JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Survei terbaru Hebrew University of Jerusalem mengungkap hampir dua pertiga warga Israel menolak gencatan senjata dengan Iran. Masyarakat terbelah antara melanjutkan serangan militer atau menghormati jeda konflik dua pekan, sementara dukungan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu turun menjadi 34%.
- Hasil Survei Menunjukkan Penolakan
- Konteks Diplomasi yang Rumit
- Dampak Politik Domestik
- Konflik Paralel di Lebanon
Hasil Survei Menunjukkan Penolakan
Jajak pendapat nasional yang dilakukan 9-10 April 2026 melibatkan 1.312 responden di Israel. Survei ini menjadi yang pertama setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata dengan mediasi Pakistan pekan lalu.
Data menunjukkan 61% responden menolak perluasan gencatan senjata untuk mencakup pertempuran dengan Hizbullah di Lebanon. Sikap ini bertentangan dengan tuntutan utama Iran dalam negosiasi dengan AS.
Pilihan Publik Terpecah
Ketika ditanya mengenai langkah Israel terhadap Iran, hasil survei memperlihatkan perbedaan pendapat yang nyata:
- 41% memilih menghormati gencatan senjata
- 39% menyatakan Israel sebaiknya melanjutkan serangan
- 19% mengaku tidak yakin dengan pilihan terbaik
Tingkat margin of error survei ini berada di angka 3,2 persen. Penelitian dilakukan oleh Agam Labs di Hebrew University dengan metodologi yang ketat.
Konteks Diplomasi yang Rumit
Kesepakatan gencatan senjata AS-Iran pekan lalu tidak diikuti keberhasilan perundingan lanjutan di Islamabad. Upaya lebih luas untuk mengakhiri perang gagal tercapai meski berbagai pihak telah berusaha.
Israel tampak bersiap menghadapi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Para pejabat Israel disebut telah menyimpulkan bahwa musuh-musuh mereka tidak dapat dilenyapkan sepenuhnya.
Persiapan Militer Terus Berlanjut
Militer Israel tetap melakukan operasi di Lebanon meski ada pembicaraan damai. Pengeboman mematikan yang menewaskan warga sipil masih dilaporkan terjadi secara rutin.
Di sisi lain, Hizbullah terus meluncurkan roket ke kota-kota di wilayah utara Israel. Situasi ini menciptakan ketegangan berlapis di kawasan yang sudah rentan.
Dampak Politik Domestik
Persepsi publik terhadap keberhasilan militer Israel di Iran menjadi faktor krusial dalam dinamika politik domestik. Hal ini terutama berdampak pada posisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang akan menghadapi pemilu paling lambat Oktober 2026.
Dukungan Netanyahu Menurun
Survei menunjukkan tingkat dukungan terhadap Netanyahu mengalami penurunan signifikan sejak dimulainya perang dengan Iran. Saat ini hanya 34% warga Israel yang memilihnya sebagai perdana menteri.
Angka ini turun dari 40% pada awal perang. Penurunan dukungan terjadi di tengah situasi keamanan yang belum stabil dan opini publik yang terus berkembang.
Tekanan Politik Meningkat
Temuan survei mencerminkan tekanan politik yang makin besar bagi Netanyahu. Pemerintahannya harus menghadapi tantangan keamanan eksternal sambil menjaga dukungan domestik yang semakin rapuh.
Pemilu yang akan datang menambah kompleksitas situasi politik Israel. Setiap keputusan terkait konflik dengan Iran akan memengaruhi elektabilitas pemimpin yang berkuasa.
Konflik Paralel di Lebanon
Situasi di Lebanon tetap menjadi titik panas terpisah dalam konflik regional. Pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah masih terus berlangsung meski ada pembicaraan damai dengan Iran.
Respons Publik terhadap Konflik Lebanon
Mayoritas responden survei (61%) menilai gencatan senjata tidak seharusnya diperluas untuk mencakup pertempuran dengan Hizbullah. Sikap ini menunjukkan perbedaan persepsi publik terhadap berbagai front konflik.
Masyarakat Israel tampaknya membedakan antara konflik dengan Iran dan pertempuran di Lebanon. Pembedaan ini memengaruhi respons mereka terhadap berbagai proposal perdamaian.
Survei Hebrew University memberikan gambaran kompleks tentang opini publik Israel di tengah konflik berkepanjangan. Data ini menjadi bahan pertimbangan penting bagi pembuat kebijakan di Tel Aviv dan ibukota dunia lainnya yang memantau perkembangan Timur Tengah.