JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan serangan udara militer AS terhadap target militer di Pulau Kharg, Iran, pada Jumat (13/3/2026). Pulau tersebut merupakan pusat utama ekspor minyak mentah Iran, dengan Trump mengeluarkan ancaman serius terkait gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Serangan Udara AS
Melalui pernyataan di media sosial, Trump menyebut operasi pemboman oleh Komando Pusat AS sebagai salah yang paling dahsyat di Timur Tengah. Target militer di pulau yang dijuluki "permata mahkota" Iran itu dilaporkan hancur total.
Namun, infrastruktur minyak di Pulau Kharg sengaja tidak diserang. Keputusan ini diambil meskipun AS dan Israel telah lama memantau pulau tersebut dengan cermat.
Ancaman Trump
Trump memberikan peringatan keras kepada Iran. "Saya telah memilih untuk tidak menghancurkan infrastruktur minyak di pulau itu," ujarnya seperti dikutip Agence France-Presse.
"Namun, jika Iran, atau siapa pun, melakukan sesuatu untuk mengganggu jalur pelayaran kapal yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali." Ancaman ini disampaikan Sabtu (14/3/2026).
Dampak Ekonomi
Pulau Kharg menangani sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Data JP Morgan menunjukkan pulau seluas sepertiga Manhattan ini menjadi tulang punggung ekonomi Teheran.
Para ahli memperingatkan serangan terhadap pulau tersebut akan menghentikan sebagian besar ekspor minyak Iran. Dampaknya bisa memicu pembalasan di Selat Hormuz dan infrastruktur energi regional.
Respons Regional
Trump mengumumkan Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan memulihkan ekspor minyak dan mengatasi kenaikan harga gas di AS.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi seperlima minyak mentah dan gas alam cair global. Gangguan di wilayah ini berpotensi mempengaruhi pasar energi dunia.
Pulau Kharg berkembang pesat selama ekspansi minyak Iran tahun 1960-an dan 1970-an. Lokasinya strategis karena kedalaman perairannya mampu menampung kapal tanker besar.
Ketegangan di Timur Tengah terus mempengaruhi stabilitas energi global. Masyarakat internasional memantau perkembangan ini dengan cermat, mengingat dampaknya terhadap ekonomi dunia.