Kondisi di Timur Tengah semakin mencekam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat. Insiden ini terjadi di tengah bulan suci Ramadan dan menyebabkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia.
Iran tak tinggal diam dan langsung membalas serangan tersebut ke Israel serta basis militer AS di wilayah Timur Tengah. Perang ini melibatkan senjata canggih seperti rudal balistik dan drone, dengan AS juga menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari Anthropic.
Teknologi AI dalam Perang
Anthropic merupakan startup AI berbasis San Francisco yang sebelumnya memasok tool AI untuk Kementerian Pertahanan AS (DoD) dalam kontrak senilai US$200 juta pada 2025. Namun, perusahaan ini menegaskan penolakannya terhadap penggunaan AI untuk senjata otomatis atau pengawasan massal.
Meski demikian, Komando Pusat AS di Timur Tengah dilaporkan masih menggunakan perangkat Anthropic untuk penilaian intelijen, identifikasi target, dan simulasi skenario pertempuran. Claude AI buatan Anthropic juga digunakan dalam operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Kontroversi Penggunaan AI
CEO Anthropic, Dario Amodei, menolak tuntutan Pentagon untuk mengizinkan militer menggunakan teknologi AI tanpa batasan. Penolakan ini memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump, yang memerintahkan lembaga federal untuk berhenti menggunakan tool AI dari Anthropic.
Trump menyebut keputusan Anthropic sebagai "kesalahan yang sangat fatal" dan menuduh perusahaan tersebut membahayakan keamanan nasional AS. Ia memberikan waktu enam bulan kepada Pentagon untuk menghapus teknologi Anthropic dari platform militer.
Reaksi dan Konflik Berlanjut
Anthropic berencana menantang keputusan pemerintahan Trump di pengadilan, menjadikannya salah satu dari sedikit perusahaan yang melawan secara langsung pada masa jabatan kedua presiden tersebut. Perusahaan ini menegaskan bahwa penetapan risiko rantai pasokan oleh DoD hanya berlaku untuk kontrak tertentu.
Konflik antara AS dan Iran terus berlanjut dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan. Negara-negara yang terlibat mengandalkan senjata perang canggih untuk melumpuhkan musuh, sementara ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat.
Penggunaan teknologi AI dalam peperangan modern menjadi sorotan utama dalam konflik ini. Diskusi etis tentang batasan penggunaan kecerdasan buatan dalam operasi militer semakin relevan seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat.