SURAT DARI SEBUAH UNDANGAN YANG TAK KUNJUNG DATANG
Oleh: Seorang yang Katanya "Tinggal Nunggu Giliran"
---
Prolog: Aku, Manusia yang Hidup di Antara Tiga Pertanyaan
Aku tidak minta dilahirkan di budaya yang menganggap hidup sebagai daftar periksa. Tapi begitulah takdirku sebagai orang Indonesia.
Sejak aku bisa mengingat, hidupku selalu diiringi tiga pertanyaan sakral. Tiga pertanyaan yang seolah menjadi kunci surga dalam pergaulan sosial. Tiga pertanyaan yang diucapkan dengan senyum manis, tapi menusuk bagai belati:
"Kapan lulus?"
"Kapan kerja?"
"Kapan nikah?"
Dan setelah menikah, daftarnya berlanjut:
"Kapan punya anak?"
"Kapan nyusul anak kedua?"
"Kapan beli rumah?"
Aku menyebutnya Siklus Tanya Tanpa Henti. Sebuah fenomena sosial yang lebih menular dari COVID, lebih gigih dari debt collector, dan lebih akurat dari jam weker.
Inilah kisahku. Kisah tentang bagaimana aku—dan jutaan orang seusiaku—bertahan hidup di bawah tirani pertanyaan basa-basi.
---
Babak I: "Kapan Lulus?"—Pertanyaan yang Menyambut Sejak Semester Satu
Semuanya dimulai saat aku masuk kuliah.
Hari pertama orientasi, seorang kakak tingkat bertanya ramah: "Jurusan apa, Dek?"
"Teknik Industri, Kak."
"Wah, keren. Kapan lulus?"
Aku terdiam. Aku baru 3 jam jadi mahasiswa. Bahkan jadwal kuliah pun belum kelihatan. Tapi pertanyaan itu sudah meluncur deras, seolah kelulusan adalah sesuatu yang harus direncanakan sejak detik pertama.
Fast forward ke semester 5. Aku pulang kampung naik bus ekonomi 14 jam. Sampai di rumah, belum sempat letakkan tas, bude sudah menyambut di teras:
"Gimana kuliahnya? Semester berapa? Kapan lulus?"
Aku menjawab sebisanya. Tapi di dalam hati, aku ingin berteriak: "Bude, saya bahkan belum tahu besok mau makan apa. Kok ditanya kapan lulus?"
Tapi aku tidak berteriak. Aku hanya tersenyum. Karena begitulah adab orang Timur. Tersenyum di luar, menjerit di dalam.
Lalu tibalah semester akhir. Skripsi. Momok terbesar dalam sejarah pendidikan Indonesia.
Setiap kali pulang kampung, pertanyaannya berevolusi:
"Skripsinya gimana? Kapan sidang? Kapan wisuda?"
Aku mulai menghindari acara keluarga. Trauma. Satu kali Lebaran, aku menghitung: 23 orang bertanya "kapan lulus" dalam waktu 4 jam. Rekor pribadi.
Yang paling menyebalkan: mereka bertanya tanpa benar-benar peduli jawabannya. Buktinya, minggu depan mereka tanya lagi. Bulan depan tanya lagi. Seperti rekaman rusak.
Akhirnya aku lulus juga. 4,5 tahun. Bukan cumlaude, tapi setidaknya hidup.
Pikirku: "Akhirnya selesai. Pertanyaan kapan lulus akan berhenti."
Oh, betapa naifnya aku.
---
Babak II: "Kapan Kerja?"—Babak Baru yang Sama Menyiksanya
Wisuda selesai. Toga dikembalikan. Foto-foto diunggah ke Instagram dengan caption penuh haru: "S.Pd., S.T., S.E., whatever. Akhirnya."
Aku pikir pertanyaan akan berhenti. Ternyata evolusi pertanyaan lebih cepat dari evolusi manusia.
Seminggu setelah wisuda, aku masih di rumah, masih pakai piyama jam 11 siang, masih scroll TikTok. Tiba-tiba paman datang.
"Wah, sarjana sekarang. Kapan kerja?"
Aku tersedak teh manis. Baru seminggu, Pakde. Ijazah saja belum jadi. Fotokopian KTP belum sempat. Tapi pertanyaan itu sudah datang seperti tagihan listrik: bulanan, pasti, dan bikin stres.
Lalu tibalah fase paling gelap dalam hidup pasca-kampus: mencari kerja.
Aku apply 100 lamaran. 50 tidak dibalas. 30 bilang "We regret to inform you..." 15 panggil interview lalu ghosting. 5 panggil sampai final, lalu bilang "Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan proses rekrutmen."
Setiap kali gagal, aku tidak sedih karena gagal. Aku sedih karena harus menjawab pertanyaan yang sama di acara keluarga berikutnya.
"Gimana lamarannya, Nak? Udah dapat kerja?"
"Belum, Om. Masih proses."
"Loh, kenapa? Temennya si A itu lho, langsung kerja di BUMN."
Ah, kalimat pembanding. Senjata pamungkas dalam arsenal basa-basi Indonesia. Selalu ada "anaknya si A" atau "ponakannya si B" yang lebih sukses, lebih cepat, lebih mapan.
Aku mulai belajar menghindar. Kalau ada acara keluarga, aku datang paling akhir, pulang paling awal. Atau lebih baik: tidak datang sama sekali. Alasannya sibuk. Padahal di kosan cuma rebahan sambil makan Indomie.
Enam bulan kemudian, akhirnya aku diterima kerja. Gaji UMR. Jabatan staff. Tapi setidaknya aku bisa menjawab pertanyaan dengan kepala tegak.
Pikirku: "Sekarang pertanyaan akan berhenti. Aku sudah lulus. Sudah kerja."
Oh, betapa naifnya aku. Pertanyaan tidak berhenti. Ia hanya berganti topik.
---
Babak III: "Kapan Nikah?"—The Final Boss
Umur 25 tahun. Punya pacar. Sudah kerja 2 tahun.
Acara keluarga pertama setelah pandemi. Aku datang dengan semangat baru. Kini aku punya jawaban untuk semua pertanyaan.
Lalu bude tersayang mendekat. Senyumnya manis. Tangannya hangat menggenggam tanganku. Matanya berbinar. Lalu ia berbisik, cukup keras untuk didengar seluruh ruangan:
"Kapan nikah, Le?"
BRAK.
Rasanya seperti ditabrak truk. Aku sudah melewati "kapan lulus" dan "kapan kerja". Tapi rupanya ada final boss yang menunggu di level berikutnya. Dan final boss ini tidak bisa dikalahkan dengan ijazah atau slip gaji.
Aku melirik pacarku. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya. Pintar sekali.
"Doakan saja, Bude. Insya Allah tahun depan," jawabku diplomatis.
Tapi bude tidak puas. "Tahun depan itu kapan? Bulan apa? Udah ngincer gedung belum? Jangan lama-lama, Le. Umurmu udah 25. Nanti susah cari jodoh."
Aku ingin menjawab: "Bude, biaya nikah sekarang minimal Rp50 juta. Itu belum termasuk rumah, mobil, dan biaya hidup setelahnya. Saya masih mencicil motor. Tabungan saya cukup untuk beli cincin plastik dan katering nasi kotak. Apa Bude mau bantu?"
Tapi tentu saja aku tidak bilang begitu. Aku hanya tersenyum. Senyum khas korban pertanyaan basa-basi.
Lalu datanglah musim kawin.
Teman-teman seangkatan mulai menikah satu per satu. Setiap minggu ada undangan baru. Setiap bulan ada foto prewedding di Instagram. Setiap Lebaran ada pengumuman kehamilan.
Dan setiap kali aku hadir di pernikahan teman, pertanyaan yang sama menghantuiku:
"Kapan nyusul, Le?"
Aku bahkan pernah didatangi teman SD yang sudah punya dua anak. Ia menepuk pundakku dengan nada bijak: "Ayo dong, Le. Kapan nyusul? Jangan kalah sama aku."
Aku ingin menjawab: "Mas, ini bukan lomba lari. Ini hidup. Kamu duluan nikah bukan berarti kamu menang. Aku belum nikah bukan berarti aku kalah."
Tapi aku hanya tersenyum. Lagi-lagi senyum. Senyum yang semakin lama semakin terasa palsu.
---
Babak IV: "Kapan Punya Anak?"—Pertanyaan yang Tak Pernah Puas
Lalu aku menikah juga. Umur 28 tahun. Pacar lamaku akhirnya jadi istri. Pernikahan sederhana, sesuai tabungan. Undangan terbatas. Syukuran di rumah.
Aku pikir: "Akhirnya. Aku sudah menyelesaikan semua level. Lulus. Kerja. Nikah. Tidak ada lagi pertanyaan yang bisa ditanyakan."
OH, BETAPA NAIFFNYA AKU.
Tiga bulan setelah menikah, di acara arisan keluarga, seorang tante mendekat. Ia melirik perut istriku. Lalu berbisik:
"Udah isi belum, Nduk?"
Istriku tersedak es buah. Aku buru-buru menyelamatkan situasi: "Doakan saja, Tante. Masih pengen berdua dulu."
Tapi tante itu tidak menyerah. "Jangan ditunda-tunda, Le. Nikah itu tujuannya punya anak. Nanti keburu tua. Nanti susah hamil. Nanti anaknya cuma satu, kasihan kesepian."
Wow. Dalam satu tarikan napas, tante itu telah melempar empat ketakutan sekaligus: takut telat hamil, takut susah hamil, takut anak tunggal, dan takut tidak sesuai ekspektasi sosial.
Ini bukan basa-basi. Ini teror psikologis berkedok kepedulian.
Setahun kemudian, alhamdulillah, istriku hamil. Anak pertama lahir. Perempuan. Sehat.
Pikirku: "Sekarang pasti berhenti."
Tiga bulan setelah melahirkan, pertanyaan baru datang: "Kapan nyusul anak kedua?"
ASTAGHFIRULLAH.
Aku bahkan belum sempat menikmati anak pertama. Belum lunas cicilan rumah sakit. Belum bisa tidur nyenyak karena bayi masih suka begadang. Tapi pertanyaan sudah datang lagi, seperti kreditur yang menagih utang.
"Kasihan anaknya sendirian, Le. Nanti manja. Nanti kesepian."
"Ayo dikebut biar deketan umurnya. Biar sekalian capeknya."
"Mumpung masih muda, Le. Nanti kalau tua, tenaganya kurang."
Aku hanya bisa menghela napas. Dalam hati, aku bertanya: Kapan pertanyaan ini akan berakhir?
Jawabannya: tidak akan pernah.
---
Babak V: "Kapan Beli Rumah?"—Ekspansi ke Ranah Properti
Anak pertama sudah bisa jalan. Anak kedua dalam perencanaan. Hidup sudah cukup sibuk.
Tapi pertanyaan terus berevolusi.
"Masih ngontrak, Le?"
"Kapan beli rumah? Harga tanah terus naik lho."
"Udah nyicil KPR belum? Mumpung masih muda, bunganya kecil."
Aku ingin tertawa. Gila. Dulu aku ditanya kapan lulus. Sekarang aku ditanya kapan beli rumah. Padahal gajiku masih pas-pasan untuk bayar susu, popok, listrik, air, internet, dan cicilan motor.
Tapi pertanyaan tidak peduli. Pertanyaan tidak pernah peduli. Pertanyaan hanya ingin mengisi kekosongan obrolan dengan standar sosial yang tidak realistis.
Dan aku? Aku terus tersenyum. Karena begitulah cara bertahan hidup di negeri ini. Senyum di luar, kalkulasi cicilan di dalam.
---
Babak VI: "Kapan Naik Haji?"—Level Tersembunyi yang Tiba-Tiba Muncul
Suatu hari, di usia 35 tahun, aku sudah punya dua anak. Sudah KPR rumah. Sudah punya mobil second. Hidup lumayan stabil.
Aku pikir: "Oke, ini puncak. Tidak ada lagi pertanyaan yang bisa mereka tanyakan."
Lalu Lebaran tiba. Aku pulang kampung dengan percaya diri. Duduk di antara para sepuh. Menikmati ketupat dan opor.
Tiba-tiba, pakde tertua—yang jarang bicara—membuka suara:
"Kapan naik haji, Le?"
Aku nyaris tersedak sambal goreng kentang.
HAJI?! Gila. Aku bahkan belum lunas KPR. Anak-anak masih butuh biaya sekolah. Mobil masih bau second. Tapi pertanyaan sudah loncat ke level spiritual-finansial yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.
"Doakan, Pakde. Masih nabung."
"Jangan kelamaan. Daftar sekarang aja. Nanti waiting list-nya 20 tahun. Mumpung masih muda, kuat fisiknya."
Aku hanya bisa mengangguk. Dalam hati, aku menghitung: biaya haji sekarang Rp50-60 juta per orang. Dikali dua sama istri. Rp120 juta. Itu setara dengan DP rumah kedua atau biaya kuliah anak sampai S1.
Tapi pertanyaan tidak peduli. Pertanyaan hanya ingin menyamaratakan hidup semua orang dalam template yang sama: lahir → sekolah → kuliah → kerja → nikah → punya anak → beli rumah → naik haji → jadi nenek/kakek → meninggal.
Dan celakanya, setiap penyimpangan dari template ini dianggap gagal.
---
Babak VII: Bagaimana Jika Template-nya Berbeda?
Aku punya teman kuliah, sebut saja Dito.
Dito tidak pernah bekerja kantoran. Ia membuka usaha kecil-kecilan: jualan kopi keliling. Pendapatannya tidak besar, tapi cukup. Ia bahagia.
Setiap Lebaran, Dito selalu dihujani pertanyaan: "Kapan kerja beneran? Kapan nikah? Kapan mapan?"
Suatu hari, Dito menjawab dengan tenang: "Saya sudah bekerja. Saya sudah mapan menurut versi saya sendiri. Saya belum nikah karena belum ketemu yang cocok. Ada masalah?"
Keluarganya terdiam. Tidak ada yang berani bertanya lagi.
Dito mengajariku satu hal: pertanyaan basa-basi hanya berkuasa jika kita memberi mereka kuasa.
Tapi aku juga punya teman lain, sebut saja Nina.
Nina tidak ingin menikah. Ia ingin fokus karir dan traveling. Tapi setiap acara keluarga, ia selalu ditanya: "Kapan nikah? Kasihan orang tuamu belum punya mantu. Nanti siapa yang ngurusin kalau udah tua?"
Nina pernah menangis di toilet saat Lebaran. Ia merasa hidupnya tidak valid hanya karena memilih jalan yang berbeda.
Dan aku? Aku di tengah-tengah. Tidak separah Nina, tapi tidak setegar Dito.
---
Babak VIII: Pemberontakan Halus—Saat Aku Mulai Melawan
Tahun ini, usiaku 37. Anak dua. KPR jalan. Kerjaan stabil.
Tapi pertanyaan masih datang. Kali ini untuk anakku:
"Anaknya sekolah di mana? Negeri atau swasta? Udah bisa baca belum? Udah bisa ngaji? Kapan sunat? Kapan les renang?"
Aku lelah. Sangat lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah mental.
Lalu aku memutuskan sesuatu. Sebuah pemberontakan halus.
Saat Lebaran kali ini, bude kesayangan mendekat dengan senyum manisnya.
"Gimana kabarnya, Le? Anakmu..."
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, aku memotong:
"Bude, saya mau cerita. Tahu tidak, kemarin saya lihat burung di pohon mangga. Cantik sekali warnanya. Merah, kuning, biru. Bude pernah lihat?"
Bude bingung. "Eh, burung apa? Maksudmu..."
"Burung itu terbang bebas, Bude. Tidak ada yang tanya kapan dia bikin sarang. Tidak ada yang tanya kapan dia cari makan. Dia cuma hidup. Dan itu sudah cukup."
Bude terdiam. Mungkin tidak mengerti. Mungkin mengerti tapi pura-pura tidak.
Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengalihkan pertanyaan sebelum pertanyaan itu menghancurkanku.
Dan itu terasa... membebaskan.
---
Babak IX: Pertanyaan yang Tidak Pernah Ditanyakan
Di tengah semua kebisingan ini, aku sadar satu hal.
Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan dalam budaya basa-basi kita.
Tidak ada yang bertanya: "Kamu bahagia?"
Tidak ada yang bertanya: "Apa yang sedang kamu perjuangkan?"
Tidak ada yang bertanya: "Apa yang bisa kami bantu?"
Tidak ada yang bertanya: "Bagaimana perasaanmu hari ini?"
Kita sibuk bertanya tentang capaian. Tentang milestones. Tentang checklist kehidupan. Tapi kita lupa bertanya tentang kebahagiaan.
Padahal, bukankah itu yang paling penting?
Apa gunanya lulus cepat kalau mental hancur?
Apa gunanya kerja mapan kalau setiap hari ingin resign?
Apa gunanya nikah muda kalau rumah tangga penuh kekerasan?
Apa gunanya punya anak banyak kalau tidak sanggup membesarkan dengan baik?
Apa gunanya beli rumah kalau isinya hanya pertengkaran?
---
Epilog: Surat untuk Para Penanya
Kepada bude, pakde, om, tante, sepupu, tetangga, dan semua yang pernah bertanya "kapan":
Terima kasih sudah peduli. Sungguh. Aku tahu pertanyaan itu lahir dari budaya gotong royong, dari rasa kekeluargaan, dari keinginan untuk terlibat dalam hidup sesama.
Tapi izinkan aku memberi tahu sesuatu:
Hidupku bukan balapan.
Aku tidak berlomba dengan siapa pun. Tidak dengan teman sekampus. Tidak dengan sepupu. Tidak dengan tetanggamu yang anaknya sudah S2 dan menantunya dokter.
Aku berjalan di jalanku sendiri. Dengan kecepatanku sendiri. Dengan perjuanganku sendiri.
Kadang aku cepat. Kadang lambat. Kadang berhenti untuk istirahat. Kadang mundur untuk menghindari jurang. Semua itu baik-baik saja.
Jadi, lain kali jika kita bertemu, jangan tanya "kapan".
Tanyakan: "Apa kabar?"
Lalu dengarkan jawabannya. Sungguh-sungguh. Tanpa membandingkan. Tanpa menghakimi. Tanpa menyiapkan pertanyaan berikutnya.
Karena mungkin, di balik senyum yang selalu kupasang, ada lelah yang tak terucap. Ada tangis yang ditahan. Ada perjuangan yang tak terlihat.
Dan mungkin, dengan satu pertanyaan yang tulus, kau bisa menjadi tempat berlabuh, bukan sumber tekanan.
Salam dari seseorang yang masih belajar untuk tidak tersinggung,
Si "Belum" yang Sedang Berjuang
---
Catatan redaksi: Kisah ini adalah fiksi yang terinspirasi dari fenomena sosial nyata di Indonesia. Semua tokoh adalah rekaan, namun pengalaman yang digambarkan adalah pengalaman kolektif yang mungkin familiar bagi banyak pembaca. Tidak ada maksud menyinggung budaya atau tradisi—hanya refleksi tentang bagaimana kita bisa lebih peduli tanpa melukai.