JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan sementara operasi angkatan laut yang bertujuan memandu kapal-kapal melalui Selat Hormuz yang diblokade. Langkah ini diambil setelah Arab Saudi disebut menolak memberikan akses wilayah udara bagi pesawat AS yang terlibat dalam misi tersebut, meskipun Riyadh membantah laporan itu.
- Latar Belakang Proyek Kebebasan
- Reaksi Arab Saudi dan Negara Teluk
- Negosiasi dengan Iran dan Gencatan Senjata
- Dampak Blokade Selat Hormuz
Latar Belakang Proyek Kebebasan
Pada hari Minggu, Trump mengumumkan Proyek Kebebasan, sebuah inisiatif militer untuk membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade oleh Iran sejak perang pecah pada 28 Februari. Blokade Iran telah mencekik sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi global.
Menurut NBC News, Trump menghentikan operasi setelah Arab Saudi memberi tahu bahwa mereka tidak akan mengizinkan pesawat AS menggunakan wilayah udara kerajaan. Namun, sumber Saudi membantah laporan itu dan menyatakan AS masih memiliki akses reguler ke pangkalan dan wilayah udara Saudi.
Reaksi Arab Saudi dan Negara Teluk
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya terkejut dengan pengumuman Trump tentang Proyek Kebebasan. Trump kemudian berbicara dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, tetapi tidak mencapai kesepakatan.
Sumber Saudi menegaskan bahwa kerajaan "sangat mendukung upaya diplomatik" Pakistan yang menjadi mediator antara AS dan Iran. Sementara itu, seorang diplomat Timur Tengah mengakui bahwa AS tidak berkoordinasi dengan Oman sebelum pengumuman, tetapi mereka tidak merasa kesal.
Negosiasi dengan Iran dan Gencatan Senjata
Trump menyatakan pada Selasa bahwa ia menghentikan Proyek Kebebasan karena "kemajuan besar" dalam pembicaraan damai yang dimediasi Pakistan. Perundingan tersebut fokus pada program nuklir Iran dan kendali pascaperang atas Selat Hormuz.
Axios melaporkan bahwa Gedung Putih hampir mencapai nota kesepahaman satu halaman dengan Iran. Kesepakatan itu mencakup moratorium pengayaan uranium Iran, pengiriman stok uranium yang diperkaya ke luar negeri, serta pencabutan sanksi AS dan pembebasan dana beku Iran. Kedua pihak juga akan mencabut pembatasan transit di Selat Hormuz.
Namun, ketegangan masih tinggi. Iran meluncurkan serangan baru ke Uni Emirat Arab dan AS menembaki kapal-kapal Iran setelah operasi angkatan laut AS memicu kekhawatiran perang kembali pecah.
Reaksi Iran
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menjadi negosiator utama, mengejek keputusan Trump. "Operasi Trust Me Bro gagal. Sekarang kembali ke rutinitas dengan Operasi Fauxios," tulisnya di X.
Dampak Blokade Selat Hormuz
Sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, Iran memberlakukan blokade di Selat Hormuz. AS dan Israel melancarkan perang untuk menghancurkan program rudal balistik dan nuklir Iran. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke pangkalan AS di Saudi dan negara Teluk lainnya.
AS juga memberlakukan blokade sendiri terhadap pengiriman terkait Iran pada 13 April, lima hari setelah gencatan senjata. Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April, tetapi situasi tetap rapuh.
Trump, dalam pidato di Georgia, mengatakan perang dengan Iran akan segera berakhir. "Kami tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir. Ini akan segera selesai," ujarnya.
Perkembangan ini menandai babak baru dalam konflik yang telah mengguncang pasar energi global dan stabilitas kawasan Teluk. Dunia kini menanti tanggapan resmi Iran terhadap proposal AS, yang diharapkan dapat membuka jalan menuju perdamaian abadi.