JAVASCORNER.CO.ID, WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ejekan pedas terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam acara pribadi Rabu (1/4). Ejekan yang menyentuh kehidupan rumah tangga Macron ini muncul sebagai bentuk kekecewaan Trump atas penolakan Prancis mendukung operasi militer AS-Israel melawan Iran.
- Latar Belakang Ketegangan
- Ejekan yang Menyentuh Pribadi
- Reaksi dari Prancis
- Dampak Hubungan Bilateral
- Posisi Prancis terhadap Iran
Latar Belakang Ketegangan
Hubungan AS-Prancis yang sempat digembar-gemborkan sebagai persahabatan erat kini retak. Pemicunya adalah perbedaan sikap dalam menanggapi konflik dengan Iran. AS dan Israel telah melancarkan serangan militer, sementara Prancis memilih bersikap hati-hati.
Trump secara terbuka menyatakan kekecewaannya. Dia merasa dikhianati oleh sekutu Eropa yang diharapkan bisa memberikan dukungan penuh.
"Saya menelepon Macron, tapi dia tidak mau membantu kami," ujar Trump dalam kesempatan lain sebelum ejekan personal dilontarkan.
Ejekan yang Menyentuh Pribadi
Dalam acara tertutup Rabu lalu, Trump melangkah lebih jauh. Dia tidak hanya mengkritik kebijakan luar negeri Macron, tetapi juga menyentuh ranah pribadi presiden Prancis tersebut.
"Saya menelepon Prancis, Macron, yang istrinya memperlakukannya dengan sangat buruk. Dia masih dalam masa pemulihan dari pukulan di rahang kanan," kata Trump seperti dilaporkan CNN.
Referensi Video Viral
Ejekan Trump merujuk pada video yang viral tahun 2025. Rekaman itu menunjukkan Brigitte Macron mendorong wajah suaminya di dalam pesawat kepresidenan.
Video tersebut sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial. Namun, istana kepresidenan Prancis menyatakan itu hanya candaan antara suami-istri.
Reaksi dari Prancis
Emmanuel Macron langsung merespons ejekan Trump. Dia menyebut perilaku presiden AS itu tidak elegan dan tidak sesuai standar kepantunan internasional.
"Komunikasi seperti ini tidak pantas dilakukan antara pemimpin negara," tegas Macron dalam konferensi pers Kamis (2/4).
Kritik dari Parlemen
Ketua Majelis Nasional Prancis Yael Braun-Pivet lebih keras lagi. Dia mengecam Trump karena membahas kehidupan pribadi di tengah situasi perang.
"Rakyat kami menderita, ada yang gugur di medan perang. Tapi kita malah mendengar presiden tertawa dan mengejek orang lain," ujarnya.
Sensitifitas Brigitte Macron
Brigitte Macron memang menjadi figur sensitif bagi keluarga presiden. Tahun lalu, pasangan Macron menggugat podcaster AS Candace Owens karena klaim tak berdasar.
Owens menyebut Brigitte sebenarnya seorang pria. Gugatan pencemaran nama baik itu masih berproses di pengadilan.
Dampak Hubungan Bilateral
Insiden ini memperburuk hubungan AS-Prancis yang sudah tegang. Kedua negara memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa isu global:
- Kebijakan terhadap Iran
- Pendekatan dalam konflik Timur Tengah
- Kerja sama militer di kawasan Teluk Persia
- Koordinasi dalam NATO
Riwayat Hubungan Trump-Macron
Trump dan Macron pernah menunjukkan keakraban publik. Mereka berjabat tangan erat dalam beberapa pertemuan bilateral.
Namun, hubungan itu mulai retak ketika kebijakan luar negeri mereka berbeda. Trump menginginkan dukungan penuh, sementara Macron lebih memilih pendekatan diplomatik.
Posisi Prancis terhadap Iran
Prancis mengambil posisi berbeda dengan AS dalam menangani Iran. Meskipun mengerahkan pasukan ke Teluk Persia, mereka menolak langkah-langkah konfrontatif.
Deploymen Militer Terbatas
Prancis telah mengirimkan:
- Jet tempur untuk melindungi sekutu Arab
- Sistem pertahanan udara ke kawasan Teluk
- Aset angkatan laut di lepas pantai Siprus
Penolakan Dukungan Penuh
Namun, Macron menolak permintaan AS untuk:
- Membuka kembali Selat Hormuz dengan kekuatan militer
- Mengizinkan penggunaan pangkalan udara Prancis
- Bergabung dalam serangan langsung ke Iran
Solidaritas Eropa
Prancis tidak sendirian. Spanyol dan Italia juga menolak permintaan AS. Ketiga negara ini bersikap lebih hati-hati dalam menanggapi konflik dengan Iran.
Mereka khawatir eskalasi militer akan memperburuk stabilitas kawasan. Uni Eropa secara umum lebih memilih solusi diplomatik.
Insiden ejekan personal ini menunjukkan betapa rapuhnya hubungan diplomatik di tengah tekanan konflik global. Meskipun Trump dan Macron pernah menjadi sekutu dekat, perbedaan strategis dalam menangani Iran telah menciptakan jurang yang dalam. Para pengamat hubungan internasional kini mempertanyakan masa depan kerja sama AS-Prancis, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan di Timur Tengah. Respons Prancis yang tegas terhadap ejekan Trump mungkin menjadi penanda babak baru dalam dinamika kekuatan global, di mana sekutu tradisional tidak lagi takut bersuara berbeda.