Internasional

Trump Kritik Sekutu, Minta Ambil Minyak dari Selat Hormuz

Ujang Trisno Ujang Trisno 01 Apr 2026 21:16 41 Views
Trump kritik sekutu minta ambil minyak dari Selat Hormuz

Trump kritik sekutu minta ambil minyak dari Selat Hormuz

JAVASCORNER.CO.ID, WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik keras sekutu-sekutu Barat yang dinilai tidak memberikan dukungan memadai dalam konflik dengan Iran. Dalam pernyataan di platform Truth Social, Selasa (31/3/2026), Trump menyebut negara-negara seperti Inggris dan Prancis tidak membantu upaya perang yang telah berlangsung sebulan terakhir.

Konflik ini telah memicu gejolak pasar global, melonjakkan harga energi, dan membuat Iran menutup lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Harga bensin rata-rata di AS bahkan telah melampaui $4 per galon.

Kritik Trump Terhadap Sekutu

Trump secara khusus menyoroti sikap Inggris dan Prancis. "Semua negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar jet karena Selat Hormuz, seperti Inggris Raya yang menolak terlibat dalam upaya mendekapitasi Iran, saya punya saran untuk kalian," tulis Trump.

Presiden AS itu memberikan dua opsi:

  1. Membeli minyak dari AS yang memiliki cadangan melimpah
  2. Membangun keberanian dan pergi ke Selat Hormuz untuk mengambil minyak secara paksa

"Kalian harus mulai belajar bagaimana berjuang untuk diri sendiri. AS tidak akan lagi ada untuk membantu kalian, sama seperti kalian tidak ada untuk kami," tambah Trump. "Bagian yang sulit sudah selesai. Ambil minyak kalian sendiri!"

Masalah Akses Teritorial

Trump juga menyerang Prancis karena tidak mengizinkan pesawat yang membawa pasokan militer ke Israel terbang melintasi wilayah udara Prancis. "Negara Prancis tidak mengizinkan pesawat yang menuju Israel, dimuati dengan pasokan militer, terbang di atas wilayah Prancis," keluhnya.

Prancis sebelumnya menyatakan telah mengizinkan Angkatan Udara AS menggunakan pangkalan Istres di selatan Prancis. Namun, izin itu hanya diberikan dengan jaminan bahwa hanya pesawat yang tidak terlibat dalam serangan yang akan mendarat di sana.

Penolakan Negara Eropa Lain

Beberapa negara Eropa lainnya juga menunjukkan sikap serupa:

  • Spanyol menutup wilayah udaranya untuk pesawat AS yang terlibat konflik
  • Italia menolak izin penggunaan pangkalan udara Sigonella di Sisilia untuk operasi militer AS

Pemerintah Italia kemudian menegaskan bahwa hubungan dengan AS tetap "solid dan berdasarkan kerja sama penuh dan setia."

Respons Pentagon dan Hegseth

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menggemakan sentimen Trump mengenai Selat Hormuz dalam briefing di Pentagon. Hegseth menyayangkan bahwa AS telah melakukan sebagian besar pekerjaan dalam mengurangi ancaman Iran.

"Ada negara-negara di seluruh dunia yang harus siap untuk mengambil peran dalam jalur air kritis ini juga. Bukan hanya Angkatan Laut AS," kata Hegseth. "Dunia harus memperhatikan dan siap untuk berdiri. Presiden Trump telah bersedia melakukan pekerjaan berat atas nama dunia bebas untuk mengatasi ancaman Iran."

Pernyataan Strategis Hegseth

Hegseth mengungkapkan beberapa poin penting:

  • Hari-hari mendatang dalam konflik Timur Tengah akan menjadi penentu
  • Terjadi desersi besar-besaran dari angkatan bersenjata Iran
  • Serangan AS merusak moral militer Iran dan menyebabkan kekurangan personel kunci

"Kami memiliki lebih banyak opsi, dan mereka memiliki lebih sedikit... dalam satu bulan kami menetapkan persyaratan, hari-hari mendatang akan menentukan," tegas Hegseth.

Klaim Perubahan Rezim

Hegseth mengklaim bahwa perubahan rezim secara efektif telah terjadi di Iran, berkat serangan AS-Israel yang menargetkan kepemimpinan negara itu. Meskipun Republik Islam tetap utuh, Hegseth menyatakan rezim baru seharusnya lebih bijaksana daripada sebelumnya.

"Presiden Trump akan membuat kesepakatan. Dia bersedia, dan persyaratan kesepakatan diketahui oleh mereka," ujarnya. "Jika Iran tidak bersedia, maka Departemen Perang AS akan melanjutkan dengan intensitas yang lebih besar."

Perkembangan Situasi Perang

Jenderal Dan Caine, Ketua Staf Gabungan AS, mengungkapkan bahwa pasukan AS telah melaksanakan lebih dari 11.000 serangan terhadap target di Iran. Dalam briefing Pentagon, Caine menyebut AS telah berhasil memulai misi "overland" sorti pembom B-52.

Keberhasilan ini dimungkinkan berkat superioritas udara yang saat ini dimiliki AS atas Iran. "24 jam terakhir mencatat jumlah terendah misil dan drone musuh yang ditembakkan oleh Iran," tambah Hegseth.

Operasi Epic Fury

Hegseth mengunjungi pasukan di Timur Tengah pada Sabtu (28/3) untuk menyaksikan operasi militer terhadap Iran. Kunjungan ini sekaligus memamerkan keberhasilan Operation Epic Fury yang diluncurkan AS.

"Kami memiliki lebih banyak opsi, dan mereka memiliki lebih sedikit... dalam satu bulan kami menetapkan persyaratan," kata Hegseth tentang perkembangan operasi militer.

Aliansi Baru Israel dengan Negara Arab

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan perkembangan penting dalam pertemuan kabinet. Menurut laporan media Ibrani, Netanyahu mengatakan Israel "membentuk aliansi dengan negara-negara Arab yang berbicara tentang bertempur bersama di sisi kami."

"Di masa lalu, saya memiliki percakapan rahasia dengan pemimpin Arab," kata Netanyahu. "Saya memberi tahu mereka, 'Segera setelah Iran bisa, mereka akan menaklukkan kalian dan menggulingkan kerajaan kalian.' Saat itu, mereka tidak benar-benar menginternalisasi hal-hal. Hari ini mereka mengerti."

Permintaan Bantuan dari Negara Teluk

Duta Besar Israel untuk Washington Yechiel Leiter mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk meminta bantuan Israel. "Beberapa sekutu kami telah menjadi sekutu yang lebih besar selama sebulan terakhir," katanya dalam podcast American Enterprise Institute.

Leiter menyebutkan beberapa negara yang semakin dekat dengan Israel:

  • Uni Emirat Arab
  • Bahrain
  • Arab Saudi
  • Oman
  • Kuwait

"Mereka meminta bantuan kami. Jadi kami menjadi lebih dekat, dan akan ada upaya bersama," jelas Leiter tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Pandangan tentang Perubahan Rezim

Leiter menyatakan pandangan berbeda dengan klaim AS tentang perubahan rezim. Menurutnya, Israel "mungkin tidak bisa" mencapai tujuan perang dengan Iran tanpa perubahan rezim.

"Tujuan [perang] adalah memastikan bahwa kami tidak memiliki kekuatan, entitas di Teheran, yang mengembangkan senjata nuklir, mengembangkan senjata pemusnah massal dalam hal misil balistik ini, dan mendukung proxy di seluruh wilayah," jelas Leiter.

Perubahan rezim tidak pernah menjadi salah satu tujuan resmi perang. Meskipun pemimpin Israel menunjukkan keinginan untuk menggulingkan Republik Islam di awal konflik, ketahanan rezim yang tampak telah membuat pesan baru-baru ini lebih fokus pada menurunkan kemampuan militernya.

Konflik antara AS-Israel dengan Iran terus memicu dinamika geopolitik yang kompleks. Sementara Trump menekankan perlunya kontribusi lebih besar dari sekutu, Israel justru membangun jaringan aliansi baru dengan negara-negara Arab yang sebelumnya dianggap tidak mungkin. Perkembangan ini menunjukkan perubahan lanskap politik Timur Tengah yang signifikan, dengan implikasi jangka panjang bagi stabilitas regional dan hubungan internasional.

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

▸ TAG TOPIK

#Donald Trump #Iran #Selat Hormuz #Israel #Perang

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner