JAVASCORNER.CO.ID, WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menarik negaranya dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ancaman itu disampaikan setelah sekutu-sekutu Eropa dinilai gagal mendukung kampanye militer AS-Israel melawan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade.
Ancaman Keluar NATO
Dalam wawancara dengan The Telegraph Rabu (25 Juni 2025), Trump menyebut pertimbangan keluar dari NATO "tidak perlu dipikirkan lagi." Presiden AS itu dengan tegas menyatakan ketidakpuasannya terhadap aliansi militer yang telah berdiri sejak 1949.
"Saya selalu tahu mereka hanyalah macan kertas," ujar Trump. "Putin juga tahu itu." Pernyataan ini mengulangi kritiknya yang kerap disampaikan selama kampanye pemilihan.
Alasan Ketidakpuasan
Trump menilai NATO tidak berkontribusi dalam dua hal penting:
- Kampanye militer bersama melawan Iran
- Upaya membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal tanker minyak
Perang yang telah berlangsung sebulan ini menyebabkan gangguan pasokan energi global dan kenaikan harga komoditas.
Kritik terhadap Sekutu
Trump secara khusus menyoroti peran Amerika dalam konflik Ukraina. Meski menyebut Ukraina "bukan masalah kita," Trump menegaskan AS tetap memberikan dukungan.
"Kita sudah berada di sana secara otomatis, termasuk Ukraina," katanya. "Mereka tidak ada di sana untuk kita."
Serangan ke Inggris
Presiden AS juga melontarkan kritik pedas terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan kemampuan militer Inggris. "Kalian bahkan tidak punya angkatan laut," ujarnya. "Kalian terlalu tua dan memiliki kapal induk yang tidak berfungsi."
Pada hari Selasa, Trump telah menyebut Inggris dan Prancis sebagai negara yang tidak membantu dalam perang. Tuduhan ini muncul dalam konteks ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah.
Respons Inggris
Menanggapi komentar Trump, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer membela NATO. Dalam konferensi pers, Starmer menyebut aliansi itu sebagai "aliansi militer paling efektif yang pernah ada di dunia."
"NATO telah menjaga keamanan kita selama beberapa dekade," tegas Starmer. "Kami sepenuhnya berkomitmen pada NATO."
Rencana Pertemuan
Starmer mengumumkan Inggris akan mengadakan pertemuan sekitar 35 negara minggu ini. Pertemuan itu bertujuan membahas cara membuka kembali Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Yvette Cooper akan memimpin diskusi yang melibatkan negara-negara penandatangan pernyataan bersama tentang Selat Hormuz.
Dampak Perang
Konflik dengan Iran telah menimbulkan konsekuensi signifikan:
- Guncangan pasar global
- Kenaikan harga energi
- Penutupan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz
- Ketegangan diplomatik antar sekutu
Citra satelit terbaru menunjukkan kerusakan di pelabuhan Bandar Abbas, Iran, setelah serangan militer AS awal Maret 2026.
Upaya Diplomasi
Starmer mengakui tantangan yang dihadapi dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz. "Saya harus jujur pada orang-orang tentang ini," katanya. "Ini tidak akan mudah."
Negara Peserta
Pertemuan yang direncanakan Inggris akan melibatkan berbagai negara, termasuk:
- Inggris
- Prancis
- Jerman
- Italia
- Jepang
- Belanda
Negara-negara ini telah menandatangani pernyataan kesiapan berkontribusi menjamin keamanan pelayaran melalui selat strategis tersebut.
Tahapan Lanjutan
Setelah pertemuan diplomatik, Inggris berencana mengumpulkan perencana militer. Tujuannya mengoordinasikan kemampuan untuk membuat Selat Hormuz dapat diakses dan aman setelah pertempuran berakhir.
Ancaman Trump terhadap NATO muncul beberapa jam setelah pernyataan serupa dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Dalam wawancara dengan Fox News, Rubio mengatakan AS "harus mengevaluasi kembali" hubungannya dengan NATO setelah perang melawan Iran berakhir.
Ketegangan antara AS dan sekutu NATO-nya terus meningkat seiring berlanjutnya konflik dengan Iran. Ancaman keluar dari aliansi militer terkuat di dunia ini menandai titik baru dalam hubungan trans-Atlantik yang sudah berlangsung puluhan tahun. Masa depan kerja sama pertahanan Barat kini menghadapi ujian terberat dalam sejarah modern.