JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersumpah akan membuka Selat Hormuz "dengan cara apa pun" sebagai respons terhadap ancaman Iran yang mengincar pelabuhan-pelabuhan di Uni Emirat Arab. Konflik yang memasuki minggu ketiga ini semakin mengancam stabilitas pasokan minyak global.
Eskalasi Konflik
Pada Sabtu (14 Maret 2026), sebuah rudal menghantam landasan helikopter di kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad. Serangan ini terjadi bersamaan dengan insiden di Fujairah, Uni Emirat Arab, di mana puing-puing drone Iran yang berhasil dicegat menghantam fasilitas minyak.
Api dan kepulan asap terlihat membubung tinggi dari lokasi kejadian. Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Baghdad tersebut.
Kedutaan Besar AS di Irak yang menjadi salah satu fasilitas diplomatik terbesar di dunia ini kerap menjadi sasaran roket dan drone dari milisi yang beraliansi dengan Iran.
Ancaman Iran
Komando militer gabungan Iran secara terbuka mengancam akan menyerang kota-kota di Uni Emirat Arab. Mereka menuding AS menggunakan "pelabuhan, dermaga, dan tempat persembunyian" di UEA untuk melancarkan serangan terhadap Pulau Kharg Iran.
Pelabuhan Jebel Ali di Dubai - yang merupakan pelabuhan tersibuk di Timur Tengah - masuk dalam daftar target. Begitu pula pelabuhan Khalifa di Abu Dhabi dan pelabuhan Fujairah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas energinya. "Jika fasilitas Iran diserang, pasukan kami akan menargetkan fasilitas perusahaan Amerika di kawasan ini," tegasnya melalui siaran televisi negara.
Respons Amerika
Donald Trump merespons dengan klaim bahwa "banyak negara" akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk melindungi pelayaran. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyebutkan China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris sebagai negara yang diharapkan ikut serta.
"Kami akan membombardir habis-habisan garis pantai," ancam Trump. "Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka Selat Hormuz, menjadikannya aman dan bebas."
AS telah mengerahkan 2.500 marinir tambahan dan kapal serang amfibi USS Tripoli ke Timur Tengah. Ini menambah penumpukan kapal perang dan pesawat terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Dampak Regional
Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pasokan minyak dunia kini berada di pusat ketegangan. Sejak awal Maret, 20 kapal komersial termasuk sembilan kapal tanker minyak telah diserang atau mengalami insiden.
Iran hampir sepenuhnya menutup selat tersebut sebagai strategi untuk memberikan tekanan ekonomi global terhadap Amerika Serikat. Namun, mereka memberikan pengecualian untuk beberapa kapal India yang diizinkan melintas.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berusaha meredam kekhawatiran dengan menyatakan pihaknya telah menangani situasi. "Kami telah menanganinya dan tidak perlu khawatir tentang hal itu," katanya kepada wartawan.
Konflik yang dimulai dengan serangan AS-Israel pada 28 Februari ini terus menunjukkan eskalasi. Israel mengumumkan gelombang serangan baru di Iran yang menargetkan infrastruktur, sementara Iran terus meluncurkan serangan rudal dan drone ke Israel dan negara-negara Teluk Arab. Nasib stabilitas kawasan dan pasokan energi global kini bergantung pada langkah-langkah berikutnya dari kedua belah pihak.