Cerpen

TITIP RINDU DI BANGKU TAMAN

Ujang Trisno Ujang Trisno 12 Apr 2026 23:03 83 Views
TITIP RINDU DI BANGKU TAMAN

TITIP RINDU DI BANGKU TAMAN

TITIP RINDU DI BANGKU TAMAN

 

Karya: Seseorang yang Pulang tapi Tak Lagi Dikenali

 

---

 

Hujan baru saja reda ketika Pak Tua itu tiba.

 

Ia berjalan pelan, sangat pelan. Langkahnya tidak lagi tegak seperti dulu. Punggungnya membungkuk, seolah memikul beban yang tidak kasat mata. Tangan kanannya menggenggam erat sebatang kayu—tongkat yang lebih setia dari siapa pun. Tangan kirinya memeluk sebuah kantong plastik kresek hitam, berisi sesuatu yang selalu ia bawa ke mana-mana.

 

Orang-orang di sekitar taman tidak memperhatikannya. Mereka terlalu sibuk dengan ponsel masing-masing, atau dengan anak-anak yang berlarian di atas rumput sintetis. Pak Tua itu hanyalah bayangan di tengah keramaian—hadir, tapi tidak dianggap ada.

 

Ia memilih bangku taman yang paling ujung. Bangku kayu bercat hijau yang sudah mengelupas di sana-sini. Bangku yang sama yang ia duduki tiga puluh tahun lalu, ketika ia masih muda, masih kuat, dan masih punya seseorang untuk dipeluk.

 

---

 

Dulu, bangku ini adalah tempatnya dan Bu Ratna duduk setiap Minggu sore.

 

Mereka bukan pasangan kaya. Gaji Pak Tua—waktu itu masih dipanggil Pak Harun—sebagai guru SD negeri hanya cukup untuk hidup sederhana. Tapi mereka punya ritual yang tidak pernah terlewat: setiap Minggu sore, selepas Bu Ratna selesai memasak, mereka akan berjalan kaki ke taman ini. Duduk di bangku ujung. Menikmati angin sore. Bercerita tentang apa saja.

 

Kadang tentang murid-murid Pak Harun yang nakal. Kadang tentang tanaman cabai Bu Ratna yang mulai berbuah. Kadang tentang mimpi mereka yang sederhana: ingin melihat anak satu-satunya, Raka, tumbuh jadi orang baik.

 

Mereka tidak pernah bicara soal uang. Bukan karena uang tidak penting, tapi karena mereka tahu: kebahagiaan mereka tidak bergantung pada isi dompet. Kebahagiaan mereka ada pada genggaman tangan di bangku taman ini.

 

Bu Ratna selalu membawa bekal: dua potong singkong rebus dan segelas teh manis dalam botol bekas sirup. Sederhana. Tapi Pak Harun tidak pernah merasa kurang. Baginya, singkong rebus Bu Ratna lebih nikmat dari hidangan restoran mana pun.

 

"Makan, Pak," kata Bu Ratna suatu sore, menyodorkan singkong. "Biar kuat sampai tua."

 

Pak Harun tertawa. "Sampai tua? Emangnya saya mau ditinggal?"

 

Bu Ratna tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang kelak akan menghantui Pak Harun selama puluhan tahun.

 

---

 

Raka tumbuh jadi anak yang cerdas. Terlalu cerdas, mungkin.

 

Ia selalu jadi juara kelas. Selalu dapat beasiswa. Selalu jadi kebanggaan sekolah. Pak Harun dan Bu Ratna tidak pernah memaksanya jadi apa-apa. Mereka hanya berpesan: "Jadi orang baik, Nak. Itu saja."

 

Tapi Raka punya mimpi yang lebih besar. Ia ingin keluar dari kota kecil ini. Ingin kuliah di Jakarta. Ingin jadi orang sukses. Ingin membalas jasa orang tuanya dengan cara yang ia pikir paling tepat: uang.

 

"Pak, Bu, Raka mau kuliah di Jakarta. Ada beasiswa. Raka nggak mau nyusahin Bapak Ibu."

 

Bu Ratna menatap suaminya. Ada bangga, tapi juga ada takut di matanya. Pak Harun hanya mengangguk.

 

"Pergilah, Nak. Cari ilmu. Tapi jangan lupa pulang."

 

Raka berangkat. Lima tahun kuliah, ia hanya pulang dua kali. Pertama saat semester tiga, kedua saat wisuda. Setelah itu, Jakarta menelannya bulat-bulat.

 

---

 

Awalnya, Raka rajin menelepon. Seminggu sekali. Kadang dua kali.

 

"Bu, Raka udah dapat kerja di perusahaan bagus."

"Bu, Raka udah punya pacar. Namanya Santi. Nanti Raka kenalin."

"Bu, Raka sibuk banget. Tapi Raka selalu ingat Ibu sama Bapak."

 

Bu Ratna selalu menempelkan gagang telepon ke telinganya erat-erat, seolah ingin menangkap setiap hembusan napas anaknya. Setelah telepon ditutup, ia akan duduk diam di depan rumah, menatap jalan, seolah berharap Raka tiba-tiba muncul di ujung gang.

 

Pak Harun hanya bisa mengelus punggungnya. "Sabar, Bu. Anak kita lagi berjuang."

 

Lalu telepon itu semakin jarang. Dari seminggu sekali jadi sebulan sekali. Dari sebulan sekali jadi tiga bulan sekali. Lalu hanya saat Lebaran. Lalu hanya saat ada kabar penting.

 

Bu Ratna mulai sering sakit kepala. Badannya melemah. Pak Harun membawanya ke puskesmas, lalu ke rumah sakit daerah. Diagnosisnya: tumor. Harus operasi. Biayanya puluhan juta.

 

Pak Harun ingin menelepon Raka. Tapi Bu Ratna melarang.

 

"Jangan, Pak. Kasihan Raka. Dia baru mulai kerja. Jangan dibebani. Nanti dia pulang, terus pekerjaannya terganggu. Ibu nggak mau jadi penghalang."

 

"Tapi, Bu..."

 

"Ibu ikhlas, Pak. Biar Ibu saja yang sakit. Asal Raka bahagia."

 

Pak Harun menangis untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun. Ia menangis di pelukan istrinya yang semakin ringkih. Ia ingin berteriak, ingin memaksa, ingin menelepon Raka saat itu juga. Tapi ia tahu, istrinya lebih keras kepala dari batu.

 

Mereka menjual satu-satunya tanah warisan. Uangnya cukup untuk operasi dan perawatan beberapa bulan. Tapi tumor itu sudah menyebar. Dokter bilang: "Kami sudah berusaha. Tinggal menunggu waktu."

 

Bu Ratna tersenyum mendengar vonis itu. "Alhamdulillah. Ibu bisa istirahat."

 

---

 

Hari itu, Minggu sore. Bu Ratna memaksa keluar dari tempat tidur.

 

"Pak, antar Ibu ke taman."

 

"Tapi kondisi Ibu..."

 

"Antar, Pak. Tolong."

 

Pak Harun memapah istrinya. Mereka berjalan pelan, sangat pelan, menuju taman yang sama. Bangku yang sama. Singkong rebus yang sama.

 

Mereka duduk diam. Angin sore berembus pelan. Burung-burung berkicau di dahan pohon beringin tua.

 

"Pak," suara Bu Ratna nyaris berbisik. "Kalau Ibu udah nggak ada, jangan lupa tetap ke sini ya."

 

Pak Harun menggigit bibirnya. "Jangan ngomong gitu, Bu."

 

"Bawa singkong rebus. Terus duduk di sini. Ibu pasti lihat dari atas."

 

Air mata Pak Harun jatuh. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

 

"Dan satu lagi, Pak." Bu Ratna menatap suaminya dalam-dalam. "Jangan benci Raka. Dia cuma anak yang belum ngerti. Nanti juga dia ngerti. Ibu yakin."

 

Itu adalah kata-kata terakhir Bu Ratna tentang Raka. Tiga hari kemudian, ia meninggal dalam tidurnya. Pak Harun menemukannya pagi hari, dengan senyum yang sama seperti di bangku taman.

 

Raka datang saat pemakaman sudah selesai. Ia menangis histeris di atas gundukan tanah merah. Memeluk nisan ibunya. Meminta maaf berkali-kali.

 

Tapi maaf tidak pernah bisa mengembalikan waktu.

 

---

 

Setahun pertama setelah Bu Ratna tiada, Raka rajin pulang. Sebulan sekali. Kadang dua minggu sekali. Ia membawa uang, membawa makanan, membawa pakaian baru untuk ayahnya.

 

Tapi Pak Harun hanya menerima secukupnya.

 

"Bapak nggak butuh uang, Nak. Bapak cuma butuh..."

 

Ia tidak pernah menyelesaikan kalimat itu. Raka tidak pernah bertanya.

 

Lalu kesibukan Jakarta memanggil lagi. Raka kembali sibuk. Telepon kembali jarang. Kunjungan kembali berkurang. Dari sebulan sekali jadi tiga bulan sekali. Dari tiga bulan sekali jadi setahun sekali.

 

Pak Harun tidak marah. Ia hanya sedih. Setiap kali rindu, ia pergi ke taman. Duduk di bangku ujung. Membawa singkong rebus untuk dua orang.

 

Yang satu ia makan sendiri. Yang satu ia biarkan di sampingnya, seolah Bu Ratna masih di sana.

 

---

 

Hari ini, tiga puluh tahun setelah kepergian Bu Ratna, Pak Harun kembali ke bangku itu.

 

Tubuhnya sudah sangat tua. Matanya mulai rabun. Telinganya mulai tuli. Tapi ingatannya tentang Bu Ratna masih setajam silet.

 

Ia membuka kantong plastik kresek hitam. Mengeluarkan dua potong singkong rebus. Meletakkan satu di sampingnya.

 

"Ini Bu. Singkong rebus kesukaan Ibu."

 

Angin berembus pelan. Daun-daun berguguran. Pak Harun tersenyum. Ia merasa Bu Ratna menjawabnya lewat angin.

 

Tiba-tiba, seseorang duduk di sampingnya. Bukan Bu Ratna. Tapi seorang pemuda dengan wajah yang sangat ia kenali.

 

Raka.

 

Kini usianya sudah hampir lima puluh. Rambutnya mulai memutih. Wajahnya lelah. Matanya sembab.

 

"Pak..." suaranya serak. "Raka pulang."

 

Pak Harun tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke depan, ke arah pohon beringin tua yang sama.

 

"Raka di PHK, Pak. Perusahaan bangkrut. Istri Raka minta cerai. Anak-anak ikut ibunya. Raka nggak punya siapa-siapa lagi."

 

Pak Harun masih diam.

 

"Raka nyesel, Pak. Raka nyesel ninggalin Bapak sama Ibu. Raka nyesel nggak pulang waktu Ibu sakit. Raka nyesel..." Suaranya pecah. Tangisnya meledak.

 

Pak Harun akhirnya menoleh. Matanya yang rabun menatap anaknya. Tangannya yang gemetar terulur, mengusap kepala Raka yang sudah beruban.

 

"Nak," suaranya parau. "Ibu titip pesan. Jangan dibenci kamu. Ibu bilang, kamu cuma anak yang belum ngerti. Sekarang kamu udah ngerti?"

 

Raka mengangguk di antara isaknya. "Ngerti, Pak. Raka ngerti."

 

Pak Harun tersenyum. Senyum yang sama seperti Bu Ratna dulu. Senyum yang penuh maaf, penuh cinta, penuh keikhlasan.

 

"Kalau gitu, makan singkong rebusnya. Ibu yang masak."

 

Raka menatap ayahnya bingung. "Ibu? Masak?"

 

Pak Harun menunjuk singkong di sampingnya. "Iya. Ibu selalu masak buat Bapak. Setiap Minggu. Di bangku ini."

 

Raka menatap singkong itu. Sudah dingin. Sudah keras. Jelas bukan masakan ibunya. Tapi ia tidak membantu. Ia mengambilnya. Menggigitnya pelan. Air matanya jatuh membasahi singkong.

 

"Rasanya sama, Pak. Sama kayak masakan Ibu."

 

Mereka berdua duduk diam di bangku taman. Dua laki-laki dari generasi berbeda, disatukan oleh kehilangan yang sama. Angin sore berembus. Daun-daun berguguran. Di atas sana, di tempat yang tak terjangkau mata, Bu Ratna mungkin sedang tersenyum.

 

Pak Harun menatap langit yang mulai menguning.

 

"Bu, anak kita pulang. Akhirnya dia pulang."

 

---

 

Tiga bulan kemudian, Pak Harun menyusul Bu Ratna.

 

Ia ditemukan di bangku taman yang sama, Minggu sore, dengan sepotong singkong di tangannya. Wajahnya tenang. Matanya terpejam. Senyumnya masih tersisa.

 

Raka menguburkannya di samping makam ibunya. Dua nisan berdampingan, seperti dulu mereka duduk di bangku taman.

 

Setiap Minggu sore, Raka datang ke taman itu. Duduk di bangku ujung. Membawa singkong rebus. Untuk dua orang. Kadang untuk tiga.

 

Dan ia belajar bahwa rindu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat. Dari dada ke bangku taman. Dari bangku taman ke langit sore. Dari langit sore ke singkong rebus yang mulai dingin.

 

---

 

TAMAT.

 

---

 

"Kadang kita terlalu sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa yang paling berharga justru sedang menunggu kita di rumah."

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner