi yang melindungi sepanjang tahun?

 

Aku tidak tahu jawabannya. Tapi aku tahu satu hal: selama masih ada orang yang butuh diantar, selama masih ada perut yang lapar, selama masih ada hujan yang perlu ditembus… aku akan tetap di sini. Di atas motor bututku. Menatap layar ponsel. Menunggu orderan yang entah kapan datang.

 

Karena aku tidak punya pilihan lain.

 

Salam dari bawah jembatan layang,

Si Mitra yang Katanya Bos Sendiri

 

---

 

Catatan redaksi: Kisah ini adalah fiksi berbasis data dan laporan terkini seputar ekosistem ojek online Indonesia per 2026. Semua tokoh dan narasi personal adalah rekaan, namun data tentang BHR, biaya langganan algoritma, dampak WFH, serta rekomendasi kebijakan dari CIPS dan IDEAS adalah nyata dan bersumber dari pemberitaan kredibel. Kritik dalam tulisan ini bukanlah serangan terhadap perusahaan tertentu, melainkan potret sistemik dari ekonomi gig yang perlu dibenahi.

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner